Merdeka, Sebuah Cita-Cita Bangsa yang Kian Menjauh 0
Minggu, 5 Des '10 15:10
Dewasa ini, setiap tanggal 17 Agustus sudah lumrah bila dihiasi dengan lomba besar-besaran untuk memperingati hari kemerdekaan negara kita ini. Berbagai lomba sering diselenggarakan seperti panjat pinang, balap karung dan lain-lain. Sayangnya, suasana kemerdekaan ini hanya bertahan selama hari itu saja. Bahkan dari mereka ada yang tidak dapat menikmati kemerdekaannya. Hanya sebagian saja yang benar-benar menikmatinya.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, " Merdeka " adalah bebas dari perhambaan,penjajahan serta berdiri di kaki sendiri, arti ini pun mencakup kebebasan dari kemiskinan, kebodohan dan pembodohan serta kebebasan untuk berpartisipasi dalam suatu pengambilan kebijakan yang menyangkut kepentingan terkait. Tapi pada kehidupan realita sekarang, ketiga aspek di atas masih saja jauh dari kata cukup. Bahkan untuk beberapa daerah, kecukupannya pantas menyandang predikat memprihatinkan. Sebagai contoh, tingkat angka kemiskinan di daerah Bandung mencapai 440.000 kepala keluarga. Angka ini hanya diambil dari Kab.Bandung Barat yang merupakan sebagian kecil dari Kota Bandung. Tercatat sebesar 14,5% dari total penduduk Indonesia yang hidup di bawah garis cukup ekonomi. Fakta-fakta di atas sungguh menyesakkan bila melihat bahwa Indonesia sudah merdeka tahun 1945, 65 tahun. Kondisi ini diperparah dengan tingkat pendidikan Indonesia yang sangat rendah. Tercatat hanya 17,3% warga Indonesia yang pernah mengecap pendidikan dan tidak semua dari mereka yang melewati progam Wajib Belajar ( Wajar ) 9 tahun. Angka ini sangat jauh tertinggal dibandingkan dengan Negara berkembang lainnya, yaitu berkisar di 35%. Bila hal ini terus berlanjut, rakyat Indonesia tidak bias bersaing di era globalisasi ini.
Melihat kondisi ini, arget angka 4-9 % kemiskinan yang dipatok pemerintah sepertinya pun akan sangat sulit terealisasi pada tahun 2014 nanti. Menurut Anton Gunawan, ekonom dari Bank Danamon, tingkat inflasi barang-barang pokok dapat mengancam kestabilan ekonomi di Indonesia. Bila kestabilan perekonomian terganggu maka, akan timbul respon-respon negatif di masyarakat yang dapat menimbulkan kelesuan pasar. Hal ini pun diperparah oleh inflasi global, yang bermula dari jatuhnya perekonomian Amerika Serikat, serta usaha-usaha pemulihan ekonomi global yang dapat turut mendongkrak angka inflasi. Pemberian BLT ( Bantuan Langsung Tunai ) pun tidak efektif karena efek BLT hanya bersifat sementara sedangkan penyuluhan perihal pemanfaatan modal tidak pernah diadakan oleh pemerintah sehingga uang BLT tidak dapat dikaryakan.
Sudah sewajarnya, sekarang kita beralih pada solusi yang visible untuk dijalankan. Penyokongan serta pertambahan dukungan terhadap usaha kecil dan menengah adalah salah satunya. Hal ini terbukti efektif menopang perekonomian Indonesia dikarenakan perusahaan kecil dan menengah di Indonesia tergolong cukup banyak. Peran usaha kecil dan menengah ( UKM ) tergolong cukup signifikan. Selain sebagai salah satu pilar kebangkitan Indonesia pasca krisis moneter 1998, UKM menyerap banyak tenaga kerja, sehingga pengangguran dapat berkurang yang mengakibatkan berkurangnya angka kriminalitas.
Penyokongan masalah pendidikan pun perlu di intensifkan. Dana BOS sudah sewajarnya cepat dicairkan agar pendidikan di Indonesia merata untuk setiap lapisan masyarakat. Mungkin hal-hal inilah yang seharusnya cepat ditanggapi oleh pemerintah. Merdeka!!
Tag: Ekonomi
Terkait:
-
Social Entrepreneur untuk Indonesia
Minggu, 21 Agu '11 04:07 -
Analisis Dampak ACFTA bagi Indonesia, Peluang atau Hambatan.
Kamis, 29 Apr '10 00:22 -
Catatan Kaki: Titik Balik Awal Mula Perdagangan Internasional di Nusantara
Sabtu, 3 Okt '09 00:55
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
andi_tulungagung: Bagus
-
dewi alfath: Bagus
-
Oo Zaki: Biasa
Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat