Tuhan di Sekitar Gempa 1 November 1755 (1) 1
Minggu, 12 Des '10 20:20
Seorang bocah kecil sedang asik bermain dengan segenap kepolosannya, pada pagi hari tanggal 1 November 1755 di sebuah ruas jalan ramai kota Lisbon, Portugal, yang kala itu sudah metropolitan. Lisbon telah tumbuh menjadi kota perdagangan penting di Eropa. Pada pukul 10.40, tiga serangan gempa dahsyat mengguncang Lisbon sampai lantak. Inilah salah satu gempa bumi paling merusak dalam sejarah. Ruas jalan itu tiba-tiba bergeretak tanpa kendali. Rumah-rumah dan puluhan gereja-yang sedang dipadati jemaat yang menggelar misa-seolah dihisap oleh tanah hingga luruh seketika.
"Kiamatkah ini?" gumam seseorang tak jauh dari bocah itu, setengah bertanya setengah sekarat. Ribuan pekik teriakan lalu membuncah, susul-menyusul. Kepanikan pecah. Doa dirapal. Horor meledak. Debu dalam jumlah besar bangkit ke langit dan menutupi cahaya matahari. Lisbon pun jadi gelap, dan muram. Benar-benar muram.
Tiga serangan gempa itu berlangsung dalam sepuluh menit dan dengan gesit menimbun ribuan orang di bawah dasar bangunan. Sebagian orang berlari ke luar, ke jalan-jalan dan berebut meninggalkan kota. Mereka, kata Henrik Svenson dalam The End is Night; A History of Natural Disasters yang pertama kali terbit tahun 2006, "merangkak melewati patung Kristus yang suci, barang milik pribadi dan tumpukan mayat".
Kemanakah sang bocah harus menyelamatkan diri? Kemanakah orang-orang harus berlindung? Tak ada. Sebab meskipun orang-orang dan bocah itu kebetulan lolos dari reruntuhan bangunan yang berjatuhan, sia-sia, karena setengah atau satu jam kemudian tsunami setinggi enam meter datang melabrak kota dengan kecepatan tinggi, tanpa undangan, tanpa salam dan peringatan. Jika barangkali bocah itu lolos dari serangan gempa dan tsunami, itu juga masih sia-sia, karena selepas guncangan mereda, giliran api muncul membakar Lisbon selama lima hari. Hanya 15 persen bangunan saja yang tersisa. Setidaknya 30.000 sampai 60.000 orang terbunuh (Karl Fuchs 2005). Sumber lain menyebutkan sekitar 70.000 (Gates dan Ritchie 2007). Atau barangkali memang 60.000 sampai 10.000 (Henrik Svenson 2009). Yang pasti Lisbon dihadapkan pada kenyataan pelik bahwa ribuan tubuh sedang siap membusuk.
Bocah kecil itu bahkan belum sempat melepas mainan dari tangannya. Dan ibunya, yang katakanlah gagal ia panggil tentu juga telah mengapung, terpanggang atau lenyap.
Kurang dari sepuluh hari, kabar malapetaka di Lisbon telah diketahui di kawasan Mediterania dan Spanyol, sebulan kemudian menyebar di Hamburg. Bahkan menurut Terra Nova (1991) daerah sejauh koloni Inggris di Amerika pada 8 Desember telah mendapatkan beritanya. Umumnya berita tersebut dibawa oleh kurir, sebagian diketahui lewat media yang tersebar.
Pertanyaan pun lalu turut menyebar: Dimanakah sesungguhnya Tuhan dalam kengerian gempa, tsunami, dan kebakaran yang datang berturut-turut itu? Apakah Tuhan yang sepenuhnya bekerja di balik pemusnahan manusia yang sedemikian sadis? Adakah Tuhan sedang marah pada penduduk kota Lisbon sehingga mereka harus diratakan dengan tanah dan banjir, dan api? Itu artinya apakah Tuhan juga sedang bikin peradilan untuk seorang bocah kecil, yang bahkan belum fasih mengeja namanya sendiri? Adilkah Tuhan?
Ada banyak pertanyaan yang menggema, dan satu pertanyaan lebih spesifik inilah yang paling menusuk: "apakah bencana tersebut terjadi karena eksploitasi berdarah dingin Portugal di Brazil dan pemberlakuan inkuisisi, pembakaran manusia serta penyiksaan-penyiksaan yang bengis atas nama Tuhan?" Bagaimanapun, sebaiknya semua pertanyaan harus tetap kita biarkan dengan 'pintu' dan 'jendela' terbuka.
Kita tahu terutama di Eropa pasca gempa, 'teologi konvensional' kemudian turut goyah. 'Tangan Tuhan' dipersoalkan ulang secara meluas. Selain pada ranah teologi bermunculan pula perbagai spekulasi sains dan metafisika yang berlangsung dalam beragam ranah keilmuan dan melibatkan banyak komponen: filosof, penyair, pelukis, musisi, sampai politikus.
Dinamika yang bergumulan itulah yang sebenarnya menjadikan gempa Lisbon menjadi penting dalam sejarah bencana dan pemikiran, termasuk politik. Lebih-lebih gempa Lisbon sesekali diakui sebagai gempa bumi modern pertama yang memaksa 'negara' segera bertindak melakukan rekonstruksi dan pemberlakukan tanggap darurat dan managemen bencana yang elemen-elemennya banyak memberikan kontribusi penting yang masih digunakan sampai kini, salah satunya tentu saja kelahiran seismografi (modern).
Pada 26 Januari 1531, atau 224 tahun sebelum gempa 1755, Lisbon sebenarnya pernah dihantam gempa besar dan menyebabkan kerusakan parah. Namun sedikit sekali yang bisa diketahui dari gempa Lisbon 1513. Sumber kontemporer menyebutkan gempa 1531 membunuh setidaknya 30.000 orang, tapi keterangan yang kita dapat umumnya: 'tidak diketahui secara pasti'. Selain itu tak banyak orang yang sungguh-sungguh mendengar perihal gempa 1513. Hal itu barangkali terkait dengan kelangkaan dan kelambanan gerakan informasi lintas Eropa abad enam belas. Seperti yang terlihat dalam studi Brian Winston (2006) tentang gerakan media di Barat sejak era Gutenberg sampai Google, bahwa apa yang disebut sebagai "restorasi dan revolusi gemilang" media, diantaranya berupa penerbitan surat kabar harian terjadi-semisal di Inggris dan Prancis-baru pada abad delapan belas. Dalam hal ini Jerman harus diberikan pengecualian: sebab pada pertengahan abad tujuh belas, Einkommende Zeitung, sebuah surat kabar harian pertama di Jerman telah beredar.
Harus ditambahkan pula bahwa saat gempa Lisbon 1513, Kerajaan Portugis kala itu tak mampu berbuat banyak, selain ongkos rekonstruksi yang terlampau mahal, juga karena masih lemahnya pertanggungjawaban dan komponen 'negara'. Belakangan diketahui, mahalnya biaya rekonstruksi gempa 1513 juga memaksa orang Portugis harus menyerahkan beberapa koloni mereka di Afrika Utara.
Fakta-fakta tersebut tentu sangat berpengaruh pada meluas atau tidaknya tanggapan 'intelektual', antara gempa 1531 dan 1755.
Tag: Bencana, Gempa, tuhan, Lisbon
Terkait:
-
Tuhan di Sekitar Gempa 1 November 1755 (3)
Minggu, 12 Des '10 20:32 -
Tuhan di Sekitar Gempa 1 November 1755 (2)
Minggu, 12 Des '10 20:29 -
Refleksi Sapi dan Generasi yang Selalu Menyesal
Jumat, 2 Okt '09 07:03
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
dewi alfath: Perlu
-
Rizki: Responsif
-
Defy Arbimapala: Bagus
-
arman dhani bustomi: Perlu
-
hastea al-fath: Perlu
-
Die Key belajar nulis: Responsif
-
Kopi Persma: Perlu
Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat