Arogansi Polisi Jogja di Jalan Raya 1

Jumat, 3 Sep '10 22:54

 

Malam Jum'at sekitar pukul 20.30 WIB (02/09), Jalan Wonosari kilometer 12 lewat ramai dari lalu lalang kendaraan dari kedua arah. Terlihat satu dua warga duduk di tepi jalan. Beberapa penjual pedagang kaki lima menjaga dagangannya.

Warga terkesan ramah saat POROS datang bahkan memberi kursi duduk, namun mereka semua tak ingin disebutkan identitasnya. Warga masih takut. Di sekitar lokasi ini, Rio warga Piyungan dikeroyok 5-8 polisi lalu lintas. Tempat yang biasanya dijadikan razia polisi. Biasanya dua kali dalam seminggu ada razia atau pada akhir pekan.

"Maaf mas, tahu tentang kasus pengeroyokan polisi minggu lalu?" Tanya POROS pada salah satu warga. Sekitar lima orang warga setempat dan para pedagang kali lima lainnya ikut berdatangan.

"Ketoke sek biyen kae cen ono mas, tapi tak kiro mung ono tabrakan. Cen rame daerah kulon jembatan sekitar sore kae (kayaknya kemarin itu ada mas, tapi saya kira hanya ada tabrakan. Memang ramai daerah barat jembatan sore itu)," tutur salah satu warga.

"Sakjane warga yo wes do ora setuju mas raziane neng kene. Lha wong nek ono razia dadi kerep  tabrakan. Dadine nek ono suoro mobel ngerem dadak gara-garane polisine nyeberang dalan ngawor. (Sebenarnya warga juga sudah tidak setuju razia di sini. Kalau ada razia jadi sering ada tabrakan. Kalau ada suara rem mobil mendadak gara-gara ada polisi ngawur menyeberang jalan)," jelas warga geram. Tapi apa boleh buat warga tidak bisa berbuat apa-apa. "Tapi yo pie meneh, arep protes yo ra iso (Tapi ya mau bagaimana lagi, mau protes ya tidak bisa)."

Sikap polisi lalu lintas yang demikian tidak dapat diterima warga. Geram melihat sikap polisi. "Iyo mas, polisi teng mriki nek razia ki kejem-kejem mas. Nek ngoyak motor sek puter balik koyo nguyak maling wae (Iya mas, polisi di sini kalau razia itu kejam-kejam. Kalau mengejar pengendara motor arah berlawanan seperti mengejar pencuri saja, red.)," ucap salah satu ibu ikut geram.

Rio hanya salah satu korban di favorit polisi. Entah berapa banyak warga yang menjadi korban arogansi polisi. Selama ini tak banyak yang bersuara. Dan, entah berapa banyak lagi warga yang akan menjadi korban berikutnya jika warga hanya diam.

"Pimpinan (polisi, red) seharusnya yo alos, ora kasar koyo ngono. Ora petentang-petentengan koyo ngono (pemimpin polisi seharusnya halus, tidak kasar seperti itu. Tidak arogan seperti itu)," pesan bapak yang dari tadi nimbrung.

Dalam Aksi Keluarga Besar Mahasiswa UAD Rabu (01/09) lalu, Kapolres Bantul berjanji kasus Rio ini akan segera dituntaskan. "Jika tidak, saya siap mundur".

Warga berharap pimpinan polisi menindak tegas semua polisi yang terlibat. Entah bawahan atau komandan. Hukum harus ditegakkan. Citra polisi jadi taruhan. Warga hanya menanti bukti.[Rika Fajar Rahmadi]

 


Tag: Pengeroyokan oleh oknum Polisi

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Dick 0 0
siapa benar siapa salah
antara penegakan disiplin dan arogansi akibat emosi
kebengalan yang ingin ditertibkan dengan sopan
melawan asumsi jika terlalu lunak akan di entengkan(diremehkan)
jd silahkan pilih saja

Silahkan login untuk memberikan pendapat