Catatan Singkat Akhir Tahun, Gerakan Mahasiswa di Jakarta. 2

Jumat, 24 Des '10 23:32

Gerakan Mahasiswa dan Gerakan Rakyat, Singkat Saja

Bicara tentang gerakan rakyat, selalu memiliki keterkaitan dan hampir tidak bisa dipisahkan dari gerakan mahasiswa dalam perjalanan sejarah perjuangan rakyat Indonesia. Bukan hanya karena gerakan mahasiswa merupakan salah satu varian dari gerakan rakyat, melainkan peran yang pernah dijalankan mahasiswa dalam hal ini sangat besar pengaruhnya. Mulai dari perjuangan melawan pemerintah kolonial untuk terlepas dari penindasan secara fisik dan mental serta untuk memiliki territorial dan kedaulatan yang diakui oleh seluruh negara-negara di dunia, hingga perlawanan terhadap ketidakadilan dan penyalahgunaan kekuasaan oleh rezim berkuasa.

Latar belakang kesejarahan yang memiliki keterikatan yang erat bukan menjadi satu-satunya alasan bagi mahasiswa untuk tetap berada satu garis perlawanan dengan rakyat ketika menghendaki terjadinya perubahan yang radikal (mengakar) pada tatanan masyarakat dan kondisi sosial yang mengiringinya, seperti yang sudah disebutkan diatas, gerakan mahasiswa yang hanya merupakan salah satu varian dari gerakan rakyat mengharuskan posisi sosial mahasiswa berada sedekat mungkin dengan rakyat dan mengetahui kondisi objektif rakyat seutuhnya. Sehingga output yang dihasilkan berupa isu dan tuntutan yang dibawa dalam aksi-aksi perlawanan sektor mahasiswa, memiliki keterkaitan dengan hal-hal yang dibutuhkan dan menjadi aspek yang mendasar untuk terciptanya perubahan yang memberikan pengaruh bagi kondisi sosial seluruh lapisan rakyat.

Pada masa pra ‘45 dalam perjuangan merebut kemerdekaan, mahasiswa berhasil membawa pengaruh bagi rakyat berupa perubahan yang belum pernah dirasakan sebelumnya, yakni terlepas dari penindasan secara fisik dan mental dari pemerintahan kolonial yang menjajah Indonesia. Diawali dengan kesadaran akan posisi sosial mereka yang dibentuk hanya untuk kepentingan reproduksi kapitalis imprealis Hindia Belanda dan tidak akan mampu memberikan perubahan yang signifikan bagi kondisi rakyat, dengan dibekali ilmu pengetahuan dan fasilitas yang dimiliki, mahasiswa-mahasiswa (dulu pelajar) kemudian lebih memilih alternatif turun ke masyarakat untuk membangun basis-basis perlawanan dengan membangun kesadaran bahwa sistem politik yang sedang berjalan jadi sumber penindasan dan ketidakadilan.

Kemudian gerakan mahasiswa kembali memberikan pengaruh yang signifikan bagi kondisi rakyat pada reformasi 1998, terlepas dari kesalahan-kesalahan yang terjadi dan kondisi yang dialami rakyat kekinian. Sikap otoriter serta liberalisasi ekonomi dan perdagangan menjadi sumber penderitaan sejak awal berkuasanya rezim orde baru dibawah pimpinan jendral besar Soeharto. Penindasan yang dialami rakyat selama 32 tahun tidak terlepas dari peran mahasiswa sebagai kaum yang memilki kesadaran setingkat lebih maju disbanding sektor yang lainnya. Paradigma "aktivisme untuk membangun jaringan dan akses terhadap kekuasaan" yang kental dikalangan mahasiswa sejak awal rezim orba, yang juga tidak bisa dipisahkan dengan peran mahasiswa dalam sejarah berdirinya rezim tersebut. Baru pada akhir tahun ‘80an dan awal ‘90an paradima tersebut dapat dikikis setelah mahasiswa kembali kepada Ibu Kandung-nya yakni rakyat untuk tidak berjuang dari dalam sistem melainkan melawan sistem itu sendiri dengan melakukan advokasi dan aksi-aksi massa bersama dijalan.

Bila berkaca pada sejarah yang ada, kesadaran akan posisi sosial dan kepemilikan paradigma yang radikal berupa perspektif kerakyatan adalah dua hal yang selalu mengantarkan gerakan mahasiswa kapada perubahan yang selalu dicita-citakan rakyat. Namun, pasca reformasi kondisi gerakan mahasiswa seolah tenggelam bersamaan dengan euphoria kebebasan dan demokrasi yang telah dicapainya. Kondisi mahasiswa dikampus-kampus praktis cair ditengah semakin mengentalnya dominasi modal asing dan penindasan yang mengiringinya di Indonesia. Banyak pengaruh yang menyebabkan hal ini terjadi, bila disimpulkan ada pengaruh yang berasal dari internal dan eksternal bagi mandulnya gerakan mahasiswa kekinian, yang kesemuanya merupakan bagian dari hegemoni yang diciptakan rezim berkuasa yang mengabdikan diri pada kepentingan modal.

 

Apatisme Membendung Kesadaran.

Pasca tumbangnya orde baru dan bergulirnya reformasi, kebebasan dalam segala aspek kehidupan yang dulu sempat dibatas-batasi memiliki ruang yang seluas-luasnya bersamaan dengan proses demokratisasi. Di rakyat sendiri kebebasan berpendapat dan memiliki pandangan politik jadi hal paling kentara dalam perubahan yang dialami.

Dikalangan mahasiswa sendiri terjadi perubahan cukup mendasar yang sebelumnya sempat sangat dibatasi kebebasannya. Pasca reformasi, segala hal menjadi sangat mudah diakses dan dimiliki karena demokratisasi dimaksudkan untuk kembali menjunjung tinggi hak-hak masyarakat, dalam hal pendidikan dan kaitannya dengan mahasiswa pelarangan beredarnya buku-buku mulai dicabut dan pembatasan kegiatan-kegiatan mahasiswa mulai ditiadakan. Namun era kebebasan ini membuat mahasiswa seolah-olah kehilangan peran dan tanggung jawab sebagai kaum termaju dari rakyat. Mahasiswa larut dalam kebebasan yang didengung-dengungkan, jadi individualis dan terkotak-kotakan. Tanggung jawab yang diemban berkaiatan dengan posisi sosial yang sesungguhnya hampir hilang bersamaan dengan larut dalam menikmati kebebasan yang berkepanjangan, dan dengan segala alat serta kelengkapan untuk proses pembangunnya, Apatisme tumbuh subur dan terus menjamur dikalangan mahasiswa dan mampu membendung kesadaran akan posisi sosial dan kepemilikan perspektif kerakyatan. Hal ini tentunya jadi penyebab utama mandulnya gerakan mahasiswa.

Dari hasil diskusi dengan mahasiswa dari beberapa kampus di Jakarta yang kemudian membidani lahirnya Forum Mahasiswa Lintas Kampus (FMLK), ternyata masalah yang dihadapi kami memiliki kesamaan karakteristik dan hampir bersumber dari satu penyebab yang sama. Pertama, masalah menjalarnya virus apatisme seperti yang sudah disebutkan tadi diatas. Kondisi mahasiswa yang praktis cair dan mengalami kekosongan ideologi, membuat hal-hal yang mampu memupuk tumbuh suburnya apatisme mendapatkan ruang yang luas seluas-luasnya dikalangan mahasiswa. Masuknya budaya pop yang berasal dari barat bersamaan dengan bebasnya arus informasi yang tidak mampu dibendung lagi, jadi salah satu penyebab utama. Mahasiswa jadi berprilaku hedonisme, memuja statusnya sebagai mahasiswa dengan kegiatan hura-hura (nonton, karaoke, nongkrong di mall, dan membuat kegiatan yang hanya mendatangkan kesenangan semata); jadi idividualis dan menutup diri dengan lingkungan sosialnya (lebih memilih menikmati fasilitas yang diberikan oleh kemajuan zaman saat ini seperti menggunakan facebook dibanding interaksi dengan lingkungan sosialnya); menarik diri dari kegiatan-kegiatan yang berorientasi sosial yang bersentuhan langsung dengan rakyat (advokasi dan aksi); dan bahkan tidak peduli dengan kondisi politik baik ditingkatan kampus maupun nasional. Masuknya budaya tersebut berhasil menggeser budaya lokal mahasiswa yang mendasarkan kegiatannya pada tradisi dan pola pikir ilmiah seperti diskusi-diskusi misalnya.

Kedua, berkuasanya kelompok-kelompok atau organisasi mahasiswa fundamentalisme agama di kampus-kampus. Keberhasilan organisasi fundamentalisme agama menduduki lembaga-lembaga formal kemahasiswaan dikampus-kampus (BEM, BPM/Senat, Himpunan Mahasiswa Jurusan) membuat mahasiswa terkotak-kotak, ini karena organisasi tersebut bersifat eksklusif dan membentuk oligarki kekuasaan sendiri yang bernuansa feodalisme (senioritas) yang berhasil mematikan daya kritis mahasiswa. Tidak ada upaya yang dilakukan untuk membangun satu kesatuan pikiran dan tindakan di mahasiswa, bahkan dalam tingkatan isu-isu kampus yang secara langsung merugikan mahasiswa. Kemudian kegiatan-kegiatan seperti diskusi (khususnya yang mengangkat tema-tema sosial dan kritik terhadap kebijakan pemerintah yang pro kapitaslisme) hampir tiada, ini seharusnya jadi tanggung jawab lembaga formal kemahasiswaan ditiap-tiap kampus, hal ini tidak perlu terjadi bila saja mereka masih menggunakan tesis umum tentang peran mahasiswa sebagai agent of change yang sering didapat dari mata kuliah. Hal ini menggambarkan betapa dan akan terus teralienasi-nya mahasiswa dari peran dan tanggung jawab sosialnya sebagai bagian dari rakyat yang terus mengalami penindasan.

Terlepas dari dua hal tersebut diatas, kampus juga berperan dalam membuat mahasiswa cenderung bersikap apatis. (1) Mahalnya biaya kuliah membuat mahasiswa dituntut orang tuanya untuk cepat lulus, lebih dari itu banyak diantara mereka yang berpola pikir uang yakni menggunakan status mahasiswa untuk mencari profit seperti bergabung dengan parpol borjuis, atau mengabdi pada senior mereka yang telah lebih dahulu memiliki jabatan di pemerintahan. (2) Dengan sistem perkuliahan yang sekarang ada, mahasiswa dibuat dalam keadaan dilema, absensi kehadiran yang sangat dibatasi (ketidakhadiran maksimal dua sampai tiga kali) membuat mahasiswa mau tidak mau harus mengurung diri dikampus, kegiatan-kegiatan diluar harus dikurangi, dan semakin pintar mahasiswa semakin harus terkurung didalam kampus sebab semkin besar IP semakin banyak beban sks yang didapatkan. (3) Penyediaan fasilitas bagi mahasiswa yang sangat dibatasi, seperti penyediaan ruangan untuk diskusi, hal ini menghambat kemajuan berfikir bagi mahasiswa. Ilmu-ilmu yang didapat dari luar kelas saat ini tidak dihargai oleh pihak kampus. (4) Kurikulum yang mengabdi pada pasar dan kepentingan kapitalisme mematikan kepekaan terhadap masalah sosial dan perspektif kerakyatan dikalangan mahasiswa.

Faktor-faktor Internal tersebut diatas menjadi penyebab apatisme dikalangan mahasiswa, yang berujung pada hampir tidak adanya gerakan mahasiswa yang besar pengaruhnya saat ini. Bila pun ada aksi-aksi perlawanan, biasanya bersifat reaksioner dan tidak memiliki konsepsi yang jelas serta terarah yang dapat menghadirkan perubahan yang mengakar pada tatanan sosial dan kondisi objektif rakyat. Apatisme beserta kelengkapan yang memupuk tumbuh suburnya di mahasiswa menjadi musuh utama yang harus dilawan untuk membangun sebuah gerakan.

 

Problem Gerakan Mahasiswa

Selain faktor internal yang mematikan gerakan mahasiswa saat ini, juga terdapat faktor eksternal yang menjadi penyebab hal ini terjadi. Hegemoni yang dibangun seluruh bangunan struktur sistem kekuasaan yang berkuasa saat ini berhasil melumpuhkan sendi-sendi gerakan mahasiswa, bahkan hingga soal perkawanan yang merupakan modal dasar dalam berorganisasi. Sementara itu, adanya organisasi-organisasi mahasiswa yang bersifat eksklusif (tidak mau bergabung dengan sektor lain bahkan dengan sesama mahasiswa sendiri) juga semakin mempersulit terciptanya kesatuan pikiran dan tindakan di mahasiswa.

Belakangan ini, seringnya terjadi aksi-aksi mahasiswa yang berakhir dengan bentrokan dan kerusuhan, sadar atau tidak sadar malah menutupi isu-isu yang seharusnya naik ke permukaan (membunuh gerakan dengan gerakan). Pemberitaan media yang mengekspos sisi anarkisme berhasil menenggelamkan tuntutan-tuntutan atau kabar tentang rezim berkuasa yang terus melanggengkan ketidakadilan. Di bebrapa situs-situs berita dan situs download-upload video yang memuat bentrokan dan kerusuhan mahasiswa, banyak masyarakat yang justru menyalahkan dan menjadi antipati terhadap gerakan mahasiswa dalam komentar-komentarnya. Terlepas dari ada atau tidak adanya pihak-pihak yang menginginkan hal ini terjadi, hal ini semestinya sudah disadari oleh mahasiswa, karena selain hanya menenggelamkan isu dan hanya bersifat taktis semata, rakyat sendiri tidak mendapatkan hasil berupa perubahan yang signifikan dari hal tersebut.

Saat ini kondisi gerakan mahasiswa (yang berperspektif kerakyatan) bisa dikatakan berada pada titik nol dengan tingkatan yang lebih baru, hasil dialetika negasi dari negasi. Bila melihat landasan historis yang ada, gerakan mahasiswa yang berhasil membawa pengaruh perubahan yang signifikan pada tatanan sosial dan kondisi objektif rakyat adalah gerakan mahasiswa yang meleburkan diri kedalam gerakan rakyat. Proses-proses menuju hal tersebut tidak boleh dilewati, pembangunan kesadaran yang bertahap (kesadaran ekonomis, sampai minimal kesadaran solidaritas sosial) harus dilalui, agar tidak terjadinya kontradiksi antara kebutuhan dan tuntutan rakyat dengan apa yang diperjuangkan gerakan mahasiswa.

Namun kondisi mahasiswa sendiri yang masih terkotak-kotak dan bahkan apatis terhadap masalah sosial saat ini, mengharuskan sektor ini serius dan melakukan kerja tekun dalam proses pengorganisiran. Apatisme terjadi karena adanya kekosongan ideologi yang berperspektif kerakyatan dikalangan mahasiswa. Maka budaya-budaya yang mendukung tumbuhnya apatisme harus dilawan dengan budaya-budaya yang mendukung tumbuhnya kepekaan terhadap masalah sosial dan tumbuhnya perspektif kerakyatan. Diskusi jadi cara terbuka untuk propaganda dan memberi perspektif lain dari hegemoni yang dibangun oleh bangunan struktur sistem berkuasa, kemudian pendidikan politik jadi sarana penyebaran ideologi bagi mereka yang telah secara serius menunjukan kemauan dan kualitas dasarnya untuk membangun gerakan.

Basis material yang ada saat ini, menunjukan sektor mahasiswa masih ada dalam kondisi yang belum siap untuk menjadi motor pembangun kesadaran rakyat, maka pembasisan dengan kerja-kerja pengorganisisran yang tekun harus terus dilakukan. Mengingat saat ini kendala yang dihadapi berupa faktor internal dan eksternal (seperti yang dijelaskan diatas) sangat banyak dan begitu berat.


Tag: Neo-liberalisme, Kapitalisme, Mahasiswa, Rakyat, Gerakan, Perlawanan

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

imelda 0 0
ada temen ku minta dikirim k emailnya. gmn??
thanks
Rizki 0 0
Dilema, di satu sisi kita mengikuti alur birokrasi alias sesuai sistem -dengan mengharap adanya keterbukaan dari yang ATAS lewat jalur diplomasi dan forum terbuka- tapi yang ada malah kita diredam habis-habisan,
di sisi lain kita mendobrak sistem dengan aksi massa yang dikemas cantik tapi yang ada malah kita dibilang kampungan, anarkis dll.
Apa memang tidak mau menerima kritik dari mahasiswa, atau karena kita -mahasiswa- masih dianggap kurang pintar dan cukup hanya kuliah yang rajin. : ((

Silahkan login untuk memberikan pendapat