Hilangnya Budaya Kita !!! 0
Rabu, 4 Agu '10 17:09
Pagi mulai membangunkan tidurku, seperti biasa aku masih tidak kuat membuka kedua kelopak mataku. Jam 4 pagi, suara dzikir dimasjid semakin nyaring saja. Aku tak kuasa menahan kantuk, bangun pagi-pagi adalah perjuangan setiap hari. Aku mulai berjalan menuju kamar mandi yang terletak dibelakang kamarku. kusiramkan air kewajahku yang masih ngantuk.
Akhirnya obat paling mujarab agar tidak ngantuk adalah membasuh wajah dengan air. Aku mulia membenarkan sarungku yang sudah tidak karuan dan kamarku, apalagi (berantakan). Ku tunaikan sholat subuh sebagai kewajiban seorang muslim, dan ku baca sepotong surat yasin. Hanya 5 menit, kantukku mulai datang, dan aku tidur lagi.
Tidak ada yang istimewa hari ini, seperti biasa tumpukan buku menggunung yang belum aku baca. Aku mulia senang baca buku sejak aku dijember, dan menulis adalah akhir dari semua pemikiranku yang tak tersalurkan atau pemikiran-pemikiran yang tak dihiraukan oleh teman-temanku. Tapi itu bukan halangan bagiku, Toh nanti kita dapatkan manfaatnya sendiri. Aku berada dilingkungan pondok mahasiswa, pikirku mahasiswa adalah pemuda yang energik, pimikiran yang kontekstual dengan zaman penuh kecamuk hiruk pikuk tak menentu. Tapi ku lihat, tidak demikian mahasiswa disini, kebanyakan bermalas - malas, tidur - tiduran, dan apatis terhadap persolan yang sepele. Rasanya aku ingin keluar dari lingkarang yang tak mendukung dari niat awalku.
"Meraka sudah keluar dari peran seorang mahasiswa, tidak mengenal kata perjuangan dalam hidup dan tak percaya lagi dengan proses yang panjang dalam dinamika mahasiswa. Ahh sudahlah, urusan meraka " kesalku. Sekitar jam 10 pagi, aku masih membaca buku "Zaman Edan, Indonesia Diambang Kehancuran" hingga pukul 3 sore aku berhenti membaca buku. Kepalaku pusing, aku berjalan menuju pintu depan, mengambil biji rosela yang akan kutanam.
Aku ambil timba yang berisi air, dan golok untuk mencungkil tanah dan aku tanamkan 4 biji disetiap tanah yang sudah kulubangi. Tak lama kemudian, santri paling mudah dipondokku. Namanya Rohman, siswa SMP Al-Baitul Amin. Dia seorang anak nelayan dari kota kelahiranku, situbondo. Anak pertama dari pasangan keluarga kurang mampu. Keluarga itu mempuyai 7 orang, adik - adiknya 6 dan 2 dari adiknya dikasihkan orang lain. Semuanya masih kecil-kecil. Aku senang dengan dia, penurut, mau berusaha dan tanggap dengan persoalan sepele seperti menyapu halaman saja. Kadang aku bandingkan dengan meraka yang mahasiswa, jauh dari kesadaran mereka untuk mau menyapu halaman. Sungguh ironi, soerang yang lebih paham dan lebih matang dari segi pemikiran. Tapi itulah realitasnya.
03 agustus 2010
Disudut kamar
Tag: oot
Terkait:
-
Menghindari Makan Nasi
Rabu, 23 Feb '11 17:38 -
dunia munak
Senin, 3 Jan '11 11:46
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Die Key belajar nulis: Bagus
-
Rizki: Bagus
-
dewi alfath: Bagus
-
mr Biawak: Bagus
Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat