Tuhan di Sekitar Gempa 1 November 1755 (2) 2

Minggu, 12 Des '10 20:29

 

Judith Shklar, seorang kritikus politik bahkan menulis bahwa apa yang membuat gempa Lisbon 1755 kembali diingat bukanlah terletak pada kerusakan parah yang dihasilkannya, bukan pula karena banyaknya korban yang berjatuhan, namun justru karena bangkitnya tanggapan intelektual di penjuru Eropa. Saat dimana Tuhan kemudian diperdebatkan orang ramai dan didiskusikan pemikir-pemikir terbaik (Judith Shklar 1990; Karl Fuchs 2005).

Judith Shklar kiranya tak terlampau berlebihan. Perdebatan instensif pasca gempa Lisbon 1755, atau apa yang kemudian disebut Kendrick (1955) sebagai 'teologi-gempa abad delapan belas' memang 'gaduh' nan kompleks. Penerbitan dalam jumlah besar bersahutan merespon gempa Lisbon, pertunjukan teater digelar, yang sedikit tidak juga mempengaruhi pergeseran pandangan Eropa. Karenanya, gempa Lisbon-meski tak dapat dikatakan sebagai titik tolak-harus diakui sebagai momentum penting bagi Eropa dalam proses evaluasi konsepsi teologis mereka, perihal bagaimana meninjau dan mempersepsikan ulang 'Penggerak Pertama (causa prima), yang oleh bahasa sehari-hari disepakati bernama "Tuhan". Posisi Tuhan nantinya lamat-lamat akan bergeser, dan pada gilirannya malah tersingkir, atau mungkin lebih tepat jika kita sebut "disingkirkan". Genderang dimulainya tahap baru pandangan Eropa yang "sekuler"pun ditabuh lebih keras, berdentuman menyuarakan sebuah kultus yang diklaim mengusir entitas Tuhan dari realitas manusia dan alam.  

Di Prancis misalnya, Voltaire yang mendapat kabar bencana di Lisbon dua minggu sesudahnya menumpahkan kegetirannya dalam puisi bergaya ironis, Poem on the Lisbon Disaster (terj. Eli Siegel). Puisi ini menyebar di seluruh Eropa dan menyusup tegas seperti petisi: doktrin yang berlimpah itu harus koyak, bahwa kita tak mungkin akan berkata, "Tuhan bikin perhitungan, ajal mereka adalah tebusan atas kekejian-kekejian mereka."

"Lisbon diluluhlantak," Voltaire melanjutkan ironinya "dan mereka berdansa di Paris." Jika memang bencana Lisbon adalah pembalasan Tuhan, kenapa bukan di Paris atau London? Apa pula kesalahan bocah-bocah kecil itu, apakah karena "kulit dan cucuran darah pada air susu ibu mereka, iya?"

Begitulah Voltaire, ia datang sebagai suara yang menyerukan perlawanan pada "pandangan yang tak masuk akal" dalam konsepsi agama yang tak toleran. Ia tak suka dengan istilah dosa, apalagi bidah, yang baginya padahal tak pelak tanpa rasa malu turut serta menyumbangkan rangkaian kekejian.

Ada sebuah dialog antara seorang perwira dengan Voltaire yang ditulis Marquis de Condordet pada paruh pertama abad sembilan belas. Kepada Voltaire, sang perwira berkata dengan tegas, "apapun yang dapat kautulis, kau tak akan pernah mampu menghancurkan agama Kristen." Voltaire hanya menjawab, "kita akan melihatnya." Dan orang-orang telah melihat, bukan kehancuran Kristen memang, tetapi sebuah tusukan tajam di ulu hati kebenaran yang bersumber dari gereja dan agama. Apa yang ditandaskan para Jesuit yang terus menerus berkhobah tentang gempa Lisbon sebagai pembalasan Tuhan terhadap dosa-dosa yang telah kehilangan ruang toleransi Otoritas, bagi Voltaire, tak bisa lagi diterima. Misteri-misteri usang semacam itu bahkan harus dikubur "ke dalam sebuah lubang".

Akan tetapi Voltaire tidak menolak realitas Tuhan, atau sekurang-kurangnya gagasan tentang Tuhan. Voltaire menyatakan dirinya masih yakin Tuhan adalah Perancang Agung. Dalam Philosophycal Dictionary (terj. Theodore Bestermen 1974) ia bahkan banyak melakukan serangan terhadap laku ateisme yang baginya sama berkabutnya dengan doktrin-doktrin gereja. Ia mengklaim ateisme sebagai musuh besar bagi mereka yang berkuasa, yang senantiasa berbahaya bagi kebaikan meskipun tak separah fanatisme (Karen Armstrong 2004; Jean-Claude Pecker 2008 ). "Jika Tuhan memang tak ada," tulisnya dalam salah satu surat, "maka Dia harus ditemukan." Agaknya ini menjadi alasan kuat bagi para penyusun bibliografi dan ensiklopedi ketika mengklasifikasikannya ke dalam "The Encyclopedia of Unbelief," bukan "Atheism". Menurutnya Tuhan adalah satu hal, dan apa yang telah diperbuat oleh gereja adalah satu hal lain yang sangat berbeda. Ia hanya gerah, dan menuduh betapa misteri-misteri pekat yang dirawat gereja seringkali digunakan sebagai legitimasi untuk akumulasi kekuasaaan dan secara sembarangan melakukan kekejaman atas nama Tuhan. Dengan kekuasaan, gereja melakukan dominasi terhadap "kebenaran" sehingga apa yang diberikan Tuhan kepada manusia, berupa kecemerlangan pikiran menjadi sia-sia karena dikurung doktrin dan dogma. Karena itu, soal keyakinan pada Tuhan, Voltaire lebih memilih menjadi pewaris metode antropologis daripada pendekatan ritual keagamaan dan sederet perayaan.

Dalam Poem on the Lisbon Disaster kita juga melihat bagaimana Voltaire menarik dalil Leibniz-perihal keseimbangan kosmis dan mikrokosmis yang ditopang Tuhan-menuju medan kritiknya, bahwa "dunia yang terbaik yang mungkin ada", dalam pesimisme Voltaire, harus digugat. Ketika puisi itu ditambahkan, "dirayu para filsuf yang menangis..", tentu itu juga pesan khusus untuk Leibniz, juga Alexander Pope.

Tak lama, Jean-Jacques Rousseau, filosof segenerasi dengan Voltaire angkat bicara, ia mengirim sepucuk surat untuk Voltaire tanggal 17 Agustus 1756 mengenai puisi Voltaire. Rousseau mengawali suratnya dengan, "Keluhan saya adalah... menentang puisimu tentang gempa Lisbon sebab..." Ada banyak 'sebab' dalam surat Rousseau. Ia menguraikan daftar 'sebab" itu sampai akhir surat. Beberapa kalimat Rousseau ditulis dengan luapan emosi meledak-ledak. Ia seperti sedang memaksa diri "meluruskan" sesuatu yang bahkan berada agak jauh dari jangkauannya: Voltaire dan puisinya. "Kau mencela Alexander Pope dan Leibniz dengan meremehkan kemalangan kami..." ungkap Rousseau. Saya tak tahu entah bagaimana raut wajah Voltaire saat membaca surat Rousseau. Barangkali ia tersenyum, sekaligus tersentuh seperti membaca sepucuk surat seorang remaja yang marah karena cintanya yang suci ditolak. Pada bagian akhir surat, Rousseau mencoba meyakinkan dirinya sendiri, "tak ada kepelikan metafisis yang menyebabkan saya meragukan keabadian jiwa dan kemurahan Tuhan. Saya merasakannya, saya meyakininya, saya menghasratinya, saya mengharapkannya, saya akan menjunjungnya sampai penghabisan."

Rousseau juga menulis seandainya penduduk Lisbon 'membangun rumah yang lebih kecil', atau tak tamak, maka kerusakannya tentu tak separah yang terjadi.

Apapun yang dikatakan Rousseau, kita tahu Voltaire tak surut. Beberapa tahun kemudian bangunan kritiknya terhadap Leibniz malah diperkokoh lagi, ketika ia menerbitkan sebuah novel berlatar gempa Lisbon, Candide (1759).

 


Tag: Bencana, Gempa, tuhan, Lisbon

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

ketoles ARBIMAPALA 0 0
Mantap bung, dan selamat Datang ke rumahmu, (kemana aja) hehehe
Oo Zaki 0 0
ketoles ARBIMAPALA: Gak ke mana-mana bung. Masih di sini kok. Saya diterjang gempa dan tsunami terus.. Banyak gempa dan tsunami. Bukan hanya di Lisbon 1755 atau Simut 2004. Gempa ternyata ada di mana-mana, dengan bentuk yang berbeda. Kadang jauh lebih mengerikan dari gempa bumi. Yah, begitulah. Makanya saya masih di sini; menghitung gempa.

Silahkan login untuk memberikan pendapat