MAHASISWA DATANG, PREMAN PULANG 0

Selasa, 21 Sep '10 16:58

Hari pertama kuliah, tahun ajaran 2010-2011 di kampus ITATS (Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya) tampak berbeda dari biasanya. Pasalnya ada kejadian penting yang terjadi pada kemarin hari (20/9/2010) di dalam kampus ITATS. Seluruh civitas akademika melalukan demonstrasi besar-besaran, dikarenakan kampus tersebut telah dikuasai oleh para preman. Preman -preman tersebut masuk kedalam kampus dibawa oleh Abdul Dzikri selaku ketua YPTS lama. Mereka (preman) itu dipekerjakan oleh mantan ketua YPTS untuk mengamankan sekaligus mengflow-up karyawan yang telah diberhentikan.


Dimulai pada pukul 08.00 WIB ratusan civitas akademika yang terdiri dari mahasiswa, dan Paguyuban Karyawan Dosen membanjiri area parkir, untuk melakukan konsolidasi dan juga mempersatukan aspirasi mereka. Civitas akademika melakukan konsolidasi tersebut dikarenakan meraka tidak bisa masuk untuk melakukan aktivitas seperti biasanya sebelum para preman itu ada. Mahasiswa yang seharusnya menutut ilmu dengan semangatnya dibangku perkulihan, sirna begitu saja. Dikarenakan mereka tidak dapat masuk dan merasa terganggu oleh adanya para preman dan aparat hukum yang bersenjata. Karyawan dan dosen juga tidak dapat melakukan pekerjaannya (mempersiapkan apa yang dibutuhkan dalam proses belajar mengajar).


Kronologi terjadinya demontrasi itu sebenarnya pertikaian antara kubu rektorat dan kubu YPTS yang terjadi sekitar akhir 2009. Adanya pengelapan uang SDP dan SPP yang dilakukan oleh 2 kubu tersebut, dan tidak adanya transparansi dana mulai tahun 2005-2010 kepada seluruh civitas. Mereka (YPTS dan rektorat) saling melaporkan ke pihak hukum sampai dibawa ke meja hijau. Dan akhirnya mantan rektor periode 2005-2010 Hadi Setiawan mendekam dalam tahanan. Seluruh civitas sebenarnya menginginkan pengauditan ke 2 kubu tersebut, namun YPTS terkesan tidak mau untuk diaudit. Karena beberapa kali YPTS dipanggil oleh DIKTI tidak menghadiri surat panggilan.


Pada tanggal 18/9/2010 YPTS menguasai kampus dengan mengerahkan para preman untuk mengusir para karyawan yang tidak berpihak. Dengan membawa banyak tututan yang akan ditujukan kepada pihak yayasan, mereka berjalan menuju Loby dan di depan kantor PR II. Disana pihak Civitas berorasi menuntut agar preman-preman yang di sewa oleh pihak yayasan keluar dari wilayah kampus.


Preman-preman tersebut melarang pihak Civitas masuk ke dalam kampus, karena menurut mereka didalam pihak Civitas ada yang telah dipecat dari kampus. Ada sebanyak 22 dosen yang telah di berhentikan dari jabatannya. "Seharusnya hari ini (kemarin) saya mulai aktif mengajar kuliah, tetapi saya malah di usir oleh preman-preman tersebut dan saya selaku Ketua PKD (Paguyupan Karyawan dan Dosen) tidak mengakui orang-orang tersebut sebagai karyawan di sini," tutur Syamsul Arifin.


Kedatangan preman tersebut sudah sejak Sabtu (18/9) mereka melarang dosen dan karyawan masuk lingkungan kampus. Selain melarang masuk ke lingkungan kampus, pihak yayasan juga membongkar brankas yang berisi uang SPP mahasiswa dan mengambil uang mahasiswa. Sehingga seluruh Civitas merasa terganggu dengan kehadiran mereka, dan para Civitas tidak bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar secara normal dikarenakan kondisi kampus yang ricuh dan semakin terpuruk.


Puluhan Brimob Kepolisian di turunkan untuk mencegah terjadinya bentrokan antara mahasiswa dengan preman. Akhirnya mahasiswa dengan bantuan aparat polisi berhasil megusir preman-preman tersebut, Sebelumnya preman-preman tersebut diakui oleh yayasan sebagai karyawan dan dosen ITATS sehingga mereka dengan leluasa memasuki wilayah kampus.


Setelah kampus dianggap aman dari para preman, pada pukul 09.45 WIB mahasiswa meminta Abdul Dzikri selaku ketua YPTS (Yayasan Perguruan Tinggi Surabaya) melakukan dialog terbuka dengan pihak Civitas di Gedung A-409 untuk membahas masalah konflik ITATS dan merundingkan tuntutan dari pihak Civitas, namun pihak yayasan menolak untuk diadakan dialog pada saat itu juga. Karena pihak yayasan melihat situasi yang dilakukan oleh massa dari pihak Civitas telah melampaui batas. Namun, kejadian ini semakin memperkeruh suasana, pihak Civitas makin brutal, sehingga polisi bertindak menengahi dengan mepertemukan kedua belah pihak yaitu dari perwakilan pihak Civitas dan Yayasan (Abdul Dzikri) untuk dapat berunding di ruang PR III.


Isi dari tuntutan pihak Civitas kepada Yayasan adalah :

  1. Menuntut Audit YPTS dan Rektorat mulai tahun 2005-2010 oleh tim auditor independen secara akuntabel.
  2. Perubahan sistem dan kepengurusan Organ YPTS serta Rektorat periode 2005-2010 secara total.
  3. Transparasi aset-aset ITATS serta pengolahan dana SPP dan SDP mulai tahun 2005-2010.
  4. Normalisasi kampus dalam proses belajar mengajar dan administrasi.
  5. Pembenahan infrastruktur dan fasilitas yang layak sebagai penunjang dalam proses belajar mengajar.

Hasil dari rundingan yang memakan waktu selama tiga jam tersebut adalah pihak yayasan bersedia menghadiri dialog terbuka untuk membahas tuntutan dari pihak Civitas. Dialog tersebut akan diadakan pada hari Kamis (23/9) pukul 10.00 WIB, yang akan diikuti oleh perwakilan Ormawa (Organisasi Mahasiswa) dan perwakilan PKD. Tetapi, banyak dari pihak Civitas merasa kecewa dengan hasil rundingan tersebut, karena pihak Civitas menginginkan pihak yayasan tidak keluar dari lingkungan kampus terlebih dahulu, sebelum masalah yang sudah bertahun-tahun selesai dengan tidak ada yang dirugikan.

 

disadur dar : NEWS LETTER EDISI #3 FORMAT

 


Tag: ITATS

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Silahkan login untuk memberikan pendapat