Kabar dari Plantarum 2

Jumat, 23 Jul '10 00:52

 

 

Kamis  22 Juni 2010 merupakan tahap kedua dalam rangkaian Muskot PPMI Jember. Hari ini merupakan pengadilan Qomar sebagai wujud tanggung jawab 2 tahun pengabdiannya sebagai Sekertaris Jendral Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia kota Jember. Muhammad Qomarudin lahir 23 tahun lalu di kota Bangil. Kota yang sama dimana Sakera pernah melakukan perlawanan terhadap Kompeni Belanda. Ia adalah mahasiswa Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Jember (Unej). Besar di Bangil dalam Nuansa kegamaan yang ketat. Saya mengenal Ia sebagai pribadi yang selalu melaksanakan ibadah 5 waktu dengan sebaik-baiknya. Meski akhir-akhir ini ia terpengaruh setan kontrakan dimana ia tinggal, yang membuat ia bolong beribadah.

Qomar adalah pribadi yang unik, sama seperti saya ia adalah lelaki jantang yang mencintai ibu (bukan anak mami). Pernah suatu saat ia berambut gondrong lalu ibunya menyindir dengan perkataan " di Jember gak ada kaca yah?". Hari itu juga ia memotong rambutnya. Demi menyenangkan ibunya dan menghindari konfrontasi yang tidak perlu. Disuatu saat Fandi juga pernah berujar, Qomar itu orangnya kalem tapi lambat. Pernah saya merasa geregetan karena saya marah-marah tapi Qomar Cuma diam saja tanpa ada sikap melawan. Ia memang pendiam dan jarang berbicara, jauh dari saya yang suka sekali ngebacot dan kadang sok tau. Namun meski saya suka ngebacot dan diam, saya merasa baik-baik saja bersama dia. Karena dalam PPMI Jember saya dan teman-teman saling melengkapi. Mereka yang pendiam selalu saja semarak jika ada saya yang pembual dan rame ini. Meski kadang saya merasa ditegur dalam diam karena terlalu bising dan sok tau.

Awalnya saya tidak ingin datang ke Muskot ini. Alasannya sederhana, karena Kinerja saya sebagai Dewan Etik Nasional kota Jember kurang maksimal. Dan seringkali mangkir dari jabatan, namun saya merasaakan lebih malu apabila tidak datang dan membiarkan Qomar untuk menghadapi LPJ hari ini sendirian. Kinerjanya di Kota Jember tidak perlu diragukan lagi. Ia ibarat Janggo dalam Wild-Wild West superhero yang hampir melakukan segalanya sendirian. Mulai dari kaderisasi, koordinasi, pengawalan isu dan kerja-kerja administrasi. Ia lakukan sendiri karena paska terpilih menjadi sekjend sebenarnya ia telah memilih beberapa anggota untuk membantunya melaksanakan kerja organisasi. Dalam 4 bidang, yaitu bidang media, bidang dana usaha, bidang advokasi dan bidang litbang. Namun hampir semua orang yang menjadi koordinator 4 bidang tadi menghilang dan susah dihubungi. Jadilah ia ultraman yang bekerja sendiri menumpas kejahatan dan menegakan keadilan.

 Muskot dimulai pukul 14.45, padahal menurut jadwal muskot seharusnya dimulai pukul 13.00. Saat itu hanya beberapa orang saja yang nampak, mungkin hanya sekitar 9 orang.  Dan mereka mewakili sebagian dari LPM-LPM yang ada di Jember. Mungkin hanya perwakilan dari LPM Tegalboto, Ecpose, Prima, Plantarum, Ideas, Pijar, Lingkar, Milenium, dan Alpha. Kami duduk melingkar. Sedari tadi Qomar nampak sangat tenang. Ia pasrah menyerahkan prosesi LPJ hari ini. Mungkin dalam hati ia bersyukur dalam beberapa jam ke depan ia akan mengakhiri jabatannya. Saya duduk disebelah kanan Qomar dan sebelah saya ada Fandi Ahmad, Mantan Sekjend PPMI Nasional 2008-2010. Diantara mereka ada Rani Pemimpin Umum (PU) LPMF Lingkar, Fainani PU LPM MIPA Alpha, Bram PU LPMP Plantarum, Wargo PU LPMS Ideas, dan lainnya adalah perwakilan dari LPM. Yang lainnya saya tidak kenal.

            Setelah acara pemaparan Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ). Acara dilanjutkan dengan pandangan dari masing-masing LPM.  Pandangan pertama dilakukan oleh saya sendiri selaku Pemimpin Umum UKPKM Tegalboto. saya menyatakan kecewa dengan kinerja PPMI di beberapa kegiatan seperti saat di Dies Natalis Jogja dan masalah Kongres. Dimana kader saya di Tegalboto terlalu banyak disedot dan kemudian menafikan keberadaan kami. Lebih lanjut saya juga menyalahkan Qomar dan beberapa pengurus kota karena terlalu asyik ngopi dan lupa untuk mengayomi anggota PPMI lainnya. Pernyataan ini memang sedikit agak curhat, tetapi hal itu bukan buatan dan memang pendapat saya selaku PU Tegalboto. Lalu dilanjutkan oleh Hendro yang mewakili ecpose, setelah Hendro memaparkan pandangannya yang intinya ia menerima LPJ Qomar karena memang pada dasarnya ia tidak terlalu banyak aktif di PPMI dan memang merasa bahwa PPMI sedikit banyak Memberi manfaat. Fandi selaku anggota ecpose juga menambahkan pandangannya, ia sedikit menyindir pandangan saya tentang PPMI yang kadang mengganggu urusan dapur rumah tangga LPM, karena kesiapan LPM dalam mengabdi dan mengalokasikan SDM harus sudah tuntas di LPM. Dan tidak perlu membawa masalah ranjang ke forum PPMI. Serupa dengan Fandi, Wargo Pemimpin umum dari Ideas mengatakan bahwa Vakum LPMnya bukan karena masalah keberadaan PPMI. Tetapi memang sedang vakum saja. Dan ia merasa bahwa keadaan PPMI yang mensuport Fandi sebagai Sekjend Nasional merupakan keputusan tepat. Dan dirasa malah semakin menyatukan kekerabatan antar LPM di Jember. Pandangan umum berikutnya oleh Bram serupa dengan Bram, Rani yang mewakili dari LPM Lingkar, Senja dari LPM Pijar, Fay dari LPM Alpha dan perwakilan Milenium menyatakan pandangan umum yang kira-kira sama yaitu kinerja PPMI Jember kurang dalam hal komunikasi dan sumberdaya LPM yang tidak maksimal di PPMI Kota. Khusus Rani, ia menolak LPJ dari Qomar.

Dalam kesempatan pandangan umum tersebut, Zaki mantan Badan Pekerja Nasional bidang Media berujar bahwa, kerja-kerja PPMI adalah kerja kultural. Kerja yang dilandasi atas ingatan dan kenangan akan sejarah. Saat sebuah LPM merasa memiliki hutang sejarah dan kedekatan emosional dengan PPMI. Maka kemungkinan besar LPM tersebut akan militan dalam membela kepentingan PPMI. Hari ini Qomar menjawab semua tantangan tersebut dengan jantan. Ia berani duduk berhadapan dengan kami semua dan dengan tegar menjawab bahwa selama 2 tahun kinerjanya ia sudah maksimal. Dan meski dikecewakan dengan larinya beberapa anggota PPMI ia merasa sudah maksimal memberi dan tidak mengharap balasan. Ia berkata bahwa terkadang sebagai Sekjend ia tidak bisa memenuhi tanggung jawab. Belajar dari kepengurusan sebelumnya Qomar melakukan tindakan-tindakan yang dianggap perlu untuk mengembangkan PPMI. Seperti regenerasi, pola komunikasi yang lebih gaul dan usaha jemput bola. Namun tetap saja kurang maksimal. Laporan Qomar tadi akhirnya berujung pada ketukan palu yang memutuskan bahwa LPJ Qomar diterima. Dan ia dinyatakan sebagai pengurus demisioner Sekjend kota Jember.

Acara dilanjutkan dengan pemilihan Sekjend Kota Jember dan Dewan Etik Nasional. Jauh sebelum acara muskot digelar memang sudah ada kabar tentang kandidat kuat yang akan meneruskan tahta Qomar sebagai Sekjend. Ia tidak lain dan tidak bukan adalah tokoh karismatis mantan pemimpin redaksi dari LPM Alpha. Yaitu Rizky. Risky adalah tokoh dibelakang suksesnya acara bedah buku Nicotine War dan anggota penggagas Ngupil diskusi filsafat yang sangat tersohor itu. Sedang untuk Dewan Etik Nasional Arys Aditya gelandang redaksi asal UKPM Tegalboto konon sudah diincar untuk mengisi jabatan ini. Sehingga bisa mencapai paduan Sekjend dan DEN yang kompak sebagai Dinamic Duo. Dan memang benar, melalui musyarawah mufakat tanpa ada mekanisme voting. Pada pukul 22.40 WIB Risky dan Arys resmi terpilih menjadi pasangan Sekjend dan DEN. Mereka berjanji akan berkomitmen untuk memajukan PPMI kota Jember untuk menjadi jauh lebih baik lagi.

Terbersit sebuah kisah tentang Holmes dan Watson. Pasangan detektif dan rekan yang bahu membahu memecahkan kejahatan dan menegakan keadilan melalui analisa dan deduksi. Semoga Risky dan Arys dapat menjadi seperti mereka. Mencapai suatu kondisi PPMI yang lebih baik dan lebih dinamis. Dan tidak lagi terjebak pada kerja kerja teknis. Bukankah Milan Kundera menyatakan bahwa sejarah manusia adalah perjuangan melawan lupa. Bukankah kata dalam barisan huruf yang tertulis adalah salah satu perjuangan itu? Semoga dengan ini mereka bisa menjadi sumbu peledak gerakan pers mahasiswa yang jengah. Gerakan yang mungkin dinafikan dalam sejarah. Tapi bukankah sejarah dibuat dalam lapisan-lapisan pemaknaan? Bravo PPMI!

*ditulis diiringi nada sendu Norah Jones dalam time after time

 

 


Tag: jember, dhani, esai, muskot ppmi, sekjend

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Prima S W 0 0
"Ngupil diskusi filsafat yang sangat tersohor itu."
komen OOT: Sumpah, mitos inilah yang bikin aku ke Jember untuk kali pertama. Dan memang (hanya) mitos : p

Kenapa judulnya "Kabar dari Plantarum", mas?
arman dhani bustomi 0 0
Kan mitos buat dipatahkan? Kalo kamu berharap filsafat untuk ngerti. Wah salah alamat. Fungsi filsafat cuma buat bingung.
Oh muskotnya di sekret plantarum.

Silahkan login untuk memberikan pendapat