Naar Batavia Voor Studie (bagian I) 6
Kamis, 29 Jul '10 17:59
Mikrolet itu kemudian berhenti di suatu persimpangan. Dua penumpang turun setelah sebelumnya memukul-mukul atap mikrolet itu dengan kasar. Mata mereka merah, dahinya menampakan beberapa urat yang menyembul, tangan mereka tergengenggam seperti hendak bertinju. Lalu pergi berjalan melengos tanpa membayar. Kemudian berjalan berlawanan dengan arah mikrolet 09 yang saya tumpangi.
“Gembel lu anjing!” kata supir angkot di depan saya.
Pagi itu hari Senin, tanggal 26 Juli. Saya berada dalam sebuah mikrolet Biru menuju daerah Kebayoran Lama. Bersama kawan saya Insaf Albert Tarigan, kami hendak mengikuti Kursus Jurnalisme Sastrawi yang diadakan oleh Pantau. Sebuah yayasan yang memang peduli dan berniat mengembangkan kualitas penulisan berita di Indonesia melalui genre Jurnalisme Sastrawi.
“masih jauh” katanya seraya melihat ponsel Nokia biru. Sedari tadi Albert memang sibuk melihat GPS dari smartphone miliknya. Ia dan saya sama-sama tidak tahu lokasi Kebayoran Lama no 18.CD letak dimana kantor pantau berada. Albert berwajah putih, hidungnya mancung, berkaca mata, rambutnya lurus, wangi dan berpakaian rapi.
“kita turun Dan” katanya lalu membayar biaya mikrolet.
Sedari tadi pagi ia tidak memberikan kesempatan pada saya untuk mengeluarkan uang. Saat menjemput saya di stasiun Jatinegara pun ia pula yang membayar jasa angkot. Saat saya protes “Cak, aku oleh duit soko Universitas kok”. Albert hanya membalas dengan senyum saja. Lalu ia berlalu dan mengajak saya naik Kopaja untuk melanjutkan perjalanan.
Sebenarnya saya baru benar-benar berkenalan dengan Albert tadi pagi. Sebelumnya kami hanya sekedar tau muka dan nama saja. Ia kakak angkatan di Universitas Jember tempat saya kuliah. Dan di Jakarta ia bekerja sebagai wartawan okezone. Kenapa Jakarta? Tanya saya dalam hati. Bung Karno pun pada suatu masa pernah berpidato di depan ribuan pemuda di IKADA berkata “Harus Jakarta!, Lihatlah New York dan Moskwa”. Dan bim-bim salabim, jadilah Jakarta sebuah kota artefak terbesar dari aspirasi budaya manusia Indonesia .
Tilulit-tilulit Ponsel saya tiba-tiba berbunyi sesaat saya setelah saya naik dari pintu belakang bus Kopaja warna hijau itu. Saya memutuskan untuk duduk terlebih dahulu di pojok kanan dekat Jendela, sedangkan Albert di dekat tiang di pintu masuk. Matanya tetap saja terpaku pada layar smartphone itu. Mungkin menghapal jalur dari GPS. Oh ya, tadi ada SMS. Saya rogoh saku kanan saya dan mengeluarkan ponsel. Ternyata pesan dari kakak saya. “berangkat.dan! tdk semua dpt ksmptn belajar jurnalisme naratif lgsung dari center of exellence nya” bunyi SMS itu. Sungguh, saat itu saya mengucapkan Amien paling keras dalam hati.
Dalam Bus Kopaja itu saya teringat Kakak dan Ibu saya. Mereka mungkin adalah orang yang paling bertanggung jawab dalam keberadaan saya di Jakarta saat ini. Berada dalam bus Kopaja 502 jurusan Tanah Abang yang panas dengan membawa beban lebih dari 50 kg di punggung, hanya demi belajar Jurnalisme Sastrawi. Sebuah istilah yang awalnya hanya saya kenal lewat buku dan diskusi sejak setahun terakhir. Marshal Mclluhan pernah berujar Medium is The Message , Jurnalisme Sastrawi adalah sebuah metode pemberitaan dengan memanfaatkan medium deskripsi, dialog dan narasi cerita yang memainkan emosi pembaca. Setidaknya itu pemahaman saya.
Dahi Albert masih saja berkerut, tangannya sibuk memainkan tuts Smartphone miliknya. Lalu ia mengisyaratkan untuk turun. “kita naek taksi dan, udah deket kayaknya”. Ia melambaikan tangan dan sebuah taksi warna biru mendekat. “kebayoran lama bang” katanya.
Dalam taksi itu kami sebenarnya masih belum tau arah. Rupanya supir taksi itu adalah orang batak, mereka bercakap-cakap panjang sekali. “Maaf ya dan” kata Albert berapologi atas ketidaktahuan saya tentang arti percakapan mereka.
Kami rupanya salah arah, supir memutuskan berbalik arah menuju pasar kebayoran lama. Kemudian menyusuri jalan tersebut sampai pada akhirnya kami melihat sebuah plang “Jalan Saha”. Dan melihat gedung tua kusut bertuliskan 18 CD. Akhirnya tiba juga, saya memutuskan untuk turun. Tapi pintu taksi itu ditutup oleh Albert. Didalam saya melihat ia sekali lagi membayar ongkos taksi itu dengan uangnya sendiri. Lalu keluar dari taksi tanpa ekspresi.
Tag: jurnalisme sastrawi, pantau
Terkait:
-
Dari Hati yang Paling Dalam; Tulisan Ini Layak Pantau
Sabtu, 18 Des '10 05:18
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Dwiki: Bagus
-
Rizki: Bagus
-
Njun: Perlu
-
Die Key belajar nulis: Bagus
-
BJ: Responsif
Komentar:
Sepertix km g usah pLg k jmbr deh mas biar tLsnmu bs gni truz. .
Hahaha. .
Semangat!
hehehe............. ..
jd seperti bukan dhani biasax..............
Pertama; Kursus "Jurnalisme Sastrawi", Pantau = amat menarik, om. menurut saya.
Kedua; --“Harus Jakarta!, Lihatlah New York dan Moskwa”. Dan bim-bim salabim, jadilah Jakarta sebuah kota artefak terbesar dari aspirasi budaya manusia Indonesia-- Ada 'omong-omong kosong' Pindah Palangkaraya nantinya.
==
Terakhir, saya ^_ jadi ingin belajar nulis sama om Dhani
(Ini bukan SPAM, om
BJ> aduh ampun DJ.........
Ha ha ha ha...
Silahkan login untuk memberikan pendapat