“Gerakan Mahasiswa dan Rezim Neolib SBY-Boediono : Sebuah Refleksi”*) 0

Sabtu, 25 Des '10 08:00

 

Pendahuluan


Dalam perjalanan sejarah perjuangan rakyat Indonesia, gerakan mahasiswa selalu memiliki keterkaitan dengan gerakan rakyat. Bukan hanya karena gerakan mahasiswa merupakan salah satu varian dari gerakan rakyat, melainkan peran yang pernah dijalankan gerakan mahasiswa dalam hal ini sangat besar pengaruhnya. Mulai dari perjuangan melawan pemerintah kolonial untuk terlepas dari penindasan secara fisik dan mental serta untuk memiliki teritorial dan kedaulatan yang diakui oleh seluruh negara-negara di dunia, hingga perlawanan terhadap ketidakadilan dan penyalahgunaan kekuasaan oleh rezim berkuasa.

Latar belakang kesejarahan yang memiliki keterkaitan yang erat bukan menjadi satu-satunya alasan bagi mahasiswa untuk tetap berada dalam satu garis perlawanan dengan rakyat ketika menghendaki terjadinya perubahan yang radikal (mengakar) pada tatanan masyarakat dan kondisi sosial yang mengiringinya. Seperti yang sudah disebutkan diatas, gerakan mahasiswa yang hanya merupakan salah satu varian dari gerakan rakyat mengharuskan posisi sosial mahasiswa berada sedekat mungkin dengan rakyat dan mengetahui kondisi objektif rakyat seutuhnya. Sehingga output yang dihasilkan berupa isu dan tuntutan yang dibawa dalam aksi-aksi perlawanan sektor mahasiswa, memiliki keterkaitan dengan hal-hal yang dibutuhkan dan menjadi aspek yang mendasar untuk terciptanya perubahan yang memberikan pengaruh bagi kondisi sosial seluruh lapisan rakyat.

Pada masa sebelum 1945 dalam perjuangan merebut kemerdekaan, mahasiswa (dulu pelajar) berhasil membawa pengaruh bagi rakyat berupa perubahan yang belum pernah dirasakan sebelumnya, yakni terlepas dari penindasan secara fisik dan mental dari pemerintahan kolonial yang menjajah Indonesia. Diawali dengan kesadaran akan posisi sosial mereka yang dibentuk hanya untuk kepentingan reproduksi kapitalis imprealis Hindia Belanda dan tidak akan mampu memberikan perubahan yang signifikan bagi kondisi rakyat, dengan dibekali ilmu pengetahuan dan fasilitas yang dimiliki, para mahasiswa kemudian lebih memilih alternatif turun ke masyarakat untuk membangun basis-basis perlawanan dengan membangun kesadaran bahwa sistem politik yang sedang berjalan jadi sumber penindasan dan ketidakadilan.

Kemudian, otoritarianisme serta liberalisasi ekonomi dan perdagangan yang berlaku pada masa rezim Orde Baru (orba) yang telah menimbulkan penindasan bagi rakyat selama 32 tahun, membuat gerakan mahasiswa kembali memberikan pengaruh yang signifikan bagi kondisi rakyat pada reformasi 1998[1]. Namun, paradigma "aktivisme untuk membangun jaringan dan akses terhadap kekuasaan" yang kental dikalangan mahasiswa sejak awal rezim orba, juga tidak bisa dipisahkan dengan peran mahasiswa dalam sejarah berdirinya rezim tersebut. Baru pada akhir tahun '80an dan awal '90an paradima tersebut dapat dikikis setelah mahasiswa kembali kepada Ibu Kandung-nya yakni rakyat untuk tidak berjuang dari dalam sistem melainkan melawan sistem itu sendiri dengan melakukan advokasi dan aksi-aksi massa bersama dijalan.

Bila berkaca pada sejarah yang ada, kesadaran akan posisi sosial dan kepemilikan paradigma yang radikal berupa perspektif kerakyatan adalah dua hal yang selalu mengantarkan gerakan mahasiswa kapada perubahan yang selalu dicita-citakan rakyat. Namun, pasca reformasi kondisi gerakan mahasiswa seolah tenggelam bersamaan dengan euphoria kebebasan dan demokrasi yang telah dicapainya. Kondisi mahasiswa dikampus-kampus praktis cair ditengah semakin mengentalnya dominasi modal asing dan penindasan yang mengiringinya di Indonesia. Banyak pengaruh yang menyebabkan hal ini terjadi, dimana kesemuanya merupakan bagian dari hegemoni yang diciptakan rezim berkuasa yang mengabdikan diri pada kepentingan modal.

 

Gerakan Mahasiswa dan Rezim Neolib SBY-Boediono


Pasca tumbangnya orde baru dan bergulirnya reformasi, kebebasan dalam segala aspek kehidupan yang dulu sempat dibatas-batasi memiliki ruang yang seluas-luasnya bersamaan dengan proses demokratisasi.[2] Di kalangan mahasiswa sendiri terjadi perubahan cukup mendasar yang sebelumnya sempat sangat dibatasi kebebasannya. Namun, era "kebebasan" ini malah membuat mahasiswa seolah-olah kehilangan peran dan tanggung jawab sebagai kaum termaju dari rakyat. Mahasiswa larut dalam kebebasan yang didengung-dengungkan : menjadi individualis dan terkotak-kotakkan. Tanggung jawab yang diemban berkaiatan dengan posisi sosial yang sesungguhnya hampir hilang. Apatisme tumbuh subur dan terus menjamur dikalangan mahasiswa dan mampu membendung kesadaran akan posisi sosial dan kepemilikan perspektif kerakyatan. Hal ini tentunya jadi penyebab utama mandulnya gerakan mahasiswa.

Dari hasil diskusi dengan mahasiswa dari beberapa kampus di Jakarta, seperti UI, IISIP, UNSADA dan lain-lain, yang kemudian membidani lahirnya Forum Mahasiswa Lintas Kampus (FMLK), ternyata masalah yang dihadapi mahasiswa di berbagai kampus memiliki kesamaan karakteristik dan hampir bersumber dari satu penyebab yang sama. Pertama, masalah menjalarnya virus apatisme seperti yang sudah disebutkan diatas. Kondisi mahasiswa yang praktis cair dan mengalami kekosongan ideologi, membuat hal-hal yang mampu memupuk tumbuh suburnya apatisme mendapatkan ruang yang luas dikalangan mahasiswa. Hedonisme di kalangan mahasiswa pun semakin menguat. Sehingga kegiatan-kegiatan yang berorientasi sosial yang bersentuhan langsung dengan rakyat (advokasi dan aksi); cenderung ditinggalkan. Bahkan, ketidak pedulian dengan kondisi politik baik ditingkatan kampus maupun nasional pun menjadi hal yang umum kita jumpai di kalangan mahasiswa.

Kedua, adalah berkuasanya kelompok-kelompok atau organisasi mahasiswa yang berlandaskan pada fundamentalisme agama di kampus-kampus. Keberhasilan organisasi fundamentalisme agama menduduki lembaga-lembaga formal kemahasiswaan dikampus-kampus (BEM, BPM/Senat, Himpunan Mahasiswa Jurusan) membuat mahasiswa terkotak-kotak, ini karena organisasi tersebut bersifat eksklusif dan membentuk oligarki kekuasaan sendiri yang bernuansa feodalisme (senioritas) yang berhasil mematikan daya kritis mahasiswa. Tidak ada upaya yang dilakukan untuk membangun satu kesatuan pikiran dan tindakan di mahasiswa, bahkan dalam tingkatan isu-isu kampus yang secara langsung merugikan mahasiswa.

Selain itu, berbagai kebijakan, khususnya di tingkat sektoral (pendidikan) yang dihasilkan selama rezim SBY-Boediono berkuasa nyatanya juga telah memberi dampak yang cukup besar bagi gerakan mahasiswa. Komersialisasi pendidikan melalui berbagai kebijakan seperti pemberlakukan Badan Hukum Milik Negara (BHMN) dan Badan Hukum Pendidikan (BHP)[3] membuat biaya kuliah semakin mahal. Mahalnya biaya kuliah tersebut membuat tuntutan normatif mahasiswa seperti agar cepat lulus semakin meningkat. Bahkan, lebih dari itu banyak diantara mereka yang berpola pikir uang yakni menggunakan status mahasiswa untuk mencari profit seperti  bergabung dengan parpol borjuis, atau mengabdi pada senior mereka yang telah lebih dahulu memiliki jabatan di pemerintahan. Dengan sistem perkuliahan yang sekarang ada, mahasiswa dibuat dalam keadaan dilema, absensi kehadiran yang sangat dibatasi (ketidakhadiran maksimal dua sampai tiga kali) membuat mahasiswa mau tidak mau harus mengurung diri dikampus, kegiatan-kegiatan diluar harus dikurangi, dan semakin pintar mahasiswa semakin harus terkurung didalam kampus sebab semkin besar IP semakin banyak beban SKS yang didapatkan.

Penyediaan fasilitas bagi mahasiswa yang sangat dibatasi, seperti penyediaan ruangan untuk diskusi, sangat menghambat kemajuan berfikir bagi mahasiswa. Ilmu-ilmu yang didapat dari luar kelas saat ini tidak dihargai oleh pihak kampus. Selain itu, kurikulum yang mengabdi pada pasar dan kepentingan kapitalisme mematikan  kepekaan terhadap masalah sosial dan  perspektif kerakyatan dikalangan mahasiswa. Berbagai kebijakan tersebut menjadi penyebab apatisme dikalangan mahasiswa, yang berujung pada hampir tidak adanya gerakan mahasiswa yang besar pengaruhnya saat ini. Bila pun ada aksi-aksi perlawanan, biasanya bersifat reaksioner dan tidak memiliki konsepsi yang jelas serta terarah yang dapat menghadirkan perubahan yang mengakar pada tatanan sosial dan kondisi objektif rakyat. Apatisme beserta kelengkapan yang memupuk tumbuh suburnya di mahasiswa menjadi musuh utama yang harus dilawan untuk membangun sebuah gerakan. Namun, terlepas dari hal tersebut, gerakan mahasiswa, khususnya FMLK, masih merespon berbagai kebijakan tersebut melalui berbagai cara dengan mengadakan diskusi di kampus-kampus, termasuk melakukan aksi bersama rakyat.

 

Penutup

 

Seperti yang telah dipaparkan pada bagian sebelumnya, berbagai masalah yang dihadapi oleh gerakan mahasiswa saat ini[4], tentu harus dapat dijawab oleh gerakan mahasiswa. Dan sebagai bagian dari gerakan mahasiswa, FMLK tentu juga bertugas untuk menjawabnya. Berkuasanya rezim neolib SBY-Boediono yang menghasilkan berbagai kebijakan yang menyengsarakan, bukan hanya pada sektor mahasiswa, tapi juga sektor-sektor rakyat lainnya, seperti buruh, tani, dan lain-lain, tentu menjadi akar masalah saat ini. Sehingga dengan demikian, tuntutan perubahan harus selalu ditujukan kepada hal tersebut. Gerakan mahasiswa harus dapat membangun gerakannya berdasarkan kondisi objektif yang ada tersebut dan seiring dengan hegemoni rezim yang terus berjalan, kesadaran rakyat atas penindasan yang ada saat ini pun harus terus ditumbuhkan. Sehingga tuntutan perubahan yang utama dari keadaan yang sedemikian menyengsarakan ini adalah bahwa rezim neolib SBY-Boediono yang saat ini berkuasa harus segera diganti dengan rezim dan sistem politik yang lebih memanusiakan manusia. Sistem yang menghapus eksploitasi manusia atas manusia lainnya, sistem yang dapat mewujudkan kesejahteraan rakyat. Dimana sistem seperti itu tentu hanya dapat diwujudkan ketika rakyat tertindas, buruh, tani, perempuan, kaum miskin kota, sendirilah yang berada di tampuk kekuasaan. Dengan demikian, adalah juga menjadi tugas dari gerakan mahasiwa untuk membawa rakyat berkuasa.

 

"Hanya jika rakyat pekerja yang duduk di tampuk kekuasaan negara lah, maka segala kebijakan negara akan memihak pada rakyat pekerja."

 

 Senin, 20 Desember 2010.

 

-end-

 

 

 


*) oleh : Forum Mahasiswa Lintas Kampus - FMLK (KMUI, FORMASI IISIP, ERASMUS UNSADA).

[1]Terlepas dari kesalahan-kesalahan yang terjadi dan kondisi yang dialami rakyat kekinian.

[2] Meski hal tersebut tidak sepenuhnya terjadi. Terbukti dengan berbagai kebijakan yang menghambat partisipasi politik rakyat.

[3] Meski telah digugurkan oleh keputusan MK, namun tetap dilaksanakan.

[4] Yang tidak terlepas dari berbagai kebijakan yang diberlakukan oleh rezim neolib SBY-Boediono yang berkuasa saat ini.

 


Tag: Kapitalisme, Mahasiswa, Rakyat, Gerakan, neoliberalisme, Perlawanan

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Silahkan login untuk memberikan pendapat