KOMEDIE STAMBOEL : SIKAP PERLAWANAN PRIBUMI TERHADAP KOLONIAL 3

Selasa, 14 Des '10 04:07

 

Nama : Moh Bashiruddin, Departemen Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga, saat ini sebagai anggota LPM situs, Email_shyrudin_86@yahoo.com

 

Dalam sebuah bedah buku "The Komedie Stamboel" di tempat aula fakultas ilmu budaya universitas airlangga, hari rabu 05 november 2008, jam 09:30, yang disampaikan sebagai pemateri oleh akhuadiat dan rosdiansyah mengatakan bahwa komedie stamboel merupakan seni teater tradisional kota Surabaya tahun 1891 dengan menunjukkan sikap politik perlawanan pribumi terhadap kolonial yang telah mampuh menguasai sumber daya alam warga negara Indonesia, dimana komedie stamboel menjadi penanda fase peralihan masyarakat agraris ke masyarakat modern yang masih ingin tetap mempertahankan kisah-kisah unik nan jenaka yang hidup di masyarakat.

 

Penjajahan kolonial di negeri Hindia-Belanda membentuk kelas sosial pribumi, ketika meraup menguasainya kekayaan pertanian rakyat atas hak-hak tanah yang dimiliki dirampas secara paksa dan kaum wanita cantik di perkosa. Tindakan kolonial semacam ini membuktikan rasa ketidakadilan terhadap warga pribumi sampai pada persoalan tempat tinggal terbagi-bagi kelompok antara masyarakat Eropa, timur asia dan warga pribumi sendiri. Sebagai salah satu bentuk wilayah toritorial bagi setiap kelompok penduduk setempat, karena masing-masing kelompok yang bertempat tinggal di kota Surabaya terutama saling membuat peraturan perundang-undang sebagai jaminan atas warga negara sendiri.

 

Kehadiran Komedie Stamboel menjadi momentor perlawanan yang digerakkan oleh seorang seniman akan paham penindasan kolonial dengan menarik simpatik untuk membangkitkan nasionalismenya membebaskan diri dari penjajahan. Seniman yang berasal Surabaya berdarah Tionghoa Yap Gwan Thay yang membentuk kongsi untuk komedie stamboel pada Januari 1891. Yap adalah pekerja seni yang layak disebut pujangga oleh sebagian besar koran bahasa melayu pada zaman itu. Banyak seni panggung yang telah dirintisnya, seperti teater berbahasa mandarin yang kerap manggung diberbagai kesempatan.

 

Di sisi lain ada beberapa pendekatan dan model yang lebih dinamis. Sebuah pendekatan lebih mutakhir pada seni pertunjukan Indonesia lahir dari disiplin akademis - ada yang menyebut anti-disiplin - kajian seni pertunjukan dan bidang-bidang yang secara longgar dikaitkan dengan antropologi teater yang didirikan Eugenio Barba, yang memusatkan perhatian pada eksplorasi pertunjukan antarbudaya lewat praktek. Berbagai pengkajian seni pertunjukan berkembang pada akhir 1970-an dan awal 1980-an di ceruk antara teater dan antropologi. Sejumlah teoretisi awal kajian seni pertunjukan, termasuk Richard Schechner, Phillip Zarrilli, dan John Emigh, pada mulanya bertolak ke Asia untuk mempelajari seni pertunjukan Asia demi memperkaya teknik-teknik kreasi teater mereka, dan kemudian menyadari bahwa seni pertunjukan Asia itu punya daya tarik inheren sendiri dan segi-segi menarik yang layak dieksplorasi. Kajian-kajian seni pertunjukan berguna bagi de-eksotisasi seni pertunjukan Indonesia dengan menunjukkan kesamaan dengan praktek-praktel kultural dari balahan lain dunia.

 

Pada tahun-tahun belakangan terdapat kekecewaan mendalam karena tidak adanya pergumulan konsisten dengan epistemologi tubuh, di kalangan mereka yang menggeluti kajian seni pertunjukan Indonesia - dan lebih khusus lagi kreasi pertunjukan tari - dan nihilnya kesarjanaan yang berpijak pada fisikalitas tubuh, yang mampu memahami tubuh menari sebagai produsen budaya-politik. Hanya soal waktu sebelum pendekatan-pendekatan demikian diminati dan digarap ulang untuk meneliti kreasi seni pertunjuan Indonesia.

 

Michael Bodden menerapkan sebuah perspektif sosiologis untuk mengkaji sejarah pasca-kolonial teater seni nasional Indonesia. Dia menganalisis pemanfaatan modern tradisi sebagai "sumber daya langka" (cf. Appadurai 1981) yang dinegosiasikan dalam berbagai pertentangan antara para birokrat kebudayaan dan pejabat pemerintah berlatar belakang aristokrat dengan seniman-seniman berkecenderungan populis. Sementara agen-agen negara memperlakukan tradisi sebagai sesuatu yang statis dan tertata, para seniman merayakan kualitas tak terbelenggu dan multivokal seni rakyat.

 

Barbara Hatley menawarkan studi kasus grup teater Indonesia kontemporer, Teater Garasi, yang secara eksplisit menggeluti isu-isu identitas yang bertentangan - apa artinya menjadi benar-benar Jawa pada suatu waktu ketika pengertian "kejawaan" digugat. Daya tarik seni pertunjukan terletak dalam kemampuannya mengundang pemikiran, membangkitkan diskusi, dan memfasilitasi relasi sosial. Penyajian esai-esai pada konferensi itu dan pengerjaan ulangnya menjadi artikel mewujudkan semua itu, dan diharapkan penerbitan ini akan memungkinkan esai-esai itu berfungsi demikian.

 

 


Tag: budaya, politik, Sastra, sosia

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

B4511R 0 0
Thanks friend....
Tingkatkan cara pandang dalam berpikir kita, supaya idealisme yang sudah lama dibentuk dalam kanca pers mahasiswa selalu membengun diri kita menjadi masyarakat sadar. he he he
Kopi Persma 0 0
B4511R: : D
B4511R 0 0
@Kopi Persma: berpendapat tulisan ku jelek, tp koq gak ada alasannya ya...???

Silahkan login untuk memberikan pendapat