Pendidikan Moral dan Pemberantasan Korupsi 0
Senin, 26 Jul '10 09:50
Mungkin kita jengah melihat pemberitaan negatif media tentang korupsi yang telah merajalela di negeri ini. Bahkan pada tahun 2009 menurut Transparency International dalam peringkat indeks korupsinya, Indonesia masih berada di peringkat ke-111 dari 180 negara. Lebih mengkhawatirkan lagi, benih-benih korupsi telah ditanamkan pada diri anak-anak sejak dini. Misalnya siswa yang dibiarkan mencontek, ada pihak yang sengaja menyebarkan bocoran soal Ujian Nasional, dan tugas yang dikerjakan oleh orang tua.
Perilaku tersebut terlihat sepele malah mengajarkan siswa belajar untuk tidak jujur. Perilaku sepele ini malah berdampak destruktif, terbukti dengan makin banyaknya kantin kejujuran di sekolah yang bangkrut. Direktur Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat KPK, Dedie A. Rachim mengatakan, penyebab bangkrutnya kantin itu antara lain moralitas siswa. Pendapat Dedie ini berdasarkan tingkat keberhasilan dari kantin kejujuran dengan besarnya jumlah siswa yang tidak jujur. Dapat diamsusikan jika semua siswa jujur dalam membeli barang sesuai harga di kantin tentu kantin kejujuran tidak akan bangkrut.
Kondisi semacam ini sebenarnya dapat ditangani secara dini, ya diperlukan sebuah pendidikan moral terutama dalam hal kejujuran sejak seseorang masih berusia dini. Dalam sebuah proses manajemen krisis tahap yang cukup penting tapi sering terlupakan adalah tahap pre-krisis. Pada tahapan ini akan muncul benih-benih krisis yang terkadang tidak terdeteksi secara dini. Sering kali krisis baru terdeteksi saat sebuah krisis telah menjadi akut dan terlambat untuk mengatasinya.
Interaksi Simbolik dan Pengembangan Moral
Meskipun dalam sekolah telah diberikan mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan (PKN) implementasi pelajaran ini dirasa masih jauh dari harapan. Terbukti bangkrutnya kantin kejujuran ini diakibatkan oleh tidak jujurnya siswa. Diperlukan pembelajaran yang terintegrasi antara pembelajaran teori dan praktek.
George Herbert Mead, bapak teori interaksionalisme simbolik mengatakan bahwa makna berasal dari interaksi antar manusia secara verbal maupun non-verbal, melalui proses aksi-reaksi kita mampu memaknai sesuatu hal menjadi kata-kata dan aksi sehingga dapat dimengerti dengan berbagai cara. Dalam kasus ini, siswa sebagai peserta pendidikan membutuhkan pembelajaran moral yang tak sekedar teori. Teori yang disampaikan membutuhkan reaksi berupa implementasi teori pendidikan moral dalam kehidupannya sehari-hari agar makna terbentuk sempurna. Praktek pelajaran PKN ini dapat berupa bakti sosial, kunjungan ke panti asuhan dan kegiatan lain sebagai bentuk aplikasi materi pelajaran yang telah didapatkan.
Pendidikan tak sepenuhnya berakhir saat siswa pulang sekolah. Sejatinya fungsi sekolah dalam pendidikan moral adalah memperkuat nilai yang telah tumbuh di rumah. Pandangan interaksi simbolik menjawab fenomena ini. Manford Kuhn mengenalkan istilah orientational other, yaitu orang yang mengajari individu tentang bahasa, common sense, nilai dan pengetahuan untuk mejelaskan realita juga membantu kita untuk membedakan diri kita dengan orang lain dan mempertajam indra kita. Dengan kata lain faktor lingkungan sangat berpengaruh dalam pembentukan moral anak.
Pendidikan moral tentu tidak akan berhasil jika pendidikan materi pendidikan moral di sekolah tidak sesuai dengan yang anak dapatkan dalam kesehariannya. Misalkan dalam keseharian ia mendapati orang tuanya berbohong atau teman bermainnya mengajak sang anak mencuri mangga. Tentunya ketidaksesuaian yang didapati anak dapat berdampak buruk. Makna yang terbentuk menjadi tidak sempurna sehingga berimbas pada pembentukan moralitas dalam diri anak.
Anak akhirnya menghadapi dilema, yaitu ketidak sesuaian teori dan realita yang didapatkan anak. Dilema ini membuat anak bertanya-tanya manakah yang seharusnya dilakukan apakah pembelajaran yang didapatkan di kelas ataukah pembelajaran dari keseharian anak. Kebenaran terkadang diakui bila tercipta konsistensi antar fakta. Paham yang diamini oleh Plato ini membuat sang anak menemui kenakalan-kenakalan remaja secara terus menerus, sang anak akan mudah terpengaruh karena menganggap kenakalan tersebut sebagai hal yang benar.
Orang tua dan Pembentukan Karakter Anak
Beragamnya orientational other bagi sang anak membuat perkembangan moral anak menjadi tidak sempurna. Maka diperlukan orang yang sangat berpengaruh. Orang-orang ini biasanya mempunyai kedekatan khusus dengan kita secara psikologis dan emosional. Dalam hal ini pemegang kunci keberhasilan perkembangan anak adalah orang tua.
Ada pepatah mengatakan buah tak jatuh jauh dari pohonnya. Maksudnya sifat anak tentu tak jauh-jauh dari orang tuanya. Hal ini dikarenakan memang orientational other terkuat adalah orang tua. Bagaimana orang tua bersikap akan menentukan moral sang anak. Dalam upaya pemberantasan korupsi, selayaknya orang tua menanamkan sifat jujur kepada anak. Sehingga sifat ini dapat dibawa hingga ia dewasa dan dapat menentukan sikap.
Sudah seharusnya orang tua sebagai pihak yang paling berpengaruh dalam perkembangan anak memberikan contoh dan penanaman nilai moral pada anak. Pembelajaran moral yang didapatkan anak pada usia dini akan dibawa hingga ia dewasa. Nick Naylor, seorang tokoh dalam film Thank You for Smoking mengatakan merupakan tugas orang tua untuk mengingatkan anaknya tentang bahaya yang ada di dunia ini, jadi kelak mereka (dalam hal ini anak) dapat memilih dengan keinginannya sendiri.
Masa depan anak adalah tanggung jawab bersama anggota keluarga terutama orang tua. Maka orang tua bertanggung jawab penuh terhadap perkembangan anaknya secara menyeluruh, bukan hanya sekedar materi. Sehingga tercipta integrated learning antara materi pelajaran di sekolah dan realita yang anak dapatkan. Melalui langkah ini maka penanaman sikap anti korupsi dapat dilakukan secara dini sehingga tercipta jiwa-jiwa yang berani menumpas korupsi di bumi pertiwi ini.
Tag: korupsi, perkembangan anak
Terkait:
-
Memanen Tanpa Menanam
Selasa, 13 Des '11 12:25 -
Berbohong Demi Citra Kampus, Pantaskah...?
Selasa, 14 Jun '11 15:32 -
Korupsi, Kesalahan Yang Terus Terulang.
Jumat, 15 Jan '10 00:28
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Die Key belajar nulis: Perlu
-
Rizki: Bagus
Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat