Batas 3

Rabu, 15 Des '10 00:48

- Alkisah, mahasiswa semester banyak dan temannya berbincang tentang pintu dan tembok

SEORANG teman saya datang saat kuliah tengah berlangsung hampir setengah jam. Untunglah dosennya berbaik hati. Setelah menyampaikan alasan, teman saya diijinkan mengikuti kuliah. Dia mengambil duduk di belakang, tepatnya di sebelah saya. Nafasnya masih terengah-rengah.

Seperti habis lari maraton saja, sindir saya. Tetapi dia tidak mempedulikan, malah menggerutu sendiri. "Semakin hari mau ke kuliah kok semakin sulit. Pintu masuk semakin sedikit, sedang mau manjat temboknya semakin tinggi," katanya.

Saya yang dari awal berpura-pura memperhatikan dosen tapi sebenarnya pikiran melayang ke mana-mana. Pada beberapa orang yang bermain basket, pak kebun yang memotong rumput sampai gadis cantik dengan pakaian seksi yang melintas. Gara-gara teman saya datang saya jadi berpikir tentang pintu dan tembok.

Pintu yang semakin sedikit. Ah, itu mah wajar. Di negeri seperti Indonesia kalau perlu dibuatkanlah fatwa haram jika ada yang membuat pintu lebih dari satu. Dengan satu pintu, saya membayangkan kalau di semester depan saya tidak perlu lagi banyak mengantri demi membayar kewajiban semester. Di mana sebelumnya-sebelumnya saya harus sudah mengantri di bank, di UPT TI (mulai 4 semester lalu tidak lagi), di fakultas dan harus mengisi form yang sama setiap semester dan rangkap dua, lalu di jurusan. Syukurlah jika kegiatan ini tidak ada.

Tentang tembok. Pikiran saya langsung saja terbang tinggi seperti naik pesawat Garuda sampai negeri China. Di sana ada tembok yang maha panjang. Dahulu diciptakan sampai beberapa generasi lamanya. Tembok itu ditegakkan, selain sebagai batas juga difungsikan sebagai pelindung apabila musuh menyerang. Lalu saya terbang lagi sampai ke Jerman. Di sana pernah ada tembok Berlin yang membatasi orang-orang pecinta kebebasan dan penikmat komunisme. Namun akhirnya tembok Berlin diruntuhkan sebagai tanda bersatunya Jerman.

Tiba-tiba teman saya itu mengajak berbicara. Sambil berbisik dia berujar, "Eh, ngeselin banget ya, pintu kok dipersedikit dan tembok makin dipertinggi. Apa maksudnya coba?" Aku tersenyum padanya lantas menceritakan apa yang sudah saya bayangkan sedari tadi.

"Kamu ini sudah semester banyak tapi kok masih gak pintar juga," katanya.

Tentu bukan pintu dan tembok seperti itu yang dimaksud. "Coba kau perhatikan kita ini sudah seperti ikan dalam aquarium saja. Kampus kita makin dikelilingi tembok yang tinggi. Pintu tadinya dibuat banyak tapi pada ditutup. Kemudian kamu lihat gerbang universitas kita yang terus diperbaiki. Seperti kurang kerjaan saja. Dibongkar, lalu diperbaiki lagi.

"Iya ya, kamu pintar juga," kata saya masih tetap berbisik.

"Kamu tahu gak mengapa begitu?"

Ya tahulah, jawab saya. Mahasiswa jaman sekarang harus dibuat pintar. Salah satu caranya adalah mempersedikit pintu dan membuat jadwal kapan dibuka-kapan ditutup. Jadi mahasiswa yang malas berpikir seperti kita terpaksa berpikir. Harus lewat mana jika harus ke kampus supaya tidak terlambat. Kalau pulang pun begitu. Kemarin si Tikno, teman seangkatan kita itu, harus jalan melingkar lewat Jalan Kalimantan. Kuliah fakultas kita kan sampai jam sepuluh malam, namun gerbang Jalan Jawa sudah ditutup.

Oiya, belum selesai. Selain itu kamu tahu kan kalau di kampus kita ini sering sekali terjadi kehilangan dan banyak pengemis serta kambing yang berkeliaran. Lalu para PKL yang membuang sampah di dalam kampus. Bayangkan itu kan tidak etis di lingkungan intelektual seperti kampus. Apalagi kalau ada orang dari Jakarta datang dan melihat semua ini. Bisa tercemar nama baik kampus kita.

"Kamu ini masih bego juga," kata teman saya.

"Kalau saya pintar, tentu saya sudah lulus, hehehe... Mengapa bisa begitu?" saya bertanya.

"Kamu masih ingat mendiang kakek saya kan. Dia pernah bilang, kalau saya ingin pintar tidak perlu sekolah. Apalagi sampai perguruan tinggi. Sebab, katanya, sebenarnya sekolah itu mengajari kita tentang kehidupan. Buku-buku yang seberapa pun tebalnya itu hanyalah kisah renik-renik kehidupan. Dari dunia yang bebas dan bergumul dengan manusia kita bisa jauh lebih banyak belajar."

"Masih belum jelas ya. Dengan dibangunnya tembok yang tinggi serta pintu-pintu yang dikurangi itu sama artinya mempersempit ruang belajar kita. Kita akhirnya dipaksa belajar hanya dari buku. Jauh dari sumber ilmu yang sesungguhnya."

"O, iya-ya. Saya mulai paham." kata saya.

"Kalau memang banyak pencuri, banyak pengemis dan kambing yang berkeliaran di kampus kita ini itu wajar. Gak ada yang salah dengannya. Itu berarti kampus kita belum berperan menyelesaikan persoalan di masyarakat sekitar. Kamu masih ingat Tri Dharma Perguruan Tinggi?"

"Wah, saya sudah tidak ingat lagi."

"Pantas saja. Mahasiswa seperti kamu, sudah jarang baca buku, Tri Dharma pun tak hafal. Jika lulus nanti, apa kata dunia?"

Tiba-tiba dosen menunjuk kami. Lantas, "kalian berdua, keluar sana!"

Mahasiswa semester banyak pun keluar dari ruang kuliah. []

 


Tag: Universitas Jember, tri dharma

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Rizki 0 0
Ha...hah...ah...
Wez datang telat, malah ngobrol, yo wajar ae dosen nygusir kalian....hahaha...... : ))
Oo Zaki 0 0
Adakah tempat yang tak punya batas? Sejauh ini belum juga saya temukan. Pasti tempat semacam itu tak pernah ada, kecuali jika kita keluar dari waktu dan cuaca, dari ruang. Begitu?
Defy Arbimapala 0 0
Bahkan akhirat pun memiliki batas, baik waktu, tempat, dnan mungkin kepuasannya. Apalagi perihal waktu, yang selama ini dianggap memiliki beberapa bagian yang tak terbatas.
Ternyata semua memiliki siklus.
ya.. mirip perjalanan PPMI ini. bukan begitu?

Silahkan login untuk memberikan pendapat