Hampir Terkapar (Aku) 0
Selasa, 16 Nov '10 21:27
Pertama-tama saya menulis kalimat ini, yang kedua ahh enaknya apa ya. Lalu kemudian saya paksakan mata ini melirik pada jarum jam di dinding, ternyata masih jam 23.50 WIB. Ya sudah, saya lanjutkan lagi menulis ini. Sebenarnya saya bingung mau nulis apa. Tapi tak apalah saya terus menulis apa yang menjadi keinginan diri ini. Bosen, bosen sekali. Ehh, gak jadi bosen ternyata buktinya saya terus menulis ini. Banyak yang protes sebenarnya, khususnya pada tulisan-tulisan buruk saya. Ada yang bilang asal tulis, ada yang bilang tulisan ngawur ada yang bilang tulisan tak bermakna, parahnya ada yang bilang kamu itu di ciptakan Tuhan bukan untuk menulis. Ahh, biarkan saja, yang penting saya berbuat dan tak merugikan kalian, perlu di ingat meminjam kata kakek saya “wong jenenge wae belajar, yo wajar lek kliru”. (namanya saja belajar, wajarlah jika menemui kesalahan). Benar juga kata-kata kakek saya. Okelah kalau begitu saya ucapkan “terimakasih kakek”. He he he.
Nah, saya ingat, ternyata saya sudah sekitar satu bulan menghindar dari yang namanya nulis. Di depan komputer tua ini (komputer pinjam lagi), saya sering bercerita (curhat). Mulai dari hidup, keadaan dan bukan masalah percintaan tentunya. Kadang saya ingin sekali bercerita tentang percintaan saya, namun apes, saya tak suka bercerita tentang itu. hal yang perlu anda ketahui dari saya, yaitu dengan sangat tak sadar saya mula-mula tak jatuh hati lagi dengan yang namanya sepak bola, parahnya saya sudah lupa Hendro Kartiko mengawal pintu terakhir tim mana pada musim ini. Dengan sangat ganasnya doktrin dunia tulis sampai saya lupa bagaimana kadang saya harus pejamkan sepasang mata. Sekali lagi tak apalah, yang penting saya tak merugikan kalian. Dari pada saya berteriak-teriak tak ada gunanya, dari pada saya menyanyi di kamar mandi nanti burung peliharaan tetangga sebelah kabur gara-gara mendengar nyanyian buruk saya (Jamrud).
Ajaran aliran dunia tulis sangat parah menerpa diri saya. Anda mungkin pernah mendengar sabda yang berbunyi “penanda/petanda, tulisan lebih istimewa dari pada tuturan”. Saya akui itu, jika anda tidak itu urusan anda. Sebenarnya sih, saya tak paham pada dunia tulis ini. Setelah tanda titik itu bagaimana, setelah tanda koma itu bagaimana saya tak cukup paham. BODOH ! iya saya akui saya bodoh. Di kemudian hari pernah nada pesan SMS HP saya berbunyi lalu tak buka “Lagi apa Bro”. Bunyi pesan via SMS tadi. “ini lagi belajar nulis”. Balasku juga via SMS. Lalu tak lama kemudian teman tadi membalas dengan kata “Oalah, nulis saja kamu masih belajar, kembali ke kelas TK saja kamu”. Balas teman tadi via SMS juga. Nah, pemahaman saya teman saya tadi tak paham apa yang sebenarnya saya sampaikan dengan balasan “ini lagi belajar nulis”. He he he he Bagi saya yang terpenting saya tak pernah lupa akan terus belajar. Saya sih, tak bercita-cita jadi penulis. Hanya hobi kebiasaan, hobi kebiasaan yang tak asyik jika tak di lakukan. Jika kita hanya berkutat di perasaan bingung ketika akan menulis, dan berhenti pada kata “menulis apa”. Saya hanya ingin berkata “tamatlah riwayatmu”.
Setelah hampir satu bulan lebih saya tak nulis, saya bingung dan bertanya “Nulis apa ya”. Obsesi menulis sadar atau tidak di ingini oleh banyak orang, aiih namun langkah jari yang sulit untuk melakukan, lebih sulit lagi jika tak di lakukan. Terkadang saya terkapar malu, ketika tamparan-tamparan keras menerpa tulisan tak bermakna saya. Pernah saya ingin berhenti untuk menulis. Gara-gara ucapan teman yang bilang “tulisan kayak gitu saja kamu berani tunjukkan pada saya, jelek, jelek saya tak suka”. Aiih, lemas saya, tersungkur malu rasanya. Untungnya saya dengar kalau ternyata teman saya pernah di gampar habis-habisan karena hanya tulisanya. Bedanya dia tak mampu bangkit, dan saya masih sedikit beruntung. Kapan kita maju, kalau tak ingin di kritik. Yang harus di pahami adalah kritik yang membangun, bukan membunuh atau pura-pura menolong tapi nada menggonggong.
Nah, kata siapa menulis itu sulit. Sulit memang jika kita tak melakukan. Tentang seberapa jauh tulisan kita mampu bermanfaat itu hal nanti. Toh, nanti pasti kita ketahui dalam hal bagian mana tulisan kita mampu memberi. Belajar dan belajar. Namanya saja belajar, meminjam salah satu kalimat kawan-kawan lupa saya di buku atau apa, tapi begini kalimat itu “Tak Harus Takut Salah, Karena Hanya Tuhan Yang Selalu Benar”. !
Tag: Belajar nulis
Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat