Orang Gila itu Sudah jadi ‘Sarjana’; Nasib Aktivis? 43
Minggu, 1 Agu '10 20:43
Kini ia bernama Mochammad Fathoni, S.S. Ia bukan lagi mahasiswa. Ia sudah jadi manusia biasa. Namun, ia masih merasa ia mahasiswa yang punya segudang tanggunggjawab. Ia masih menjadi orang gila. Aktivis lain seperti saya memendam kehawatiran mendalam tentang nasib mahasiswa pasca pensiunannya ia. Sulit menemukan aktivis yang benar-benar memilki keteguhan hati seperti Mas Fath.
Awal terjun ke dunia aktivis, saya mencibir keberadaan aktivis. Aktivis hanya sekumpulan orang gila yang menebar wacana melangit semata. Kajian filsafat hingga sosial terdengar sumir ditelinga saya. Saya punya naluri kata-kata mentereng para aktivis itu hanya cara menunjukan eksistensi diri semata. Ingin dianggap berwacana. Terbukti, dalam perjalanan aktivisme saya, saya berjumpa dengan para aktivis yang 'Omdo', yang memanfaatkan pengalaman aktivismenya hanya sebagai cara cari uang. Setelah bosan jadi aktivis, para orang-orang itu lantas meninggalkan tanggungjawab di organisasi masing-masing dan bergabung dengan LSM. Saya benar-benar ngeri sekaligus jijik terhadap realitas itu.
Berkali-kali saya mengutarakan ketidaksukaan saya atas realitas itu. Salah satunya dengan Mas Fath. Mas Fath, walau tak sepakat dengan pandangan saya, ia hanya mencoba meyakinakan tentang jalan yang saya tempuh dengan contoh tindakannya. Ia jarang menggunakan kosakata tinggi setiap kami berdiskusi tentang sesuatu. Namun, dalam bahasa yang sederhana ia mampu menganalisa masalah dengan begitu tajam. Kajiannya pun selalu masuk diakal karena bersumber pada teori yang benar-benar ia kuasai dan sejarah yang bukan hanya mistis. Terkadang ia seperti punya sihir untuk membuat otak manusia seperti apapun bisa sejalan dengan pandangannya.
Ia sangat suka berbicara soal keadilan. Ia memilki cara simpel untuk mendevinisikan ketidakadilan dan menarik sebab-musababnya. Ia berkali-kali bicara soal nasib orang kecil. Tak hanya itu, ia juga mampu memberikan analisa kenapa orang kecil sulit untuk hidup dalam dunia yang berkeadilan. Lebih dari itu, ia pula mampu membangun sebuah cerita besar bagaimana 'orang papa' itu bisa mendapatkan keadilannya. Yang paling luar biasa dari dirinya adalah ia mau dan mampu untuk memulai membangun keadilan itu dari dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya secara konskwen.
Jarang ada aktivis yang benar-benar tak hanya berwacana tapi juga bertindak nyata seperti Mas Fath. Pernah ia membuat sebuah partai dikampus kami. Ia tak bicara soal menang-kalah. Ia malah punya cita-cita partainya walaupun kalah, akan menularkan pola berpikir yang positif bagi semua aktivis termasuk mereka yang diluar partainya. Ketika para simpatisan partai memanas karena persaingan, ia dibelakang layar malah merencanakan persatuan para simpatisan partai. Lebih jauh, ia telah merencanakan sebuah aksi bersama. Sungguh pemikir sekaligus in-action-man yang begitu jenius.
Perjuangannya sedikit-banyak telah nampak saat ini. Para aktivis di kampus kami, dari berbagai golongan dan bendera seolah tak punya sekat lagi. Kami seolah telah dipersatukan secara sadar dengan cita-cita yang sama. Kami bukan dipersatukan oleh ideologi yang membutakan saja. Visi yang secara sadar dipahami oleh aktivis di UAD membuat seluruh aktivis UAD merasa punya tanggungjawab bersama untuk hidup. Perlahan tapi pasti persatuan aktivis UAD mulai menginjak program-program yang nyata. Semua ini tak bisa dielakan adalah jasa seorang maestro besar: Mas Fath.
Dari pemikiran hingga aksi nyata Mas fath, keyakinan dan pandangan aktivisme saya semakin kuat. Bukan hanya saya, semua orang yang pernah bersinggungan dengan Mas Fath pasti pula akan merasakan gejala yang sama. Gejala yang memahamkan mahasiswa bahwa tanggungjawabnya bukan hanya atas diri dan keluarganya semata. Gejala yang membangkitkan semangat tak pernah padam menuju keadilan. Ketulusan, keteguhan hati, kehati-hatian, keikhlasan, kecerdasan, adalah nilai-nilai yang secara langsung mampu Mas Fath tularkan pada lingkungannya.
Satu ketakutan cukup berdasar setelah ia bukan lagi menjadi mahasiswa adalah "Siapa yang akan meneruskan perjuangan luar biasanya?". Mas Fath, butuh berpuluh tahun lagi untuk memunculkanmu, seorang aktivis jenius yang memiliki keteguhan hati yang luar biasa. Teman PPMI, anda juga berhutang budi dengan Mas Fath...
Tag: mas Fath
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Rizki: Penting
-
Fandy Lasinrang:
-
Dylan: Bagus
-
Elly LPM Situs:
-
ketoles ARBIMAPALA: Responsif
-
Danar_Pabelanis: Bagus

Komentar:
huwaaaaaaaaaaaaa
jka slama ini,. jdi aktivis pnuh dgn retorika,. skrang sdah saatnya merealisasikan sgala pengetahuan yg dimiliki,.SUKSES,.
Fatoni yg hampir gila akhirnya lulus juga....
Maem2 cuk....
bpkny sakit,,,doakan ya,,,
ckakakakkk
Silahkan login untuk memberikan pendapat