Tuhan di Sekitar Gempa 1 November 1755 (3) 0

Minggu, 12 Des '10 20:32

 

Candide langsung menjadi novel bestseller pada perdagangan Eropa. Belum lagi, dalam sebulan saja Candide dibajak sekurang-kurangnya sepuluh kali lipat dari jumlah buku edisi asli.

Tetapi intinya, Candide adalah sebuah tarian skeptikal yang energik. Sebuah perayaan sastra modern-satire-yang menerbos masuk ke dalam 'keseimbangan alam' Leibniz, kemudian menggugatnya tanpa henti. Voltaire banyak menyusupkan tesis-tesis Leibniz ke dalam tokoh Pangloss, seorang 'filosof besar' yang terlampau sering berkata, "segala sesuatu untuk kebaikan." Lewat Pangloss, Martin, dan tokoh kunci, Candide, ia terus-menerus mengendus-mencari lubang demi lubang kunci untuk membuka 'cermin Tuhan' Leibniz. Setelah berhasil masuk, ia menggeledahnya, mencari pintu dan lubang kunci lagi, dan menggeledahnya lagi. Buat Voltaire, sistem filsafat Leibniz adalah target yang mudah.

Dalam salah satu adegan, ketika Candide dan Pangloss baru tiba di Lisbon yang sungguh berantakan akibat pukulan gempa, Candide digempur pertanyaan di dalam kepalanya, ia tak yakin benar dengan kehancuran telak yang sedang ia saksikan: amuk bara api, debu menutupi jalan, rumah-rumah runtuh, dan tiga ribu orang, laki-laki dan perempuan, tua dan muda, dibekuk di dalam reruntuhan-daftar kehancuran ini masih bisa diperpanjang.

"Ini akhir dari dunia," tangis Candide. "Kawanku," sergah Pangloss, "ini tidak benar. Kau menentang ketetapan semesta. Kau keliru menilai apa yang sedang terjadi di sini."

"Gempa bumi," kata Pangloss lagi, bukanlah sesuatu yang baru."

Perdebatan antara Candide dan Pangloss terus terbuka sampai akhir novel. Dan ada sejenis penutup: sesuatu yang pada gilirannya nanti akan menjadi pandangan berpengaruh, yakni kerja, dan industri. Ketika Pangloss-meneruskankan ceramahnya-berkata pada Candide bahwa segala yang terjadi di dalam "dunia yang terbaik yang mungkin ada" selalu terhubung dengan segala sesuatu, yang lain, yang terjadi di sekitar kita. "Itu memang benar," jawab Candide, "tapi ladang ini harus digarap." Di tangan Candide, posisi si optimis Pangloss akhirnya terluka, diganti datangnya Pencerahan.

Pada Mei 1762, Vatikan memasukkan Candide ke dalam daftar buku yang dicekal.

Namun Voltaire, dan Candide-tak sendirian. Salah satu filosof berpengaruh yang turut mengomentari gempa Lisbon, yang juga membawa Pencerahan adalah Immanuel Kant, seorang filosof Jerman. Pada dasarnya-dibandingkan dengan Voltaire-meskipun ketertarikan Kant lebih banyak pada aspek sains, tetapi ia juga melibatkan diri dalam perdebatan ketuhanan. Dalam esai yang diterbitkan setahun setelah gempa, Kant menyatakan bahwa gempa Lisbon 1755 seharusnya tak dilihat dari kacamata moral yang melibatkan subyek-subyek, namun sebaliknya, harus dilihat sebagai fenomena natural yang melibatkan penyelidikan-penyelidikan natural-sains. Kenyataan bahwa gempa merupakan bagian dari alam sungguh tak bisa digugat. Gempa menunjukkan ada potensi kerusakan di alam. Karena itu manusialah yang menyesuaikan diri dengan alam, bukan malah sebaliknya. Sesat dogmatis, bagi Kant sebaiknya ditidurpanjangankan, dan tak perlu diganggu.

Berbeda dengan perdebatan yang berlangsung di Prancis atau Jerman, di Spanyol, merujuk pada kesimpulan Agustín Udías dan López Arroyo (2005) yang menulis tentang tanggapan penulis-penulis Spanyol pasca gempa, umumnya perdebatan yang berlangsung cenderung lebih lunak. Artinya kebanyakan penulis menempatkan dirinya pada dua posisi yang kontroversial sekaligus, yakni sebab natural dan supranatural. Penulis-penulis Spanyol menunjukkan kedekatan mereka dengan ide-ide modern di satu sisi, dan masih menjaga dengan teguh pandangan-pandangan tradisional di sisi lain. Meskipun ada sebab natural dari gempa yang mesti dilacak dengan pendekatan sains, namun gempa 1 November diakui pula sebagai hukuman dari Tuhan atas segala dosa penduduk kota Lisbon, Cadiz, Sevilla, Huelva dan kota-kota lain yang terkena dampak gempa. Dengan kata lain, apapun fakta 'obyektif'nya, gempa tetap merupakan peringatan Tuhan. 

Sementara terjadi perdebatan riuh di luar sana, di rumah duka-Portugal-tentu saja sedang sibuk mengurus mayat dan proses rekonstruksi. Bukan berarti di tengah proses rekonstruksi itu tak ada perdebatan sama sekali. Ada pertarungan pemikiran, namun dengan intensitas lebih kecil dan dalam banyak kasus seringkali 'disimpulkan' dengan kebijakan politik.

Bentrok pemikiran di Portugal, terjadi antara Marquis de Pombal dan para Jesuit, terutama Jesuit Gabriel Malagrida.

Jika sejarah Portugal abad delapan belas dipenuhi dengan narasi gempa bumi, maka Pombal layak disebut sebagai salah satu pusat narasi. Berbagai hal yang dilakukan Pombal pasca gempa membuat namanya terus dikenang, entah dalam kapasitasnya sebagai ilmuan atau seorang Menteri yang diberikan kepercayaan penuh oleh Raja José untuk memimpin rekonstruksi Lisbon. Banyak alternatif cemerlang yang dilakukan Pombal dalam usahanya membangun kembali Lisbon.

"Bakar mayat-mayat dan beri makan yang selamat," kata Pombal. Lisbon pun ditata ulang. Bagi Pombal penataan ulang Lisbon tentu tidak berangkat dari keriuhan khutbah, melainkan harus dimulai dari penggorengan. Maka sembari membangun dan memperbaiki rumah-rumah yang runtuh, membersihkan jalan dari gelimpangan mayat di sepanjang jalan dan tumpukan debu serta material lain: sebelum enam bulan setidaknya 9.000 tenda yang terbuat dari kayu telah didirikan untuk menampung penduduk yang sedang kelaparan, dapur umum dibuka. Pombal diantaranya juga melakukan penyelidikan terhadap aspek traumatik sebagai antisipasi meluasnya tindak kejahatan yang sangat mungkin terjadi. Pendeknya segala hal yang diperbuat Pombal didasarkan pada pertimbangan paling rasional. Begitu pula dengan penjelasan tentang sebab-sebab gempa, Pombal menegaskan dirinya berada di sisi yang natural. Bahwa kepastian perihal sebab gempa bukan turun dari langit. Ia harus diselidiki. Bahkan kitab suci pun selalu membutuhkan sosok artikulator (ke)manusia(an) sebelum bisa diterima sebagai panduan. Bagi Pombal sudah waktunya 'mengalihkan pandangan dari langit dan Tuhan menuju bumi dan manusia'.       

Pombal sering melibatkan dirinya dalam diskusi-diskusi yang menyangkut fenomena gempa. Tentu bisa ditebak-meneguhkan gempa sebagai fenomena natural-di Lisbon yang Katolik jelas bukan perkara sederhana. Pombal dan pengikutnya harus berhadapan dengan ortodoksi pemuka-pemuka agama yang masih memiliki pengaruh besar. Pada titik itulah Pombal 'bersitatap' dengan sang imam Paderi-Malagrida.

Malagrida yang baru kembali lagi ke Lisbon setahun sebelum gempa-pada 1756 menerbitkan sebuah penjelasan teologis perihal gempa. Nada Malagrida-adalah nada gereja yang pasrah-yang mengingkari kemungkinan rasional dan fakta saintifik. Lewat publikasi dan gelora khutbah-khutbahnya, Malagrida terus-menerus meyakinkan nada serupa pada penduduk. Namun bukan karena perkara itu saja yang lantas membuat Pombal tak menyukainya. Saat Lisbon masih diguncang gempa setelah berbulan-bulan lamanya sejak 1 November-meski dengan tingkat guncangan lebih kecil-secara ektrim Malagrida meminta dengan tegas agar proses rekonstruksi dihentikan. "Tuhan masih mengguncang bumi," kata Malagrida. Menurutnya jika proses rekonstruksi dilanjutkan, maka itu berarti pengingkaran atas tindakan Tuhan. Pesan Malagrida jelas: harus ada penyesalan terhadap dosa-dosa dan pertaubatan terlebih dahulu, baru Lisbon dibangun ulang. Menanggapi hal itu, Pombal membalasnya dengan mengeluarkan Malagrida dari kota karena dituding telah memotivasi sikap pasif yang lebih banyak tak dibutuhkan untuk memperbaiki keadaaan.

Tetapi Malagrida belum menyerah. Ia masih meneruskan seruan-seruannya meski dari tempat berbeda, sampai pada perkembangannya baik Pombal maupun Malagrida masing-masing berdiri pada kutub yang semakin ektrim dan memburuk.

Pombal akhirnya memerintahkan untuk membui saja Malagrida. Empat tahun kemudian, Malagrida dihukum mati di bawah otoritas inkuisisi Portugal. Bahkan selang sepuluh tahun, raja menganggap publikasi Malagrida menghina Tuhan dan dilarang beredar.

Keliruhkan Pombal, sebagai instrumen dari "negara" ketika andil dalam pembunuhan Malagrida yang agamawan, yang harus dilenyapkan hanya karena berkhutbah? Saya tak tahu. Barangkali kelewat hitam putih-bukan dalam proporsi sekuler atau bukan-melainkan sebuah pengakuan pada sesuatu yang menyimpan ironi di dalamnya, bahwa apa yang ditimpakan kepada Malagrida ternyata nyaris linier dengan kebijakan Vatikan yang melarang peredaran Candide tahun 1762.

Betapa bencana kemudian terlihat bukan semata-mata perdebatan natural atau supranatural. Akan tetapi bencana, baik sebelum atau sesudah terjadinya juga merupakan bagian dari kebijakan politik yang harus segera diambil untuk memastikan nasib orang banyak. Setelah 225 tahun malapetaka Lisbon, enam tahun gempa dan tsunami Sumatera Utara yang melabrak Aceh dan beberapa kawasan di Asia, Afrika dan Australia, kita mengakui: kalender gempa tak setiap hari berwarna merah-dan agaknya kita membutuhkan kebijakan yang mungkin jauh lebih arif daripada sekedar mencegat mereka yang berpakaian ketat di tengah jalan-seperti yang kini diberlakukan di Aceh. Dan Tuhan?

Tuhan masih tetap seperti "sepasukan metafor, parabel dan alegori". Selain itu selalu ada situasi dimana-meminjam penggalan puisi Radhar Panca Dahana-"...kauaku / tak bisa nafas kecuali lepas / aku bergegas kau tak juga lekas / tuhan bungkam / dosa terhina / manusia / baqa". Ketika bahasa juga menyimpan keretakan di dalam dirinya dan memancangkan batas di hadapan Yang Rahasia.

Bukan berarti kita tak merindukan Kepastian Itu. Dengan kata lain, seperti yang diyakini Karen Amstrong dalam Sejarah Tuhan, bahwa setiap generasi bertanggung jawab untuk merumuskan konsepsi tentang Tuhan yang paling relevan. Tentu bukan atas nama pahala atau dosa, surga atau neraka, juga bukan atas nama Voltaire atau Rousseau, Kant atau Leibniz, Pombal atau Malagrida, akan tetapi atas nama kesementaraan itu sendiri.[]

 


Tag: Bencana, Gempa, tuhan, Lisbon

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Silahkan login untuk memberikan pendapat