Formalisme yang Merenggut Kemerdekaan 0

Sabtu, 31 Jul '10 22:54

 

Ki Hadjar Dewantara berkeyakinan bahwa pendidikan bisa menjadikan manusia merdeka. Dalam pandangan Tri Pusat Pendidikannya, Ki Hadjar justru menempatkan keluarga sebagai tempat pembelajaran yang utama, bukan sekolah formal. Formalisme berlebihan yang terjadi pada sekolah formal saat ini adalah cermin pendidikan yang tidak memerdekakan.

Education development index (EDI) Indonesia adalah 0.935, di bawah Malaysia (0.945) dan Brunei Darussalam (0.965). UNESCO menempatkan pendidikan Indonesia pada peringkat 62 di antara 130 negara di dunia. Atas keterpurukan itulah lantas kebijakan pendidikan diarahkan pada standarisasi global seperti pada Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). Standarisasi tersebut mendorong pendidikan semakin formalistis. Persyaratan dan target pencapaian RSBI yang bukan hal subtansial malah dijadikan peraturan wajib.

Saat ini sebagian besar sekolah sedang berlomba menjadikan dirinya menjadi RSBI. Menjadi sekolah RSBI memang mendapatkan banyak keuntungan. Ketiaka mampu menjadi RSBI, sekolah bersangkutan akan mendapatkan tunjangan bagi pengembangan sekolah. Karena terlalu terfokus pada hasil yang ingin dicapai, proses terkadang menjadi tak begitu diperhatikan. Segala persyaratan terkadang hanya menjadi formalitas. Untuk syarat pengajaran menggunkan pengantar bahasa Inggris semisal. Kemampuan guru dalam menggunakan bahsa Inggris terbatas hanya pada skor TOEFL. Padahal dalam mata pelajaran yang berbeda, istilah dalam bahasa Inggris juga memiliki perbedaan. Akan menjadi masalah besar ketika istilah bidang tertentu salah dimaknai.

Selain pada soal bahasa pengantar, fasiltas yang dipersyaratkan pada RSBI juga harus berstandar internasional. RSBI mengisyaratkan penggunaan Teknologi Informasi (TI) dalam proses pembelajaran. Banyak terjadi salah pemaknaan pada ketentuan ini. Terdapat beberapa sekolah yang hingga mewajibkan peserta didiknya untuk memiliki laptop bahkan pada tingkatan sekolah dasar sekalipun. Subtansi dari penggunaan TI adalah agar peserta didik dapat mendapatkan kemudahan akses untuk mencari bahan-bahan pembelajaran. Namun, dengan persayaratan seperti itu nampak sekali hal subtansial dari penggunaan TI malah seolah hanya soal gengsi.

Standarisasi internasional pada dasarnya adalah cara agar target dan arah pendidikan menjadi jelas. Lebih dari itu, semangat standarisasi pendidikan adalah agar kualitas pendidikan dan output pendidikan Indonesia dapat sejajar dengan negara lain. Dengan kesejajaran tersebut diharapkan secara keseluruhan Indonesia bisa menjadi bangsa yang mampu bersaing di dunia global. Globalisasi mau tak mau menciptakan kompetsi, termasuk dalam kualitas sumber daya manusianya. Melihat reduksi semangat RSBI menjadi hal yang seolah hanya formalitas, RSBI justru akan membuat segmentasi peserta didik semakin lebar.

Dengan persyaratan yang mau tak mau membebankan biaya tinggi pada peserta didik, sekolah berkualitas seolah hanya menjadi milik masyarakat mampu saja. Sementara itu, anak dari keluarga tak mampu, walau berotak cerdas hanya bisa menikmati pendidikan yang alakadarnya. Kualitas pendidikan pada saatnya nanti akan menentukan akses seseorang terhadap sumber-sumber ekonomi. Mereka yang mampu bersekolah di sekolah berkualitas akan lebih punya kesempatan mendapatkan sumber ekonomi yang baik. Mereka yang tak mampu, yang hanya belajar pada sekolah yang kurang berkualitas, hanya akan mendapatkan sumber ekonomi yang buruk. Kondisi ini membuat yang kaya tetap bahkan lebih kaya dan yang miskin akan tetap bahkan semakin miskin. Jurang antara si kaya dan si miskin seolah diperdalam oleh pola pendidikan yang semacam itu.

Pendidikan menuju manusia merdeka bisa bermakna bahwa pendidikan seharusnya mampu melepaskan masyarakat dari kemiskinannya. Bagaimanapun pendidikan adalah jalur mobilitas sosial atau cara perubahan nasib yang paling mungkin ditempuh saat ini. Dengan pendidikan seseorang yang tak mampu bisa memperbaiki kehidupannya. RSBI dengan pemaknaannya yang sempit menutup kemungkinan itu. Bisa dibilang RSBI justru mempersulit kesempatan manusia untuk merdeka dari kesulitan hidupnya.

Lebih dari masalah akses, formalisme berlebihan pada dunia pendidikan akan membuat proses pendidikan menjadi terlalu mekanistis. Mendidik manusia tidak bisa secara kaku. Manusia itu terlalu unik untuk hanya dididik dengan cara yang terlalu seragam. Keunikan manusia adalah potensi utama yang memerlukan pendekatan yang berbeda pula untuk mengolahnya. Standarisasi menciptakan keseragaman target pencapaian belajar dan perlakuan pada setiap peserta didik. Formalisme dalam RSBI bisa merebut kemerdekaan peserta didik untuk berkembang sesuai dengan minat dan bakatnya.

 


Tag: Pendidikan

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Silahkan login untuk memberikan pendapat