Tak Jua Merdeka 0
Jumat, 13 Agu '10 15:45
Rutinitas memperingati hari kemerdekaan tak pernah padam. Seluruh pelosok negeri dengan berbagai cara memeriahkan peringatan mejadi bangsa yang bebas. Gotongroyong dan kearifan lokal lainnya tumbuh saat menjelang 17 Agustus. Namun di luar peringatan itu, kearifan yang sebenarnya kekuatan terbesar bangsa tak lagi ada. Sederet keganjilan yang terjadi seringkali memunculkan pertanyaan, benarkah kita sudah sepenuhnya merdeka?
Bangsa ini seolah sedang dihadapkan pada cermin berdebu. Setumpuk permasalahan ekonomi, sosial, hukum, hingga politik membuat sedikit sadar bahwa kita mungkin masih pada peradaban yang belum begitu tinggi. Peradaban bukan hanya soal daya cipta di hal yang fisik. Sisi-sisi moral dan tingkah laku pula adalah ukuran seberapa tinggi peradaban suatu bangsa.
Sebenarnya bangsa ini telah melalui perjalanan sejarah yang panjang dengan perkembangan budaya yang tinggi. Kebesaran Sriwijaya dan Majapahit adalah bukti peradaban kita pernah sampai pada titik yang tinggi. Penyimpangan-penyimpangan di berbagai lini yang terjadi akhir-akhir ini adalah sebuah gejala bahwa bangsa ini mulai tercerabut dari akar-akar kearifannya yang beradab. Sayang, kajian kita selama ini hanya terpana pada peradaban barat semata.
Tiga setengah abad kita dijajah secara fisik, setelah itu hingga saat ini kita dijajah secara pemikiran. Setelah proklamasi kemerdekaan, bangsa ini langsung diperebutkan oleh berbagai faham besar dunia. Faham liberal, komunis, dan relijius fundamentalis yang bersumber dari luar membelah pemikiran anak bangsa. Sang proklamator Soekarano dan pejuang lainnya berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan nasionalisme sebagai ideologi utama. Kemudian Pancasila lahir sebagai karya mahabesar anak bangsa agar pluralitas yang menjadi 'takdir' negara bangsa Indonesia tak tergusur.
Jika dulu terjadi 'perang ideologi', saat ini justru muncul kecenderungan masyarakat yang abai pada ideologi. Budaya pragmatisme, individiualisme, dan hedonisme terbawa lewat globalisasi pada masyarakat hingga petinggi negeri. Masyarakat saat ini terlalu terjerembab pada hitungan materialistis. Pemilu dan Pilkada sebagai penjabaran dari demokrasi yang seharusnya mengdepankan perdebatan ideologis malah berubah menjadi aktivitas transaksional. Memilih tidak lagi didasari kesadaran bahwa sang calon pengemban amanah akan memperjuangkan kesejahteraan. Memilih akhir-akhir ini lebih didasari oleh seberapa keuntungan materiil yang mampu diberikan sang calon kepada konstituen.
Tak hanya masyarakat, para pemimpin pun seolah hanya mementingkan misi pribadi. Anggota Dewan yang gemar membolos tapi hobi memunculkan wacana genit seperti dana dan rumah aspirasi sama sekali bukan sikap yang amanah. Penegakan hukum yang mengedepankan pemahaman tekstual seringkali justru mengkhianati rasa keadilan. Hingga hukum bisa diibaratkan drama yang bisa disusun skenarionya oleh sang Anggodo. Pemimpin yang seharusnya tak ragu untuk membela kepentingan rakyatnya malah terlalu sibuk bersolek demi citranya. Sehingga, persoalan mendasar yang menghimpit rakyatnya tak jua terselesaikan. Semua itu wujud pragmatisme yang menggejala.
Pragmatisme jika diruntut adalah salah satu peranakan dari faham liberal. Ketika kita mati-matian mencontek sistem demokrasi ternyata kita lupa untuk menyelaraskannya dengan karakteristik lokal bangsa. Sehingga dampak buruknya seperti budaya pragmatisme tak mampu terbendung. Jika terdapat ungkapan 'terjajah oleh bangsa sendiri' mungkin itu memang tengah terjadi di negeri ini. Namun, lebih tepatnya kita sedang dijajah oleh budaya distruktif dari luar yang merasuk pada sekian anak bangsa.
Mengingat perjuangan menuju dan mempertahankan kemerdekaan tak paripurna tanpa mencoba menganalisa. Tindakan luar bisa para pahlawan harus dipraktikan saat ini. Bagaimana beliau-beliau merumuskan Pancasila serta alasan-alasannya telah kita ketahui. Pancasila adalah semacam kamus besar yang merangkum berbagai kearifan bangsa. Tugas kita saat ini adalah bagaimana kita menggunakan kamus kearifan tersebut untuk menerjemahkan budaya luar yang datang bersama globalisasi. Sehingga globalisasi yang tak bisa terelakan dapat tetap kita atasi dampak buruknya.
Memperingati 65 tahun Indonesia merdeka dengan berbagai kemeriahan adalah hal yang baik. Di sisi lain terdapat sisi-sisi mendalam yang harus mampu kita maknai. Sisi tersebut hanya akan mampu nampak ketika kita menggunakan kacamata kearifan lokal. Kearifan lokal harus diterapkan di segala lini kehidupan berbangsa. Semoga dengan itu tak akan ada lagi istilah 'terjajah oleh bangsa sendiri'. Merdeka!
Tag: Proklamasi
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
dewi alfath: Perlu
-
rohmadie soesanto: Responsif
-
pietre: Perlu

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat