Cuaca Berkulit Gelap itu RINDU 3
Minggu, 19 Des '10 23:07
Seperti biasa, aku pasti terbangun kala mentari masih terlelap di pangkuan awan gelap. Suara gemercik air hujan perlahan terdengar semakin jelas seiring bertambahnya keheningan malam. Masih dengan posisi tubuh terlentang di atas kasur, tanganku menggerayangi sekitar. Ponsel, aku mencari poselku. Sambil perlahan menyandarkan punggung ke sisi kasur, aku membaca beberapa pesan pendek yang masuk. Satu persatu kubaca, masih berisi pesan yang sama seperti kemarin. Sekedar ucapan selamat hari raya dan sedikit permohonan maaf.
Dahiku sedikit mengombak. Aku merasakan hal aneh yang tersentak dari sela hati. Keringat lokal di sekitar tangan dan kaki terasa dingin bersama kedatangan angin dari bilik ventilasi kamar. Ternyata masih ada satu pesan pendek lain, tapi bukan terletak di kotak masuk. Hanya beberapa kata yang bersembunyi dalam folder draft.
"brzn aq mmpir bntar, tp g' tega bngunin qm.. stelah ni aq ke wrnet.. jam 0 nnti aq krm smthing k imel qm.. miss u"
Setelah membaca beberapa kalimat, aku segera menyambar sepeda motor plat merah milik kantor ayah. Malam itu kubelah dinginnya malam tanpa memakai amunisi perang bernama jaket. Maklumlah matahari siang tadi sedang ramah sehingga tidak mampu mengeringkan jaket yang masih dieksekusi di tiang jemuran. Terpaksa sang jaket harus memperpanjang hukuman pancungnya.
Aku menyisir bilik-bilik warnet mencari tempat strategis. Kutemukan sebuah bilik kosong di barisan paling pojok. Seperti biasa aku masih senang memakai nama aku "rebelliouz" sebelum berjumpa ribuan manusia di balik dunia maya. Asbak terlihat penuh abu dan beberapa putung rokok kretek. Memang pemilik warnet ini lebih gemar mencari profit daripada kepuasan konsumen. Setidaknya asbak yang penuh itu merepresantisakan diriku yang penuh kerinduan. Pertanda jutaan api penyiksa yang selalu meninggalkan sedikit kegelisahan. Di saat aku mencoba menghindar ataupun berlari dari kenyataan, berharap semua rasa itu akan hangus tanpa abu. Ternyata kau memang mudah hancur, tapi menyisakkan remahan dalam pikiranku. Sudahlah aku mulai bosan menyamakan hidupku dengan asbak, abu, putung rokok, dan api itu.
Aku bergegas membuka email. Ada ratusan pesan, sebagian belum terbaca, termasuk sebuah pesan dari alamat yang familiar.
***
20/02/06
Banyak hal yang mau aku obrolin ke kamu. Yaa, selain sedikit mengendorkan urat-urat saraf rinduku. Tau sendiri kan, aku tidak punya potret separuh tubuhmu. Semua itu berawal dari kamu yang selalu siap untuk tidak terkenal. Ketika aku mencoba berjanji untuk menjadikan fotomu sebagai konsumsi pribadi, kau malah mengelak dan berharap tidak menambah tumpukan kerinduan.
Entah mengapa belakangan ini bayangmu selalu melintas di tiap lamunanku. Tanpa permisi ataupun membuat janji terlebih dahulu. Tapi entah mengapa aku selalu menikmati lamunan itu, dan takkan rela siapapun mengusir kehadiranmu dalam anganku. Sampai tingkah anehku mengundang protes beberapa teman dekatku.
Mungkin dari sini kamu masih bisa menebak sifatku yang tak bergeser sedikitpun dari beberapa tahun yang lalu. Seperti kata yang pernah kauselipkan di sela pertemuan kita, "aku selalu memimpikan gadis kecil yang jiwanya terperangkap dalam tubuh yang mirip denganmu." Uhh, aku selalu teringat kata itu. Bahkan aku menulisnya dengan font kerinduan tepat di sisi atas kaca meja riasku. Aku membacanya setiap berkaca. Kuselami dalam-dalam esensi kata itu sambil tersenyum memandang pantulan tubuhku dalam kaca. Memang aku tau maksud dari kata itu. Kau hanya ingin mengatakan sifatku yang mirip dengan anak-anak kan? Dengan sedikit ungkapan berbelit demi menjaga keromantisan pertemuan kita.. :p
Oia, tadi aku mampir ke rumahmu. Kata mama, kamu masih setia meluk guling kusam yang bermotif air liur. Padahal tadi itu pertemuan kedua kita. Semacam pertemuan dua fisik manusia di depan pintu gerbang penghubung antara dua alam. Kau masih asik berkelana dalam dunia mimpi. Sedangkan aku hanya mampu memandang dirimu yang kosong dari retakan kecil pintu itu.
Tau gak, tadi aku sempat ngobrol sama mama seputar kamu. Katanya, waktu mama mengandung kamu. Dia ngidam puisi tepat delapan bulan masa kehamilannya. Di bulan kesembilan dia kembali ngidam katanya pengen lihat awan hitam. Pantas saja kau sedikit aneh. Balas SMS selalu telat beberapa minggu sampai aku lupa terakhir kirim SMS apa'an ke kamu. Yang lebih aneh lagi kamu gak pernah mau terima telpon.
Aku masih mengingat pertemuan pertama kita dulu. Di awal pertemuan, aku berupaya mengenalkanmu dengan ayah. Namun tiba-tiba ayah mengusirmu setelah menyelami raut mukamu yang tak asing baginya. Spontan ayah berteriak berupaya mengusirmu, "he demonstran anjing, keluar kau dari rumah ini. Jangan pernah mengganggu anak tunggalku." Ayah memang seorang polisi yang selalu ditugaskan membentuk barisan di depan massa aksi. Coba kalau ibu masih ada, dia pasti membelamu habis-habisan.
Beberapa jam kemudian, kau mengirim pesan singkat ke hapeku. Pesan dengan modus innocent berisi, "kau tau, apa yang aku rasa.. berkata sedikit selalu menyesal usai pertemuan, berkata banyak selalu merasa kurang. Pertemuan pertama kita belum berakhir, aku tunggu di pom bensin sebelah rumahmu. Datang kapanpun kau mau, aku akan menunggu sampai kamu datang." Malam itu aku memenuhi tawaranmu. Mengikat janji membentuk simpul cinta. Itu adalah malam terindah bagiku. Menikmati sobekan waktu yang bagi Sapardi Djoko Damono: sesaat yang abadi. Walaupun kemudian kita sulit merelakan sesaat itu tersapu pagi.
***
05/05/06
Maaf..
Yah, memang kata itu yang sangat layak aku telanjangi di paragraf pertama surat ini. Selama ini tali-tali yang mengikat kita atas baptis ungkapan cinta itu selalu termarjinalkan oleh beberapa rutinitasku. Anggapanmu sama seperti orang tuaku yang memberi label "orang aneh". Bahkan mereka sedikit bingung kalau tanaman yang rutin dirawat ternyata berbunga semacam kata aneh itu. Sebuah kata termudah untuk menyimpulkan rutinitas yang berlawanan dengan orang kebanyakan. Sekaligus memberi nama ruang kosong absurd itu dengan sebutan yang sederhana.
Aku membalas emailmu setelah meneguk seperempat botol bayangmu yang tumpah dianganku. Setidaknya aku berharap agar kau tak seperti para pecinta Tuhan. Hubungan jarak jauh dan hanya ada komunikasi satu arah. Aku masih menyadari bila kita sepasang kekasih yang menganut agama cinta. Kemudian mencoba merumuskan kitab suci bagi cintanya. Hari ini aku merindukanmu. Walaupun aku menyadari terlalu susah kau dan aku mencintai diri sendiri.
Biarkan rasa rindu itu menggumpal dalam barisan kalimat. Dalam beberapa saat lagi membatu dalam rangkaian paragraf. Selanjutnya akan membeku dalam lembaran usang. Hingga menjadi sebuah kitab rindu. Lalu pada pertemuan yang tak mampu kauramalkan sebelumnya silahkan ledakkan rasa rindu itu. Kalau perlu sembunyikan petasan dalam bilik-bilik rindu itu. Kemudian ledakkan tepat dihadapanku.
Selama ini aku hanya berbicara pada udara. Berupaya mengikis kegelisahan tentang cinta yang lebih universal. Tapi karena rasa itu malah membangun ribuan tenda kegelisahan, maka aku berupaya sedikit berbagi kegelisahan dengan buku harian bewarna merahku. Akhirnya aku sadar bila buku itu adalah tempat penitipan kegelisahan yang tidak mengharapkan nilai tukar sepeser pun. Rasanya seperti menggadaikan kegelisahan pada pundak seorang kawan.
Malam ini aku malas bercengkrama dengan buku harian merahku. Tanpa peduli kau sepakat atau tidak, kali ini aku menganggap dirimu layaknya si manis merahku.
Baiklah, kemarin (04/5) seperi biasa aku baru rela transmigrasi ke alam mimpi saat mentari masih malu-malu memperlihatkan tubuh bundarnya. Kawan-kawan sering mengejek jika aku adalah mahluk aneh yang hanya mau tidur ketika nyamuk-nyamuk di sekretariat pulang kampung. Kuat sekali imajinasi mereka ya, yang secara instan mampu menyimpulkan kerinduan nyamuk pada rumahnya muncul seiring terbitnya mentari. Ternyata bukan hanya kebo yang dapat dikatakan dungu, sang nyamuk pun layaknya robot yang dengan mudahnya diperalat waktu..hahaha.. Padahal sederhana sekali, itu semua karena tubuh ini tak mampu melanjutkan aktivitas. Bagai benda berjiwa yang kaum klenik sebut sebagai keris. Apapun yang kupikirkan pasti memburam dengan sendirinya.
Sekitar jam sepuluh pagi, alarm ponselku bunyi (hanya sebatas itulah fungsi ponsel bagiku), aku harus bangun lebih awal dari kawan-kawanku. Banyak hal yang harus kulakukan pagi itu. Salah satunya mengorganisir enam truk berisi ratusan buruh. Melewatkan truk itu pada pabrik-pabrik lain sambil mampir untuk menjemput beberapa buruh. Awalnya terasa datar saja ketika kami berhasil mengorganisir buruh di pabrik PT. Reserve Mine. Kemudian kami menuju PT. CPS. Sesampai depan gerbang pabrik, kami melakukan ritual orasi untuk mengundang buruh yang berada di dalam pabrik. Agar meninggalkan pekerjaanya untuk bergabung dengan kami menikmati hari buruh sedunia. Selang beberapa menit satu truk berisi puluhan polisi datang. Sekitar dua puluh polisi itu langsung turun dari truk dan membentuk barisan di depan gerbang pabrik, lebih tepatnya di depan barisan kami. Atmosfir di sekitar kami terasa makin panas ketika polisi berniat membubarkan massa aksi. Aku tak pedulikan beberapa polisi yang berupaya melobiku untuk membubarkan massa dan langsung menuju Gedung Grahadi. Aku malah mengajak massa untuk bernyanyi menirukan suaraku yang diperkuat megaphone, "hati-hati..hati-hati provokasi..". Entah apa jabatan beberapa orang itu, bagiku mereka hanya pelayan bagi masyarakat. Seharusnya mereka malah membantu para buruh untuk memperjuangkan hak-haknya yang telah dirampas.
Kemudian salah satu kawan menghampiriku, aku sedikit menunduk berupaya mendekatkan telinga dengan mulutnya setelah isyaratnya untuk berbisik. Ternyata kawanku tersebut mendapat info jika buruh di dalam pabrik memang berniat keluar untuk menikmati harinya. Namun satpam pabrik membentuk barisan juga di dalam untuk menghadang buruh yang ingin keluar. Aku menghela napas sejenak lalu memberi instruksi kepada massa aksi agar maju empat langkah. Masih ada sisa ruang kecil antara barisan depan massa dengan barisan polisi. Kemudian aku memberikan instruksi agar maju selangkah lagi. Kini aku terjepit di antara kedua berisan itu. Tiba-tiba seorang polisi berupaya merebut megaphone dari tanganku. Aku pun berupaya menahan sekuat mungkin saat aku dan polisi itu saling menarik berebut megaphone. Namun aku kaget ketika polisi itu menendang dadaku. Sontak aku tejatuh mengerang kesakitan. Dalam keadaan setengah sadar itu dia mendekati dan meludahiku sambil menggertak, "anjing, sudah kukatakan dari tadi segera bubarkan barisan kolotmu itu." Kau tahu hai kekasihku, dia adalah ayahmu. Dia yang sedari tadi memberi komando barisan polisi itu.
Beberapa saat setelah dia meludahiku. Seorang kawanku menghantam mata kirinya dengan ujung tiang bendera. Sedangkan kawanku yang lainnya berupaya menggeserku ke tempat yang aman. Aku melihat polisi itu terjatuh, masih ada satu tiang bendera lagi yang menghantam sisi atas kerongkongan kepalanya. Kulihat darah keluar dari mata kiri dan kepalanya disaat aku terus merasa mual dan memuntahkan gumpalan darah. Setelah itu aku tak sadarkan diri selama sebelas jam.
Yah, itulah yang kulakukan kemarin. Memang aku selalu telat mengisi buku harian merahku. Setidaknya aku masih berniat untuk bercerita tentang hari-hari yang kualami. Inilah garis hidupku. Tak ada pilihan lain kecuali berjuang hingga menemukan harta yang layak dihidangkan di meja makan buruh. Aku hanya lelaki sederhana. Berteriak tentang kebebasan di tengah lautan masa. Tapi hanya mampu berjongkok dan menunduk ketika berhadapan dengan WC umum. Bagiku ada benarnya Paulo Coelho yang menganggap hidup ini seperti roller-coaster. Dengan lintasan berbentuk spiralnya. Baginya hidup ini hanyalah sebuah permainan yang cepat dan memabukkan. Sederhananya kita adalah pemain-pemain yang diarahkan untuk menyusuri lintasan yang selalu berbalik pada titik awal di atas ataupun di bawah titik sebelumnya.
Entah apalah cinta itu. Kata salah satu lagu Band Efek Rumah Kaca, "jatuh cinta itu biasa saja." Coba ceraikan kalimat tersebut. Kau akan kelelahan mencari relasi dari frase "itu". Bahkan kata "biasa" selalu mengulang konteks. Yang mengherankan bagiku, ketika aku selalu gagal masuk konteks yang telah dinaskahkan. Entahlah, tapi di sini aku jatuh cinta setiap saat. Ketika ribuan kaum buruh terjatuh. Setelah terjatuh, mereka menularkan jatuhnya pada yang lain. Pada akhirnya ada rasa jatuh yang yang sama. Sebuah persamaan nasib yang pada akhirnya dijadikan identitas. Mencoba menganalisa dan merumuskan bersama menjadi satu kejatuhan besar dengan ribuan korban. Yah, dalam artian kami memandang cinta sebagai kebersamaan. Berupaya menjadikanya lebih universal. Setidaknya mampu mengantisipasi dengan apa yang dikatakan lelaki setengah baya bertubuh rapuh dan berwajah gelap dalam salah satu karya Kahlil Gibran. Dengan mendesah lelaki itu berkata, "Cinta telah membuat suatu kekuatan menjadi lemah."
***
10/03/07
Kemarin aku mampir rumahmu. Sampai di depan gang aku berupaya mempercepat langkah karena melihat tenda yang terpasang di depan rumahmu bersama bendera putih petanda rumah duka. Sampai di depan rumahmu, mama tiba-tiba menghadang langkahku dengan pelukan erat. Sambil terisak-isak mama bercerita tentangmu. Tentang seorang aktivis yang mati dengan tiga luka tembak. Luka itu sebagai hadiah dari polisi setelah kau berupaya membakar beberapa mobil yang diparkiran pengusaha pabrik. Kata mama kau berupaya melakukan aksi bodoh itu karena pengusaha yang tidak peka dengan permasalahan ekonomi buruh.
Aku masih bingung tentangmu yang rela menukar nyawa dengan tuntutan pemenuhan upah layak bagi buruh. Mama juga bercerita soal spanduk yang kautulis dengan darah jemarimu. Spanduk itu berisi satu kalimat tuntutan darimu, "berikan upah buruh sesuai hasil kerja."
Bagiku kau masih ada selama jutaan orang yang mencintaimu masih hidup. Aku tak semudah itu percaya jika kau telah musnah. Kau hanya pergi jauh berkelana dalam misteri. Aku ingin menuangkan kegelisahan yang telah merata disekujur tubuh ini. Lewat email ini, membalas pesanmu seminggu yang lalu. Entah sampai kapan aku tetap berharap kau membalas surat ini. Sampai pada kalimat ini, aku merasa tak mampu menjinakkan kegelisahan. Ah, sulit sekali melanjutkan kalimat berikutnya. Pikiranku tiba-tiba gersang. Biarlah puisi yang akan menerjemahkan bahasa jiwaku. Sekaligus menutup pesan ini dengan sebuah "Proklamasi Kehampaan":
Ada duri yang menancap dihatiku,
Kemudian menyemprotkan buih kegelisahan
Meremas-remas sendi jiwaku
Seperti cambukan
Seperti hentakan yang gagal diramalkan kehadirannya.
Batok kepalaku hampir pecah
Ada rasa yang enggan terelap saat ditimang
Sesak
Seperti ada puting beliung yang terus berputar dalam dadaku
Kegelisahan dan ketakutan berkolaborasi dengan gaduh
Sampai kapan
Kusembunyikan tangis dalam barisan kata penuh makna
Telah kutelan ribuan biji embun
Hanya untuk menjinakkan rasa ini
Tapi
Siasia
Ah
Anggap saja rasa itu telah terbujur kaku dalam kamar mayat
Dengan wujud anonim hingga tak seorangpun mampu mengenalnya
***
09/08/17
Kau seperti sayap yang membawaku terbang melewati separuh masa. Tiba-tiba kauciptakan rindu yang perlahan merontokan sayapku. Seketika sayap itu tak mampu menerbangkanku. Aku terjatuh dan tersesat dalam samudera massa. Di sana adalah ruang kosong dengan kegelapan yang terus mengombak. Kucoba berlari mencari jalan keluar. Tapi sejauh apapun aku berlari, bayangmu menampar berupaya menyadarkan jika aku masih terpasung dalam ketersesatan.
Bagaimana aku bisa menggenangi sisa hidupku dengan petikan irama indah bila ujung jemari ini telah habis dimakan kerinduan. Aku pernah mencoba menganggap dirimu hanya sebuah tokoh tanpa skenario dalam mimpi buruk. Tapi sia-sia. Bayangmu selalu mengusirku dari alam nyata. Nalarku telah merekam semua tentangmu kemudian ia tak pernah lelah untuk selalu memutar piringan hitam rindu itu. Seperti sesuatu yang terus terulang tanpa lelah, terjadwal untuk mengisi tiap detik sisa hidupku. Setiap pengulangan selalu mampir sejenak untuk memperbesar gelembung kerinduan. Bagai sumsum yang berupaya merapuhkan tulang.
Lamunan selalu meneriakkan bisikan bisu tentangmu. Seluruh akal sehat menyingkir dan bersembunyi dalam sebuah ruang yang tak kuketahui. Kulihat dunia nyata dalam kebutaan. Seabsurd batas bumi, tanpa sekat, sepi, hanya ada satu cahaya yang menyoroti siluet kerinduan. Percayalah aku semakin sulit membedakan tiga ruang itu. Aku merasa alam mimpi, dunia nyata, taman lamunan adalah threesome yang melahirkan satu dunia kerinduan. Kini aku mulai bosan dengan ayah-ayah kerinduan itu.
Dimanakah engkau kini?
Sepertinya Tuhan tak mampu campur tangan untuk menyelesaikan masalah ini. Semua orang pun tak peduli. Malah mereka menikmati isak tangis yang kupasrahkan pada gemuruh angin bagai simfoni kelima Beethoven. Dan ketika aku mencoba menarik perhatian dengan memekikan gelegar guntur. Sebagai respon mereka lebih memilih untuk berlarian mencari tempat berlindung. Apakah kerinduan itu semacam dosa turunan dari sebuah cinta. Tapi mengapa rasa itu seakan menyimpan dendam. Kini aku merasa layaknya gadis yang tubuhnya tertanam bom peledak. Oh, Biarkan aku tetap menjadi awan hitam yang diciptakan untuk menangis setelah itu habis. Entah sampai kapan aku mampu menikmati masa muda layaknya seorang gadis labil yang menjanda di usia dini.
Selama ini ternyata aku merindukan lelaki yang selingkuh dengan jutaan cinta hanya dalam satu hentakan. Kau bercumbu dengan orasi, berpelukan dengan diskusi, menghabiskan waktu dengan membelai lembaran buku.
Kini aku merasa sendi waktu istirahat karena kram yang berkepanjangan. Jalan hidup menderita varieses. Waktu berputar membentuk lingkaran dan berhenti di titik awal. Ada aliran yang tersumbat lipatan. Membengkak tapi dinding elastis selalu mampu menjinakan hasratnya untuk meledak.
Aku terpaksa membasuh muka dengan balok-balok bayangan masa lalu tiap detik. Iramanya setara dengan jantung yang berdenyut satu-satu. Aku tak mampu menjelaskan kerinduan pada rinduku sendiri. Kini aku merasa hidupku kosong. Selalu merasakan kepedihan yang terus terulang. Dalam tempat, ruang, dan waktu manapun. Aku adalah pecinta yang gagal. Seorang gadis yang tak pernah lulus dari rasa rindunya. Rindu pada akhirnya mengantarkanku pada musim yang membuatku lupa jalan pulang.
***
Harian Lokal, (09/08) seorang gadis belia bernama Lintang (20) ditemukan meninggal di dalam kamarnya. Pihak kepolisian menemukan beberapa selongsong peluru berserakan di sekitar tubuh korban. Polisi belum mendapatkan penyebab pasti upaya bunuh diri tersebut. Sementara mereka menemukan barang bukti lainnya berupa alamat email korban beserta kata sandinya.
Hasil penelitian forensik menyatakan bahwa tubuh Lintang mengandung beberapa zat kimia. Diantaranya opium dan beberapa zat kimia lainnya. Menurut ahli forensik, ramuan racun tersebut dapat membunuh dengan cepat tanpa menimbulkan rasa sakit. Selain itu catatan forensik juga menyatakan bahwa tubuh gadis cantik itu tidak akan rusak untuk jangka waktu yang panjang..[]
Tag: cerpint
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
sadam husaen mohammad: Biasa
-
Oo Zaki:
-
Rizki: Biasa
-
andi_tulungagung: Bagus
-
Kopi Persma:
-
ALAS INDONESIA: Penting
-
Defy Arbimapala: Bagus
Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat