Lawan Berat Dari Kampus 0
Rabu, 24 Nov '10 20:32
"Dia selalu bilang pada anak-anak itu :
Kalau mati dengan berani, kalau hidup, hidup dengan berani.
Kalau keberanian tidak ada,
Itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita." - Pramoedya Ananta Toer.
"Huuuuuu!!!" seru ratusan mahasiswa Universitas Pahlawan yang tengah berada di ruang kuliah.
Saat itu mahasiswa tengah dihebohkan oleh kegiatan jurusan yang berbudget selangit. Mereka diwajibkan membayar Rp.125.000 demi kegiatan yang hanya beberapa jam dan jarak lokasi kegiatan sekitar tiga puluh menit dari pusat kota.
Emosi sempat meninggi, mereka berniat tidak mengikuti kegiatan yang dinilai hanya mencari keuntungan. Biaya yang wajar untuk kegiatan itu, kalau mau dihitung-hitung, tidaklah lebih dari Rp.50.000.
"Paling hanya keluarkan biaya transportasi dan konsumsi aja," tutur Frans dengan nada kecewa.
"Yang paling masuk akal Cuma Rp. 25.000, tuh!!" sahut mahasiswa lain dalam kelas yang masih ribut dengan seruan kekecewaan.
Panitia penyelenggara kegiatan telah membaca reaksi hampir seluruh mahasiswa yang jelas-jelas menentang kegiatan dengan rincian dana tidak jelas itu. Di tempat berbeda, Pak Peter (65) dan Edwin (32) sedang mimikirkan langkah untuk menyukseskan kegiatan tahunan tersebut, bukannya meninjau dan mengurangi biaya, pihak panitia malah mengambil langkah edannya.
"Kita tekan saja mereka, pak. Kita ancam kalau tidak mengikuti kegiatan maka nilai tugas mereka akan dikurangi, dan lagi peserta kegiatan ini akan mendapat sertifikat yang berguna diakhir perkuliahan nantinya," tutur Edwin yang merupakan sekretaris panitia.
Mendengar ucapan Edwin, Pak Peter, ketua panitia kegiatan tersebut langsung tersentak, beliau begitu terkejut dengan saran mantan mahasiswanya. Tiba-tiba semangat Pak Peter untuk menyelenggarakan kegiatan ini kembali membara.
Sebelumnya, Pak Peter pesimis dengan penyelenggaran kegiatan dengan kedok Pengabdian Pada Masyarakat ini. Maklum, menginjak H-3, peserta yang mendaftarkan diri hanya tiga orang, jauh dari jumlah sebenarnya yang mencapai tiga ratus mahasiswa.
"Tak sia-sia kamu ambil S2 sampai ke Amerika sana," tutur Pak Peter kepada Edwin.
Ke esokan harinya, Edwin berniat menyampaikan hasil kesepakatan disetiap kelas. Sadar tidak mampu bekerja seorang diri, Edwin menyertakan Mery, pimpinan mahasiswa yang dinilai bisa mempengaruhi kawan-kawannya.
"Kau bantu-bantu saya, ya! Tidak usah bayar, dech. Malahan kalau ada kelebihan dana pasti akan dibagikan," rayu Edwin.
Tanpa pikir panjang Mery menyetujui tawaran dari dosennya. Ia tidak pusing dengan nasib kawan-kawannya yang kurang mampu. Persetan dengan Onesimus, perantau dari Puncak Jaya, Papua, yang biaya makan sehari-hari saja susahnya bukan main. Acuhkan Jhony, mahasiswa rantau dari tanah Batak, yang duit kos bulan ini saja belum dibayar.
Mery tak beda dengan Edwin, berpikir mahasiswa merupakan anak-anak orang kaya. Mereka mengira sedang hidup dijaman ‘feodal' saat pendidikan hanya jadi milik orang berduit.
"Kalau tidak punya duit tidak usah kuliah!!!" teriak Edwin memecah kegaduhan kelas.
Beberapa mahasiswa yang tadinya ribut menolak kebijakan sekejap membisu, mereka ketakutan melihat ekspresi wajah Edwin yang memerah. Suasana kelas berubah, tak ada satu setan pun mengeluarkan suara, selain Edwin.
"Kegiatan ini wajib diikuti seluruh mahasiswa karena ada sertifikat!!!"
"Paham???!!!" tanya Edwin yang lebih menggambarkan pernyataan.
"Yang mau mendaftar silahkan hubungi Mery!!" lanjutnya.
"Saya tidak setuju, pak!" teriak Adi mengejutkan kawan-kawan sekelasnya.
"Biaya ini terlalu mahal dan tidak tidak jelas rinciannya!" lanjutnya.
"Saya sudah bilang kalau tidak punya duit tidak usah kuliah!" balas Edwin sambil memukul mejanya, tanda amarahnya semakin membumbung.
"Saya kuliah untuk belajar supaya bisa mencari duit nantinya!" Karena emosi, tanpa sadar adi telah berdiri, tidak lagi duduk dikursinya.
"Kamu ini pembangkang, jangan harap lulus dimata kuliah saya!" jawaban ini sekaligus meluluhkan amarah Adi yang menyala-nyala sebelumnya.
Intimidasi dari penguasa seperti Edwin terbilang ampuh merubah suasana. Daftar peserta yang sebelumnya hanya diikuti tiga orang tiba-tiba membeludak menjadi lebih dari dua ratus mahasiswa.
Nampaknya sudah tidak lagi bisa dibantah, mahasiswa sedang dipecundangi penguasa kampus, bahkan ditelanjangi. Mereka yang dulunya merontokkan gigi Soekarno dan membanting tubuh Soeharto sampai ke lantai kini benar-benar tak mampu bertindak. Belenggu mengikat mereka begitu kuat. Sistem pendidikan yang otoriter membuat mereka menjadi kecil, sangat kecil.
"Kalau yang aku lawan Presiden, Menteri atau Gubernur takkan surut nyaliku. Tapi, aku takkan berjudi dengan ijazah. Bisa kumat jantung ayahku!" curhat Adi suatu ketika.
Keadaan ini mengingatkan penulis pada puisi W.S Rendra, kurang lebih seperti ini kutipannya :
Dosen takut Menteri,
Menteri takut Presiden,
Presiden takut Mahasiswa,
Mahasiswa takut Dosen...
Kegiatan formalitas berbudget selangit dan tidak transparan berakhir dengan memuaskan, bagi Pak Peter terlebih Edwin, yang memiliki perang penting dalam mempengaruhi mahasiswanya. Kekuasaan Edwin berhasil menjadi alat menindas paling efektif dalam menekan perlawanan dari kubu mahasiswa. Mereka memperoleh keuntungan lebih dari dua puluh juta dari kegiatan itu. Sementara itu, peserta hanya bisa meratapi kesedihan karena tidak memperoleh hasil yang memuaskan dari kegiatan itu.
Entah, sampai kapan penindasan akan terus terjadi. Jika tidak menyadarkan diri dan bersatu untuk melawan, kemungkinan sistem pendidikan adalah lawan paling lama yang akan ditumbangkan mahasiswa, lebih lama dari kepemimpinan Soeharto. Semoga mahasiswa diseantero Nusantara bisa melek dan menggalang perlawanan secara frontal. Seperti tulisan Pramoedya Ananta Toer :
"Kita bersatu dan juga melawan,
Bahkan menyerang. Kalau ada persatuan
Semua bisa kita lakukan, jangankan rumah,
Gunung dan laut bisa kita pindahkan."
Merdeka!!!
Tag: story telling
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Oo Zaki: Biasa
Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat