Teroris juga Saudara Kita 2
Jumat, 24 Sep '10 20:16
Tercatat 12 tersangka teroris tewas dalam penyergapan di beberapa tempat pasca tewasnya Noordin M. Top. Kebanyakan tersangka tersebut adalah para narapidana kasus teroris yang telah bebas lantas bermain kembali. Polisi pun masih menahan lebih dari 470 tersangka teroris. haruskah ratusan peluru Densus 88 menerjang mereka? Bukankah mereka juga adalah saudara kita yang kebetulan tersesat jalan pemikirannya?
Banyaknya terpidana terorisme yang setelah bebas melakukan tindak teror kembali menyeruakan fakta gagalnya proses pemasyarakatan. Kegagalan tersebut disebabkan tidak adanya kesungguhan dari fihak terkait untuk memahami apa dan bagaimana ideologi terorisme itu. Proses penanganan napi terorisme selama ini sama dengan terpidana kasus kejahatan lain. Akibatnya, pola berfikir mereka tak berubah malah terkadang semakin kuat.
Sistem pada lembaga pamasyarakatan yang berkembang saat ini mengacu pada pandangan indeterminasi. Sebuah pandangan yang melihat perilaku kejahatan bukan semata-mata tanggungjawab si pelaku kejahatan. Lingkungan yang mempengaruhi juga ikut bertanggungjawab atas perilaku kejahatan. Seorang yang melakuakan tindak terorisme harus dipandang sebagai individu yang terkait dengan lingkungan pembentuk pola berfikirnya. Dalam proses pemasyarakatan, terpidana teroris harus dibaurkan dengan kondisi lingkungan yang mampu mengubah pandangan kelirunya.
Tindak kejahatan terorisme tumbuh dari ideologi fundamentalis religius yang eksklusif. Fundamentalisme mamandang bahwa kehidupan di dunia haruslah berjalan sebagaimana aturan Islam secara tekstual murni. Hukum dan segala aturan yang merupakan hasil interpretasi manusia haram untuk ditaati. Bahkan, negara pun dianggap haram. Mereka yang tak sepandangan dianggap sebagai pengkhianat aturan Tuhan dan dikatakan kafir.
Pandangan yang jelas keliru tersebut hanya bisa diluruskan dengan pemahaman ilmu agama yang tepat. Para terpidana teroris harus diberikan pendidikan ilmu agama yang tersistem dan terpadu. Sistem dan keterpaduan penting agar ilmu secara utuh mampu diserap para napi. Pendidik harus merupakan orang mumpuni dan faham mengenai pemahaman terorisme. Sistem yang dipakaipun haruslah bersifat diskusi dan dialog. Diskusi dan dialog memiliki potensi untuk masuk dalam kesadaran sesorang.
Napi terorisme pula jangan dicampur dengan para napi tindak keriminal. Lingkungan semacam itu justru akan semakin menguatkan ideologi mereka bahwa orang-orang di negeri ini kafir dan pantas untuk dihancurkan. Terkadang napi terorisme malahan mampu mendoktrin para napi kriminal untuk memiliki pemahaman yang sama-sama keliru.
Bagaimanapun para pelaku terorisme adalah saudara sebangsa kita. Perilaku tak terpuji mereka adalah karena pemahaman ideologi yang menyimpang. Kita sudah sepakat bahwa lembaga pemasyarakatan adalah pusat perbaikan perilaku menyimpang. Lembaga pemasyarakatan dan para ahli harus serius menyusun formula deradikalisasi bagi napi terorisme. Penanganan dengan senjata yang berlebihan justru akan membuat teroris semakin punya alasan untuk terus meneror. Seperti pada penyerangan teroris di Polsek Hamparan Perak, Deli Serdang, Sumut yang menewaskan 3 orang Polisi kamarin.
Tag: terorisme
Terkait:
-
Aku Mengampunimu
Kamis, 17 Sep '09 08:15
Komentar:
Tetapi kalau kita jadi polisi, lalu yang ada dihadapan kita (teroris) juga sudah siap2 lempar bom dan menodongkan pistol, apa iya kita (kalau jadi densus) akan diam saja??
Kalau tentang persoalan pemberian penyuluhan dengan cara diskusi... Baik memang... Tetapi (lagi-lagi) sang pemberi penyuluh tersebut haruslah seorang yang memiliki pengaruh tinggi.. Setidaknya sama dengan orang2 yang 'pandai' merekrut menjadi "public enemy no. 1" bangsa ini... Mungkin seharusnya setingkat Mario Teguh he,,he,,
Saya kira kepolisian sudah tahu cara tersebut.. atau mungkin mereka (polisi) juga menganggap 'teroris sama seperti tahanan lain" ya diperlakukan sama aja gitu...
Satu poin lagi... Saya kira seorang 'saudara' tidak akan pernah mau mencelakakan saudara lainnya...Apalagi sampai membunuh...
Tida sesuatu yg mutlak di dunia. Para teroris yakin jika apa yg sedang mereka perjuangan adalah bentuk kecintaan terhadap Tuhan. Secara ahlak mereka pun baik-baik. Saya agak tidak tega melihat orang yg idealis dan berani memperjuangkan kebenaran fersinya tanpa memikirkan kepentingan pribadi harus tewas mengenaskan. Saya kira teroris jauh lebih baik ketimbang para orang besar yg bersembuyi di balik kesucian demi keuntungan pribadi.
Yang harus dirubah adalah pandangan mereka memaknai "membela Tuhan". Tuhan maha segalanya, jadi sama sekali tak butuh bantuan manusia. teroris itu takbur dengan menganggap dirinya paling suci dan mampu membela Tuhan.
Tugas manusia itu hanya bersyukur dan membantu8 sesamanya.
Itu yg perlu difahamkan kepada Teroris...
Silahkan login untuk memberikan pendapat