Seandainya Saya Bukan Mahasiswa FE Unej 8
Rabu, 1 Des '10 01:21
Peristiwa yang melibatkan saya dan kepala jurusan (kajur) tempat saya belajar itu terjadi sekitar dua tahun yang lalu, dan di kemudian hari memancing saya berandai-andai jikalau saya tidak menjadi mahasiswa FE Unej.
Perkaranya saya menolak untuk ikut KKL (Kuliah Kerja Lapangan), yang di fakultas saya diwajibkan meski tidak ada sksnya, karena sertifikatnya, katanya, menjadi persyaratan buat saya ketika hendak lulus kelak. Oleh karena tidak sempat ikut pertemuan antara jurusan dan mahasiswa jadi saya mendatangi kantor jurusan dan bilang langsung pada kajur mengenai kehendak saya itu. Setelah terlebih dahulu mengucap salam dan permisi tentunya, saya pun mengutarakan ketidaksetujuan saya pada KKL, sebab bagi saya KKL itu sebagai kegiatan hura-hura dan terus terang saya mengikuti nasehat ibu untuk sebisa mungkin menghemat uang jangan digunakan kegiatan yang tidak teramat penting.
Sebagai gantinya saya menawarkan usulan untuk KKL sendiri di lokasi yang dekat-dekat saja dan melaksanakan tugas-tugasnya semisal buat laporan kegiatan juga mempresentasikan hasilnya. Soal uang subsidi KKL dari universitas itu akan saya ikhlaskan.
Tapi kajur saya itu menanggapi dengan berkata, "Kalau ngak mau ikut aturan jangan kuliah di sini." Saya yang bingung dengan pernyatan itu hanya menjawab semengerti saya, "Lha yang menerima saya kuliah di sini kan universitas ini, saya cuma mendaftar." Begitulah akhirnya saya tidak ikut KKL tahun itu, kemudian saya ikut tahun depannya bersama adik-adik angkatan. Sebab saya tidak bakal bisa jadi sarjana tanpa punya sertifikat itu.
Sekarang saya masih mahasiswa FE Unej, tepatnya mahasiswa jurusan Manajamen dengan semester banyak yakni sembilan. Meski terbilang terlambat, tapi tak apalah, saya berandai-andai sekarang, toh berandai-andai tidak pernah ada salahnya. Setelah berjalan-jalan dan mengamati universitas lain, saya membayangkan bagaimana keadaan saya jika dahulu saya tidak diterima di FE Unej ini dan akhirnya saya harus memilih berkuliah di universitas swasta tepatnya di Sanata Dharma Jogjakarta, universitas yang paling akhir saya kunjungi, sekitar Agustus silam.
Saya tiba di universitas itu untuk melakukan agenda wawancara dengan Fitri Nganthi Wani, anak penyair Wiji Thukul yang sampai saat ini tidak diketahui keberadannya. Tadinya saya berpikir, kedatangan saya hanya cukup bertemu dengan Wani, tapi setelah dipikir-pikir lagi kok sayang jika kesempatan ini dilewatkan begitu saja. Akhirnya saya pun berjalan-jalan keliling kampus itu, sekaligus mengais data tambahan buat memperdalam tulisan yang direncanakan akan dimuat di majalah ECPOSE 29 mendatang.
Saya ingat hari itu hari Senin 16 Agustus 2010, besoknya peringatan hari kemerdekaan Indonesia yang ke 65, sedangkan kemarinnya Minggu. Hari itu adalah hari pertama dimulainya kuliah di Sanata Dharma. Hari seperti ini seringkali disebut oleh saya juga teman-teman lain di Jember sebagai Harpitnas (hari kecepit nasional), jadi seringkali dianggap tanggal merah juga alias libur. Sebab itu saya jadi ragu-ragu datang ke kampus Sanata Dharma hari itu, jangan-jangan tidak ada orang lagi.
Tetapi saya salah duga. Di sana ternyata banyak sekali manusianya. Meski hari pertama kuliah namun ruang kelas telah penuh. Saya jadi heran, ini sebenarnya saya yang salah atau mereka yang tidak wajar. Saat hendak bertemu B. Rahmanto, Kaprodi Bahasa Indonesia Sanata Dharma, saya harus menunggu sekitar empat jam karena masih mengajar. Setelah bertemu denganya saya sempatkan bertanya tentang ketidakwajaran ini. Menurutnya, memang begitu keadaannya, sejak hari pertama aktivitas kampus telah dimulai.
Sayangnya, saya masih tidak percaya. Untuk meyakinkan, kaprodi itu menunjukkan absensi hari itu. "Loh, loh, loh kok sudah ada absensinya segala," kata saya dalam benak. Dari 15 mahasiswa hanya dua yang tidak masuk, kelas satunya lagi bahkan masuk semua. Bahkan Wani teman saya menuliskan status di facebooknya, jika di hari itu dia sudah kuliah meski hanya tiga mahasiswa satu kelas.
Di universitas itu pula, mahasiswanya tidak perlu repot-repot jika butuh bimbingan atau hendak melakukan diskusi dengan dosen, sebab setiap dosen memiliki ruang sendiri-sendiri. Dan lagi sudah menjadi kebiasaan bagi dosen berada di ruangan itu saat jam-jam dinas, melakukan segala hal yang berhubungan dengan kegiatan intelektual, semacam menulis atau membaca buku.
Di tengah-tengah kampus saya melihat ada student centre. Di sana banyak sekali mahasiswa dengan beragam aktivitas. Ada yang berdiskusi, membaca buku, diskusi, dan berinteret ria. Menurut cerita, di sana sering dilakukan pemutaran film, pameran karya, pentas seni atau juga pembacaan puisi oleh mahasiswa. Ah, betapa senangnya.
Tetapi sayang saya hanya mahasiswa FE Unej yang hanya punya mushola satu-satunya tempat yang bisa dan biasa digunakan untuk berdiskusi, belajar kelompok, atau berinternet. Soal masuk awal kuliah seringkali molor, entah siapa yang memulai dahulu dosen atau mahasiswanya. Saya akui bahwa soal yang kedua ini yang justru menyelamatkan mahasiswa dengan semester banyak ini, meski di awal-awal perkuliahan saya jarang masuk kuliah saya tidak pernah ketinggalan urusan absensi.
Sebelum saya mempublikasikan esai ini, saya sempat tanya salah seorang rekan persma di Sanata Dharma, berapa biaya kuliah di sana? Mending dibandingkan saja dengan universitas di Papua, Unej terlihat lebih baik fasilitasnya, biaya kuliah di Sanata Dharma lebih mahal, jawabnya. Kemudian saja menjawab pesannya, "Lha saya kan cuma berandai-andai masak ngak boleh? Toh, amanat UUD '45 bilang pendidikan itu hak setiap warga negara." []
Tag: dosen, Universitas Jember, dan iseng
Terkait:
-
Batas
Rabu, 15 Des '10 00:48 -
Diskriminasi Pendidikan Terulang Kembali
Sabtu, 7 Agu '10 05:16 -
BERBINCANG TENTANG PENGAJAR KITA, YUK!
Selasa, 27 Apr '10 13:30
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
dewi alfath: Responsif
-
Oo Zaki: Bagus
-
arman dhani bustomi: Penting
-
Die Key belajar nulis: Responsif
Komentar:
sayangnya mas cuma liat sanata dharma dalam sehari dan itupun dari "kulit" luar saja, banyak kebijakan-kebijakan kampus yang sangat merugikan mahasiswa mulai dari uang kuliah sampe penghapusan mata kuliah yang oleh sebagian besar mahasiswa masih dianggap penting. dan yang paling parah adalah penipuan yang dilakukan oleh pihak kampus dalam hal ini prodi sastra inggris yang awalnya menawarkan beberapa mata kuliah yang pada kenyataannya fiktif...sanata dharma memang berkualitas dari segi akademis, namun intelektual?entahlah
Kita terus memberontak, kita terus saja berkata idealisme, kita terus harus yakin perjuangan kita adalah letupan emosi pemuda.
hihihi, barangkali cuma sebentar membuat saya tidak tahu lebih dalam ttg USD. Tapi tempatnya keren, setidaknya buat ukuran mahasiswa Unej seperti saya.
salam ke teman-teman...
salam disampaikan heheheh
Silahkan login untuk memberikan pendapat