Peran Media internet dalam sepak terjang Pers Mahasiswa 1

Senin, 25 Okt '10 00:28

 

Berbicara tentang produk pers, kita tidak akan bisa melepaskannya dari media. Perannya dalam memaparkan apa yang ada dalam realitas ternyata tak begitu saja keluar dengan mudah. Akan tetapi sebelum kita berbicara panjang lebar, sebaiknya kita perlu paham apa itu MM atau Media Masa. Bicara tentang media, berarti berbicara tentang aspek komunikasi Massa.

Komunikasi massa sendiri memiliki beberapa definisi yaitu:
• pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang (Bittner, 1980)
• Komunikasi massa adalah produksi dan distribusi yang berlandaskan teknologi dan lembaga
dari arus pesan yang kontinyu serta paling luas dimiliki orang dalam masyarakat industri
Gerbner (1967)
• Jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen, dan
anonim melalui media cetak atau elektronik sehingga pesan yang sama dapat diterima secara
serentak dan sesaat. Jalaludin Rahmat (2000)

Dari beberapa definisi diatas dapat kita simpulkan bahwa komunikasi massa adalah pesan yang terjadi disuatu waktu dalam jangkauan yang tidak terbatas sertaberlangsung secara terus menerus. Jadi dapat dibayngkan bahwa efek dari komunikasi massa ini sangat lah luar biasa terhadap keberadaan public.

Selain itu menurit Wrigth terdapat beberapa activitas pokok dari komunikasi massa,yaitu:
1. Pengawasan lingkungan
2. Kolerasi
3. Transmisi budaya
4. Hiburan

Jika ditarik kembali pada salah satu materi kuliah yang diberikan oleh  Moechtar W, Bahwa terdapat 5 (lima) fungsi media massa, antaralain :
1. To Inform (menginformasikan)
2. To educate(pendidikan)
3. To social control(mengkontrol)
4. To entertaint(hiburan)
5. To connected(menghubungkan)

Dari bebeberapa fungsi tersebut seharusnya media massa adalah alat yang paling efectiv sebagai ujung tombak suatu pemberitaan. Dan yang nantinya menjadikan kehidupan ini menjadi lebih teratur dan lebih baik. Akan tetapi terdapat beberapa anomaly media massa dimana apa yang di tanyangkan dalam media massa saat ini agaknya berbahaya bagi keberlangsungan kehidupan manusia.
Salah satu teori media, yakni teori konstruksionis, berita sebagai produk media memang tidak lebih sebagai konstruksi dari “fakta” di lapangan, bukan refleksi. Artinya, berita yang oleh khalayak baca setiap harinya bukanlah apa yang terjadi sungguh-sungguh di luar sana. Konstruksi mengandung arti bahwa bagaimana isi sebuah produk berita sangat bergantung dari bagaimana fakta tersebut dilihat dan dibingkai oleh pewarta atau institusi media. Nah, bagaimana institusi media bekerja dalam mengkonstruksikan berita tentu saja dipengaruhi oleh serangkaian faktor baik internal maupun eksternal.
Dalam sebuah contoh kecil, setiap orang tentu punya pandangan yang berbeda tentang sebuah peristiwa. Misalnya, saya melihat bahwa pembalakan hutan adalah sebuah tindakan melanggar hukum. Opini saya tersebut hadir karena sejak kecil saya hidup di perkampungan pinggir hutan, sehingga saya berinteraksi dengan realitas sosial bahwa hutan adalah sebuah kekayaan alam yang patut dilindungi. Bagi orang lain, mungkin pembalakan hutan adalah sebuah resiko yang wajar karena merupakan salah satu sumber bagi pemasukan negara.

Dalam mekanisme konstruksi berita, proses yang terjadi lebih kompleks dari contoh tersebut. Karena setiap orang (dalam institusi media) sepanjang hidupnya berinteraksi dengan kondisi sosial dan kemudian mempunyai nilai-nilai yang dia pegang. Nilai-nilai tersebut akan berinteraksi dengan kondisi sosial, politik dan ekonomi dimana media tersebut beroperasi. Sekumpulan nilai tersebut lantas termanifestasikan ke dalam poltik redaksional media. Bisa dibayangkan seberapa banyak interaksi yang terjadi dalam sekali proses produksi berita. Proses interaksi dalam proses konstruksi realitas inilah yang memungkinkan adanya reduksi serangkaian fakta hingga akhirnya menjadi “fakta” yang hadir dalam setiap lembar surat kabar yang kita baca sehari-hari.

Selama ini masyarakat sangat menggatungkan kebutuhan informasi pemberitaannya pada media umum, yang tentunya komersil. dan apa yang terjadi ketika politik media terjadi difase produksi. jelaslah masyarakat yang dirugikan. Mengingat realitas yang disuguhkan telah tercampuri oleh kepentingan. Karena media umum pun butuh menghidupi dirinya sendiri.

Namun harapan atas kejujuran media mungkin tinggallah diposisi LPM-LPM yang masih ada. itu pun yang siap miskin. Tanpa dibayar, tanpa mendompleng. inilah tugas berat Perhimpunan Pers Mahasiswa saat ini. Seaktif apapun divisi-divisi yang ada di dalamnya, tanpa media yang utuh dan universal, semuanya akan terasa timpang dan sulit. Harapan-harapan mulia akan di jadikan angin lalu begitu saja oleh publik.

Melihat semua itu, tugas para tentara kejujuran (kawan-kawan Persma) jelas mencari media yang paling efektiv untuk saat ini. Sudah ini  menjadi rahasia umum jika yang benar-benar LPM-LPM saat  ini, bernafas saja sulit. lah... mumpung ada situs ini, ayolah kita hidupkan lagi kejujuran ala mahasiswa. kejujuran yang memang belum terpengaruh politik pasar ataupun politik media. Disini masa idealisme sedang merekah-merekahnya.

Kita sampaikan semua yang ada di realitas sebenarnya. Inilah bentuk kongkrit penolakan teori realitas media. Bahwa masih ada media yang mengangkat realitas dengan apa adanya. jujur dan memakai nurani. semua itu didukung dengan ke"gratis"an. Hanya tinggal register, upload tulisan dan seluruh dunia akan membacanya. Itu lebih kongkrit dari pada kita turun langsung kejalan dan akhirnya diberitakan sebagai tokoh antagonisnya.


Tag: media

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

bung hakim 0 0
dengan persma kita membangun dan terus berjuang.
hidup presma ....!!!!

Silahkan login untuk memberikan pendapat