Arigayo, Mempertahankan Budaya Atau Terisolasi 1
Rabu, 18 Agu '10 19:32
Itulah yang sekarang dihadapi minoritas mahasiswa aceh. Antara mempertahankan budaya atau terisolasi dalam kemajuan teknologi. Budaya aceh menjadi identitas seseorang ketika keluar dari lingkungan ras untuk pergi merantau ke pulau lain. Ciri khas tak bisa dipisahkan dari mahasiswa aceh yang merantau ke pulau jawa, tepatnya di Kabupaten Jember Kecamatan Sumbersari. Tutuntan hidup menjadi alasan meraka untuk mengadu nasib di kota tapal kuda sebagai mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jember. Mengubah nasib melalui pendidikan adalah jalan yang paling diamanatkan Undang-Undang Dasar 1945.
Arigayo adalah nama sebuah suku yang berada di daerah Aceh, kebudayaan Tari Saman Arigayo menjadi kesenian tari yang paling populer di suku arigayo. Sebuah seni tari yang memadukan antara gerakan dan nyanyian. Memukul dada, paha dan kedua tangan dengan gerakan yang cantik, unik serta khas. Menciptakan efek suara unik dari pukulan-pukulan dan dipadukan dengan nyanyian berlogat suku arigayo daerah aceh. Bersenandung ala arigayo, dengan gerak khas arigayo beramanatkan pendidikan, pesan-pesan moril terhadap para penikmat. Itulah interprestasi Tari Saman Arigayo oleh komunitas mahasiswa Unmuh Jember asal aceh tengah.
Awal Perkenalan, panggil saja abang
Seseorang memanggilku dari jarak 10 meter, tak kukenal dari kejauhan karena terhalang kabut hitang tanpa lampu. Sepertinya aku kenal, kuhampiri dia dibawah cahaya lampu rumah kos-kosan. Teryata almuzni, mahasiswa Unmuh Jember asal Aceh yang ku cari. Dia sekretaris komunitas Tari Saman Arigayo. Tidak almuzni saja, ada 3 orang lagi mahasiswa dari Aceh. Berjabat tangan sembari kenalan dengan meraka (red, mahasiswa asal aceh). Tidak terlalu sulit mencari alamat kos-kosan Anak Aceh, Jl. Argopuro 1 No. 12 Sumbersari - Jember.
"Sepertinya sepi disini, kemana yang lain" tanyaku. "Ada yang pulang kampung, KKN jadinya sepi disini. Tinggal beberapa orang yang ada" jawab almuzni. " Tapi masih ada yang keluar, sebentar lagi datang " tambahnnya. Aku duduk dikarpet bersama teman - teman Aceh, berbicara dengan meraka sembari bercanda tawa. Menggunakan bahasa aceh usaha mereka menjaga budaya bahasa asli, setiap hari dimanapun mereka berada, tetap menggunakan bahasa arigayo. Sampai-sampai aku binggung dan tidak menengerti apa yang diucapkan oleh mereka.
Ucapan salam almuzni membuka awal saya wawancara dengan mereka yang ada disana. Bang sadikin, almuzni, jakian, baihaki, mulyadi, zarkasi dan teman - teman lainnya. Sekitar 10 orang yang ada malam itu. "Tari Saman Arigayo menjadi seni tari, turun temurun dari nenek moyang suku arigayo dengan tujuan untuk menghibur dalam acara adat. Di aceh tengah terutama suku arigayo sudah dahulu kala melestarikan dan mewariskan kepada generasi muda hingga sekarang. Banyak ditemui dalam acara pernikahan, " tutur mereka.
Budaya yang masih lekat tidak akan pernah luntur oleh intervensi apapun. Itulah yang dilakukan mereka. Membawa budaya kelahiran ketempat manapun mereka tempati, termasuk kota Jember. Awal ide membentuk Tari Saman Arigayo berawal dari 4 orang anak aceh, inisiatif ini diiyakan oleh teman - teman Aceh. 3 bulan Tari Saman Arigayo terbentuk, tidak mudah menyatukan gerakan dan nyanyian. Butuh latihan intensif untuk menghasilkan gerakan, bunyi dan disempurnakan dengan lagu - lagu kontemporer logat arigayo.
Dulu lirik yang digunakan adalah ayat suci alquran, tapi teman - teman sulit untuk memadukan lirik alquran dengan gerakan. Sehingga lagu yang dipilih lagu kontemporer saja, lagu dangdung juga bisa. Artinya tidak ada lagu khusus dari Tari Saman Arigayo, tapi biasanya kita memilih lagu yang berlirik pendidikan. "Debut kita pada saat Ulang Tahun/MILAD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Universitas Muhammadiyah Jember digedung ahmad zainuri. Kedua, acara softskill, apreasisasi puisi dan acara bakti sosial di Panti - Jember" ucap muzni. Ada kebiasaan, dan mungkin ini merupakan budaya orang aceh. Untuk memanggil orang yang lebih tua, kita harus memanggil bang sebagai rasa hormat.
Costume menjadi bagian terpenting dari Tari Saman Arigayo, guna untuk singkronisasi gerakan sehingga menciptakan gerakan yang kompak dan berirama. Costume terdiri dari baju, songket, ikat tangan, teleng (songkok bermotif khas aceh) dan dasi untuk menutupi leher sehingga rapi ketika melakukan gerakan.
Tidak mudah membentuk gerakan dan dipadukan dengan nyanyian, perlu latihan intensif. Setiap hari kamis dan minggu teman - teman Aceh berlatih untuk menghasilkan gerakan yang baik. "Peran pembina sangat penting disini dalam pemberian motivasi, kadang kita malas untuk latihan. Tapi bang Amri pembina kita selalu memberi motivasi sehingga kita ada" tutur mereka. "Harapan kami sementara yaitu mempromosikan kebudayaan kita kepada semua orang. Dan saya berharap peran pemerintah untuk mengapresiasi budaya yang kita lakukan mendapatkan sambutan baik" ucap muzni.
Tag: Arif
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
dewi alfath: Responsif
-
Rizki: Bagus
Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat