“Mahasiswa dan Perspektif Kerakyatan” 1
Kamis, 5 Agu '10 11:52
-sebuah essay untuk diskusi FMLK ke-3-
oleh : Fildzah Izzati (Ilmu Politik FISIP UI/ 2007)
Prolog : Siapakah itu rakyat?
Sumber gambar : http://www.google.co.id
Berbicara mengenai "perspektif kerakyatan", penulis jadi teringat peristiwa yang terjadi sekitar tiga tahun yang lalu... :
" 30 Agustus 2007...
Mulanya aku tertarik untuk mengikuti aksi demonstrasi yang dilakukan oleh kakak-kakak kelasku, Pada hari itu, ketika baru saja aku mendapatkan jaket kuning, yang sering disebut sebagai jaket perjuangan. Mengapa mereka melakukan ini? tanyaku waktu itu. Mereka bilang karena harus melawan kebijakan pemerintah yang merugikan rakyat. Rakyat yang mana? Tanyaku dalam hati. Kumulai pencarianku. Kucari-cari siapa itu mereka, yang disebut sebagai rakyat, yang dirugikan oleh pemerintah. Tak pernah kusangka, ternyata mereka ada di dalam kampusku sendiri. Anak-anak berjualan di dalam kampus sampai jam 10 malam supaya tetap bersekolah. "Bantuin ibu sama bapak supaya bisa tetep sekolah." Di sudut kampusku kemudian kulihat seorang perempuan berjilbab, petugas cleaning service yang terduduk lesu. Menunduk. Lelah dengan jawaban yang muram, ketika kutanyakan mengenai upah yang ia dapatkan, "17 ribu sehari, neng." Padahal, mereka datang lebih pagi dan pulang lebih malam dariku.
----***----
Semuanya membuatku tercengang. Termenung. Geram. Marah. Bingung dan gelisah. Keluar dari kampus, kutemukan rumah-rumah kumuh di atas sungai kotor yang bau dengan anak-anak yang kumal di dalamnya. Di Kali Adem, rumah-rumah yang lebih buruk dari kandang sapi itu hanya dibatasi tembok angkuh dari rumah-rumah mewah berAC. Rumah-rumah kumuh itu, tidak akan bertahan lama karena para penghuninya selalu hidup dengan ancaman : digusur pemerintah tanpa ganti rugi. Sedikit berjalan ke ujung Jakarta, kulihat puing-puing berserakan dengan tulisan diatasnya : "Tanah ini milik negara". Orang-orang di taman BMW itu bertanya padaku : " Negara ini milik siapa?" .Lunglai. Tapi mereka tak butuh rasa iba. Di depan istana negara, pada Kamis yang berani itu, seorang ibu tua dengan baju hitam dan payung bertuliskan "Lawan Impunitas", yang kehilangan anaknya pada peristiwa 98 itu berkata padaku "Kami akan terus aksi disini sampai anak-anak kami ditemukan."
----***----
Rakyat yang mana itu telah terjawab. Sebelum aku tahu bahwa Tagore pernah mengatakannya, aku telah mengetahui bahwa aku hidup diantara orang-orang yang paling kecil, paling miskin, dan paling terpinggirkan. Maka sejak saat itu, kuputuskan untuk selalu bersama mereka. Dalam keadaan bagaimanapun, aku harus tetap berjuang, melawan, hidup, dan tumbuh bersama mereka : yang sengaja diperlakukan supaya menderita dan kepayahan. Haram bagiku menjadi menara gading. Aku tidak boleh menjadi penghianat atau pembunuh dengan hanya terdiam ketika terjadi sebuah penindasan atau ketidakadilan."
-----------
Rakyat : Sebuah Terminologi
Ketika mendengar kata rakyat, yang terbayang mungkin adalah mereka : buruh pabrik, kuli bangunan, guru, pekerja kantoran, pedagang asongan, pengamen, nelayan, buruh tani, supir, kenek, dan lain-lain. Atau mungkin juga sebaliknya, pengusaha Indonesia, dan buruh pabrik, bos dan karyawan, mereka semua adalah rakyat.
Terminologi rakyat seringkali memang lebih lekat dikaitkan dengan mereka yang cenderung marjinal (terpinggirkan), tertindas, terhisap, tergusur, dan yang mempertahankan hidup dengan susah payah. Rakyat juga sering dan hampir selalu dikaitkan dengan perjuangan, perlawanan, dan pemberontakan. Kekuatannya dianggap sebagai kekuatan yang utama bagi sebuah perubahan, dan negara, dianggap sebagai kekuatan pembandingnya. Maka tak heran, jargon-jargon seperti "Hidup rakyat!", "Rakyat bersatu tak bisa dikalahkan", dan sebagainya pun tak pernah lekang dimakan waktu karena sejarah menunjukkan bahwa kekuatan rakyat tak ubahnya seperti kekuatan yang teramat dahsyat.
Namun, terminologi yang seperti itu sepertinya kini tidak begitu melekat lagi, bahkan di dalam jiwa "rakyat" itu sendiri. Rakyat yang dipahami sekarang ini mungkin adalah seluruh rakyat Indonesia, tanpa memandang apakah mereka kesulitan, terpinggirkan, tertindas, atau terlupakan. Rakyat saat ini mungkin lebih dipahami sebagai seluruh manusia yang tidak duduk di kursi-kursi kekuasaan negara atau rakyat adalah semua yang bukan pejabat. Rakyat pun disebutkan dalam konstitusi sebagai sesuatu yang memiliki tempat tertinggi di republik ini. Kedaulatan rakyat, kesejahteraan untuk rakyat, hak-hak asasi rakyat, dan semua tentang rakyat. Negara dan rakyat seolah-olah adalah hal yang terpisah satu sama lain sehingga slogan demokrasi, yang di Indonesia ini, diperjuangkan oleh rakyat, dari rakyat, dan (cita-citanya) untuk rakyat pun seperti menjadi ilusi karena rakyat tak pernah ada dalam kekuasaan.
Rakyat pun umumnya dimaknai sebagai warga negara yang perlu diberdayakan. Banyak intelektual, yang lahir dari menara gading kampus, menganggap rakyat tak berdaya atau kebingungan di persimpangan jalan. Kita dapat melihat banyaknya program-program "permberdayaan rakyat", advokasi rakyat, dengan menggunakan anggapan seperti itu, banyak dilakukan misalnya oleh organisasi mahasiswa dan LSM. Sehingga dalam kondisi yang sedemikian, terminologi rakyat yang dianggap memiliki kekuatan yang teramat dahsyat pun kini memiliki beberapa kontradiksinya tersendiri.
Meskipun demikian, penulis berpendapat bahwa terminologi rakyat yang mesti dikenali adalah dalam hal posisi Kelas. Rakyat adalah mereka yang berada dalam posisi Kelas yang mayoritas, sehingga pemilik modal dan para pejabat yang saling kongkalikong untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya dari penghisapan, tidak masuk ke dalam terminologi rakyat. Mereka bukanlah rakyat. Mereka adalah musuh rakyat.
Mahasiswa dan Rakyat
Mahasiswa seringkali menempatkan dirinya sebagai "dewa penolong" bagi rakyat. Rakyat yang dimaksud disini pun tentu adalah mereka yang marjinal, tergusur, terhisap, dan tertindas. Penempatan diri sebagai "dewa penolong" tersebut diwujudkan mahasiswa dengan mengadakan program-program bakti sosial, community development, atau advokasi bagi rakyat (tanpa melibatkan rakyat). "Menyadarkan rakyat" seolah telah menjadi cita-cita mulia mahasiswa, yang selalu dilihat sebagai misi mulia seolah rakyat yang (memang) terhegemoni tidak pernah memiliki "kesadaran yang baik" menurut mahasiswa. Sehingga "mental menggurui" rakyat sangat umum dimiliki mahasiswa padahal rakyat yang memiliki kondisi material yang lebih nyata tentu bukanlah "sesuatu" yang tidak memiliki apa-apa.
Sejauh pengalaman penulis sebagai mahasiswa dan selama penulis terlibat dalam organisasi-organisasi kemahasiswaan, belajar bersama-sama rakyat, apalagi berjuang bersama-sama rakyat, sangat jarang ditempatkan sebagai hal yang lumrah. Penempatan posisi mahasiswa dalam mitosnya sebagai "agent of change" nyatanya memang telah membuat mahasiswa terilusi. Bahwa dirinya adalah "superhero" yang posisinya adalah "agen" yang "menyalurkan perubahan". Mitos tersebut tentu perlu dihilangkan dan dijawab dengan analisis mengenai posisi mahasiswa dalam fase masyarakat dengan sistem kapitalisme yang sedang berlangsung saat ini.
Asal-usul keberadaan mahasiswa di negeri ini tentu tidak terlepas dari awal mula keberadaannya pada masa kolonial. Pemberlakukan politik etis oleh pemerintahan kolonial Belanda termasuk dalam pendidikan, telah menghasilkan tenaga-tenaga ahli terdidik dari rakyat pribumi (golongan ningrat) untuk dipekerjakan dengan murah dalam "proyek-proyek" Belanda. Hal tersebut memperlihatkan bahwa mahasiswa memang ada untuk mendukung reproduksi kapitalisme. Ya, posisi mahasiswa sebagai pendukung reproduksi kapitalisme tersebutlah yang mestinya disadari mahasiswa "sejak dini". Sehingga peran mahasiswa, termasuk hubungannya dengan rakyat, dapat dipahami pada tempatnya.
Sebagai pendukung reproduksi kapitalisme, mahasiswa adalah calon Kelas pekerja sehingga mahasiswa juga harus mulai dapat menempakan dirinya dalam posisinya sebagai calon Kelas pekerja. Dengan mulai melibatkan diri dalam perlawanan-perlawanan rakyat dan (bahkan) yang berperspektif Kelas misalnya. Selain itu, keberadaan mahasiswa di dalam universitas (yang memproduksi ilmu pengetahuan untuk menunjang kapitalisme), juga tentu menjadi kunci bagi mahasiswa dalam menjalankan perannya. Dimana mahasiswa menjadi kunci utama bagi terciptanya ilmu-ilmu pengetahuan, apakah yang akan menguntungkan rakyat, atau sebaliknya.
Epilog
Dialektika antara teori dan praktek adalah keharusan bagi keberlangsungan sebuah gerakan mahasiswa, yang tidak ingin menempatkan dirinya sebagai "dewa penolong" bagi rakyat, namun sebagai kekuatan pendukung bagi gerakan-gerakan perlawanan rakyat. Sehingga perspektif kerakyatan dalam gerakan mahasiswa jelas merujuk pada kesadaran bahwa mahasiswa adalah bagian dari reproduksi kapitalisme dan "produsen" ilmu pengetahuan. Sebagai calon Kelas pekerja yang hendak membangun kesadaran rakyat, mahasiswa seringkali terjebak oleh mitos dalam sejarah gerakan mahasiswa sehingga menjadi "anti-Politik". Sehingga kesadaran yang diberikan pada rakyat pun bukanlah berupa kesadaran politik. Padahal, kekuatan satu-satunya bagi rakyat adalah jika mereka terlibat dalam politik. Tentunya bukan politik borjuasi seperti yang sedang berlangsung saat ini, melainkan dalam politik rakyat yang memiliki perspektif anti penindasan dan anti penghisapan.
-- Mari berdiskusi -
Tag: Mahasiswa, gerakan mahasiswa dan rakyat
Terkait:
-
Inspirasi Besar: Mahasiswa Harus Bangun Solusi
Senin, 6 Feb '12 16:35 -
Indonesia: Negara Yang Bukan-Bukan
Minggu, 30 Okt '11 06:31 -
Semakin Tinggi Penghargaan Manusia Terhadap Kekayaan, Semakin Rendahlah Penghargaan Manusia Terhadap Kebenaran, Keadilan, Kesusilaan, dan Nilai-Nilai Kemanusiaan
Rabu, 12 Okt '11 02:08
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
rooma: Penting

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat