“Bencana” Bagi Pengemis 3

Sabtu, 20 Nov '10 00:50

Oleh : Imam Efendi*
Jika anda berkeliling - keliling atau jalan - jalan menikmati suasana kota jember, pasti anda menemui elemen masyarakat yang akhir - akhir ini sering memegang kardus dipinggir jalan dengan bertuliskan "PEDULI BENCANA", mulai dari tingkat siswa sampai tingkat mahasiswa.
Dilampu - lampu merah, pasar - pasar dan super market adalah target untuk mengumpulkan dana para pemegang kardus solidaritas itu. Pagi, siang, sore, dan malam hari merupakan waktu pegumpulan dana untuk korban bencana yang terjadi diberbagai daerah, seperti Wasior, Mentawai, dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Mobil dan motor berjalan pelan - pelan ketika pemegang kardus berdiri dipinggir jalan, meskipun masih ada saja para pengemudi kendaraan bermotor yang tak mau kompromi alias mengemudi kendaraannya dengan kecepatan tinggi.
Sedikit saya akan bercerita tentang paengalaman memegang kardus dipinggir jalan. Kemarin tepatnya 13 November 2010 pukul.08.30 saya dan teman - teman yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Komunikasi Universitas Islam Jember Peduli Korban Merapi, berdiri dipinggir jalan menggalang dana untuk korban bencana letusan Gunung Merapi di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Waktu itu dilampu merah perempatan mangli Jl.OTTO ISKANDAR, saya hampir ditabrak pengemudi motor SUPRA gara - gara sipengemudi ingin mendahului sebuah truk berwarna kuning tanpa melihat situasi didepan truk, akhirnya cukup membuat saya sedikit kaget, meskipun tidak sampai ditabrak hanya hampir ditabrak.
Maksud saya adalah ini sebagian contoh dari para pengemudi yang mengendarai kendaraannya dengan kecepatan cukup tinggi saat penggalan dana berlangsung yang tak jarang membuat jantung saya berdetak kencang.
Tidak hanya itu, masih banyak contoh yang lain tentang para pengemudi kendaraan dengan kecepatan cukup tingg,i seprti truk, mobil pribadi, fuso yang hampir nyerempet saya dan sebagian teman - teman saya.

Merasa Tersaingi

Meringan beban atau mengumpulkan dana untuk membantu saudara - saudara kita adalah pekerjaan yang mulia, sebab dengan bantuan kita meskipun hanya sedikit hal itu bisa mengurangi beban yang dipikul saudara kita yang terkena bencana.
Seperti kita ketahui atau sering kita temui disetiap lampu - lampu merah terdapat beberapa orang dengan beragam profesi. Ada yang profesinya menjual Koran, ada yang ngamen, ada yang ngemis dan lain - lain. Dan semuanya berkompetisi untuk mendapatkan uang.
Berbicara tengtang pengemis saya jadi teringat dengan mobil PANTHER warna biru di lampu merah perempatan mangli juga, setelah berpindah tempat yang awalnya berdiri dijalan yang arahnya dari selatan yang tadi hampir ditabrak motor, kini dari arah barat dan beda lagi ceritanya.
Mobil itu berhenti 2(dua) meter dari depan saya ketika jalan diperempatan mangli yang dari arah barat lampu rambu - rambu lalu lintas mulai menunjukkan warna merahnya. "mas".kata sopir memanggil saya sambil mengeluarkan uang seribuan dari pintu mobil depannya. Sayapun langsung menghampiri sang sopir yang ingin menyumbang itu. Lah tiba - tiba seorang pengemis muncul dan mendahului saya untuk mengambil uang seribuan itu ketika jarak saya dengan sopir 1,5 meter. ya Akhirnya sang sopir hanya bisa tersenyum begitupun dengan saya.
Dari cerita ini ada dua point penting yang harus kita renungkan. Yang pertama, kegiatan yang saya laksanakan bersama teman - teman berupa penggalangan dana dilampu merah perempatan mangli, merupakan bentuk kepedulian terhadap saudara - saudara kita yang menjadi korban bencana letusan Gunung Merapi diDaerah Istimewa Yogyakarta.
Yang kedua, kegiatan yang saya laksanakan bersama teman - teman telah mengganggu pengemis atau pengemis merasa tersaingi dengan keberadaan saya dan teman - teman dalam melaksanakan kegiatan penggalangan dana untuk para korban bencana letusan Gunung Merapi.
Dua point diatas merupakan hal yang perlu direnungkan bersama mengingat, disatu sisi kita membantu korban yang terkena bencana, dan disisi lain kita bisa menjadi penghambat bagi keberlangsungan hidup seorang pengemis dengan menjadi "saingannya", yakni menggalang dana ditempat biasa sang pengemis mangkal, yang mengakibatkan para pengguna jalan beralih perhatiannya kepada para pemegang kardus yang bertuliskan "PEDULI BENCANA".

 

 


Tag: yogyakarta, Wasior, Mentawai

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

sisca civitas 0 0
hah? mrasa tersaingi ... pengemis?
kyak pekerjaan aja...

pengemis itu pkerjaan hina.. aplgi yg ngemis itu sehat walafiat... ngapain mrsa ksihan?

oh ya, stu lgi.. perihal anda hmpir dtabrak.. mngkin pngemudi2 itu sdh bosan .. hbisnya stiap lmpu merah ada kotak peduli yg brjlan2 ,, nah, drpda dmntai trus selagi dia g da uang,, mngkn lgsng tncp gas aja deh mreka. jgan skt hti.. ambil pstif nya sja..

jgan2 dlm hti mreka blng : " lha, kok pas ada bncana sja bru rame nih jlan2?"
warna-warni lgi ... "Hijau, Merah Kuning, Biru..."

hehehehe
=D , sgala amal ikhlas psti akan brbuah baik kok.
Wahyu Eko P 0 0
kenapa harus tunggu bencana?????????
Imam Efendi 0 0
ya lalu apa klo bukan pekerjaan?

Silahkan login untuk memberikan pendapat