Mojok Sejenak di Bulan Puasa 3
Sabtu, 7 Agu '10 14:40
Panas Surabaya tak akan pernah bisa aku lupakan, sampai kapanpun. Himpitan bangunan berbeton mendesak jalan. Raungan kendaraan menderu. Asap, debu, mengepul. Ah, Surabaya, sampai kapanpun, kau tak akan pernah aku lupakan.
Kadang aku rindu dengan keramaian penduduknya. Jalanan tak pernah sepi. Warung kopi buka 24 jam. Asyik. Itu yang membuat menarik.
Bulan puasa yang akan segera datang selalu mengajakku bernostalgia ke lima tahun yang lalu: pertama kalinya satu bulan penuh tak berpuasa, hanya ditemani rokok, kopi, Vodka, Mensen, anggur….
Saat itu aku tak lagi melakukan “Kemiskinan”; ritual religi yang ada di semua agama, membersihkan ikhwal duniawi menuju ke hadirat ilahi, yang semua pencetus agama ingin hidup dalam keadaan kemiskinan.
Menurutku, Surabaya bukan kandang pemuja agama. Aroma bid’ah meluber di sana-sini. Kemaksiatan tak terbendung. Agama, dengan sendirinya, akan terjatuh dalam kubangan nista, sia-sia.
Menariknya, puasa, di sini, bukan anjuran untuk memperbanyak pahala, dengan mengaji kitab suci agama, sembayang, doa, dan sedekah. Puasa mungkin semacam rahmat bagi syaiton, surga bagi para iblis, yang saat mereka terpenjara sebagian dari mereka melarikan diri ke bumi, mengajakku ke warong kopi tepat di pojok utara-barat kampus Institut Agama Islam Negeri Surabaya. Mereka berbisik dengan mesra, “ngopi…ngopi…ngopi….”
Sambil mendengar gemrisik angin sejuk di samping belantara rerumputan, diramaikan suara laju kereta api, di pojok itulah kami bersendawa, tertawa terbahak—hal-hal yang dilarang agama, mengiringi mentari menjelang sore, menentramkan hati sepanas neraka.
Suasana itu selalu membuatku rindu. Ingin sekali warong pojok itu tetap berdiri seperti puluhan tahun yang lalu….
Tapi sayang, Pemerintahan Kota Surabaya segera menggusur ruas jalan sisi utara Jalan Ahmad Yani. Dengan membeli tanah masyarakat seharga ratusan juta rupiah untuk pembangunan fly over, puluhan ekonomi rakyat jadi sasaran empuk. Barangkali para syaiton, iblis, jin, dan cecunguknya akan selalu berpikir jika ingin menetap di Surabaya….
Oh, warung pojok, nasibmu kini.
Terkait:
-
Buku: Dari Sumber Ilmu Sampai Sumber Bencana
Jumat, 18 Mar '11 13:18 -
MOMENTU HARI PAHLAWAN NASIONAL 10 NOVEMBER
Selasa, 10 Nov '09 22:45 -
DEMOKRATISASI PENDIDIKAN GUNA MEMBANGUN PENGETAHUAN
Selasa, 20 Okt '09 21:49
Komentar:
gtu saja kok repot
Silahkan login untuk memberikan pendapat