REFEKSI DI TENGAH MASTURBASI 2

Selasa, 19 Okt '10 03:04

Sekapur Yang tak Ber-(sirih)

Bukanlah muluk-muluk jikalau sebuah organisasi membuat sebuah hajatan besar. Tentunya hajatan tersebut mempunyai maksud dan tujuan tertentu. Naif, jikalau sebuah hajatan tersebut hanya digunakan sebagai ajang hura-hura, jalan-jalan atau bahkan hanya sebatas cari teman untuk sekedar melakukan ritual "belah bambu".

Jejak Langkah Kembali Ditorehkan

Mukernas VIII Madura telah selesai. kuncup rahimpun dipaksa untuk tumbuh dan mekar kini. setidaknya bagi kawan-kawan yang ikut hadir masih teringat betul bagaimana panasnya pulau garam itu. Kesepakatan-kesepakatan pun di tumbuhkan dalam rahim Badan Pekerja, baik nasional maupun masing-masing Dewan Kota. Tinggal menunggu kelahirannya. Asupan gizi sangatlah diperlukan kini. jika tidak mau nantinya akan terlahir sebagai gerakan "onani" yang sia-sia.

Komitmen sangatlah tidak penting kini kita bicarakan. Konsep pun sudahi, dan kerjakan. Koordinasi intim sepertinya tak boleh tertinggal dari igauan setiap tidur kita. dalam artian pikiran kita saat ini idealnya 80% tercurahkan untuk alur kerja PPMI ini.

Delapan belas tahun bukanlah usia yang muda bagi PPMI. Tuk ukuran manusia, seharusnya PPMI harus mampu berfikir dewasa dan jauh kedepan. Tidak saatnya lagi PPMI tetap ber-masturbasi ria dengan konflik internal. Sudah saatnya kita mempertanyakan kembali untuk apa PPMI dilahirkan dan sejauh manakah PPMI mampu memberikian sumbangsih bagi bangsa Indonesia tercinta ini.

Perlu sebuah kesadaran bersama untuk melukis jejak langkah kedepan. Baik dalam tataran pengurus nasional PPMI, pengurus PPMI Kota/Dewan Kota maupun anggota PPMI dalam membangun sebuah kesadaran bersama dan menemukan sebuah persepsi tunggal akan kemana PPMI kedepan. Tanpa itu semua, MUKERNAS PPMI VIII yang diadakan di pulau garam ini bak mendayung sebuah sampan di gurun sahara, sebuah usaha yang sia-sia.

Aku masih terngiang-ngiang sebuah tulisan yang tertumpuk rapi di sudut ruangan. Tulisan yang bertahtakan Laporan Pertanggung Jawaban Pengurus nasional PPMI periode 1998-2000 ini seolah menyentakku tuk bangun dan memberontak. Bukannya menyinggung, tapi ini patut kita gunakan sebagai bahan tuk refleksi di usia kita yang ke delapan belas. Disitu tertulis "Anak PPMI itu kaya akan konsep, tetapi dalam tataran praktis selalu nol". Hal ini berpijak ketika dalam Kongres ataupun Mukernas, disitu terlihat adanya berjuta-juta konsep yang ditawarkan. Tetapi, setelah moment tersebut, konsep-konsep itupun seolah-olah ditinggal atau mungkin konsep tersebut keburu diarsipkan oleh Sekretaris Biro Umum (hehehe...., itu ga' mungkin karena struktur Sekretaris Biro Umum baru ada di kepengurusan ini).

Budaya "kacang" atau lebih jelasnya budaya "kakean cangkem" (banyak bicara) sudah seharusnya terhapus oleh tangisan bangsa ini. Kakean cangkem itu sebenarnmya itu ga' masalah, yang terpenting adalah bagaimana itu bisa diterapkan dalam tataran praktis. PPMI tak membatasi kita untuk berbicara tetapi PPMI membutuhkan realisasi dari "kakean cangkem" itu tadi.

Berangkat dari situlah, paska Mukernas ini diharapkan seluruh pengurusb PPMI untuk tetap merapatkan barisan dan tidak "kakean cangkem" dalam tugas dan kinerja yang diamanahkan kepadanya. Talk less do more, itulah yang seharusnya menjadi slogan PPMI di periode kepengurusan ini.

 

 

 

 


Tag: mukernas

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

biro umum ppmi nasional 0 0
yanmg penting ga' kacang (kakean cangkem)
ketoles ARBIMAPALA 0 0
seeep biro umum

Silahkan login untuk memberikan pendapat