KITA dan PEMUDA 0

Jumat, 29 Okt '10 16:37

"Satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa Indonesia"


Demikian esensi sumpah yang di kukuhkan oleh para pemuda dalam mempersatukan bangsa dan juga cikal bakal pembentukan negara kesatuan RI di tanggal 28 Oktober 1928 yang sekarang ini dikenal dan diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda. Gaung sumpah pemuda itu memang mampu menginspirasi gerakan para pejuang bangsa sehingga mereka memiliki tekad dan semangat pantang mundur untuk membela bangsa dan tanah air. Kemerdekaan RI yang berhasil diraih pada tanggal 17 Agustus 1945 tentunya tak lepas dari gaung sumpah pemuda ini. Pastinya kita telah mempelajari sejarah itu dan pernah mendengar tentang devide et impera, suatu jenis politik yang dicanangkan oleh Belanda untuk mencerai-beraikan bangsa ini, hingga lahirlah Sumpah Pemuda itu yang menjadi roh pemersatu bangsa.


Sebagai pemuda yang hidup di era globalisasi saat ini sudah sepantasnya kita meneruskan cita-cita para pencetus sumpah itu, karena nilai sejarah perjuangan tak bisa dilepaskan dari peran serta pemuda. Peringatan Sumpah Pemuda barangkali bisa dijadikan momentum untuk melakukan sumpah untuk bangsa dan negara Indonesia. Mencermati kondisi bangsa yang semakin lama semakin memprihatinkan, saat ini kita sebagai pemuda Indonesia perlu berkomitmen dalam berbagai usaha penyelamatan negara.
Seiring dengan bergesernya zaman,maka bergeser pula perjuangan pemuda di zaman sekarang. Pemuda zaman dahulu identik dengan perjuangan dalam bentuk pergerakan dan pemikiran yang idealis. Namun, jika berbicara tentang perjuangan pemuda dalam konteks kekinian, maka perjuangan seperti itu sudah tidak se'meriah' zaman dahulu, meskipun sekarangpun juga masih ada beberapa golongan atau organisasi pemuda yang berjuang diranah pergerakan itu.

Hal itu sah-sah saja, mengingat kondisi yang sedemikian berbeda antara zaman sekitar era kemerdekaan dengan zaman modern seperti ini. Perjuangan pemuda, jika bisa dikatakan demikian, saat ini mulai beralih menuju sebuah komodifikasi di bidang industri kreatif. Artinya, pemuda sekarang secara umum tidak lagi menggebu-nggebu menyuarakan aspirasi mereka secara frontal, namun mulai mengarah pada usaha-usaha kreatif seperti berwirausaha, kesenian, keilmiahan, dan lain sebagainya.

Kondisi seperti ini dikhawatirkan akan menggiring kaum muda khususnya dan manusia secara umum pada sebuah fenomena hedonisme. Materi menjadi tolak ukur, uang menjadi tujuan, bahkan menjadi berhala-berhala baru yang dijadikan sesembahan. Jika hal ini terjadi, maka perjuangan pemuda menjadi samar-samar. Semangat Sumpah pemuda tidak lagi dimaknai, dan hanya menjadi romantisme indah penghias sejarah pejuangan pemuda yang sesungguhnya.

Tapi kita mempunyai cara tersendiri untuk perjuangan di zaman kita, dan semua yang benar-benar kita lakukan akan menjadi sebuah perjuangan yang tidak akan sia-sia. Perjuangan dari ketakutan, dari kelaparan, dari kebodohan, dan lain-lain yang akan membuat kita tidak merasa menjadi manusia yang sebenarnya. Menjadi intelektual yang memang benar-benar intelektual, bukan menjadi unemployed intellectual yang hanya akan membodohi sesama. Setiap zaman mempunyai masanya sendiri yang akan mengerucut pada satu cita-cita yang sama, sama yang dicita-citakan oleh para pemuda zaman dahulu. Dan mari kita berjuang dengan cara kita sendiri, pemikiran kita sendiri, dan diri kita sendiri karena ini adalah zaman kita. SALAM PERSMA.[*]


Tag: Pemuda

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Silahkan login untuk memberikan pendapat