Peramal Itu Bernama Ideologi 6
Kamis, 22 Jul '10 20:14
Untuk semua idiot yang berfikir semua ide dapat berakhir di perapian / tak ada dunia yang begitu mudah untuk kalian hitamputihkan /
Homicide -Puritan (God Blessed Fascists)
* * *
Saya membayangkan Mishima Yukio di balkon itu, di sebuah kantor seorang komandan pada sebuah pos militer di Tokyo, dingin, tapi segera meledak. Ia menyerbu pos militer tersebut dengan serombongan serdadu Tatenokai-sebuah organisasi yang dengan kaffah berlatih ketahanan dan keterampilan seni bela diri Jepang, yang didirikan sekaligus dibiayakannya sendiri oleh Mishima.
Setelah berhasil menyandera dan mengikat seorang perwira di sebuah kursi, Mishima memulai ritual mengerikannya: Dengan kalem ia merobek isi perutnya sendiri dengan sebilah samurai. Horor, namun belum usai: seorang pembantunya dengan lekas menebas leher sang novelis. Seketika Mishima mati. Darah membanjiri kantor tersebut.
Saat itu tahun 1970. Jepang sedang berada tikungan sejarah, dimana kegagahan Jepang yang dikenal orang melalui sikap patriotiknya tengah tenggelam, digantikan dengan denyut kalkulus yang terus berayun, dimana setiap orang pada setiap harinya sibuk menghitung, menjumlah, menghitung, menjumlah...
Dan Mishima Yukio, seperti yang ia ceritakan dalam novelnya sebelum ia melakukan ritual mengerikan tadi, Laut Kesuburan , adalah salah satu dari ribuan warga Jepang yang tengah linglung, mungkin pasrah, tetapi berontak pada pergeseran identitas Jepang saat itu, yang masygul dengan sebuhul pertanyaaan tentang kemana Jepang dan keberaniannya, pengorbanan-pengorbanan ekstrimnya?
Ia hendak mengingatkan, tetapi tidak dengan cara meneror dan mengorbankan orang lain: Ia adalah korban yang dipilih oleh dirinya sendiri. Dan teatrikal seppuku -nya kemudian perlahan lindap dalam setiap kesadaran kita sebagai sebuah hasrat untuk menyamakan persepsi tentang Jepang yang kini telah tuntas, bahwa Jepang kini adalah sebuah negeri yang tengah operasi plastik, dimana setiap samurai telah digantikan dengan (Japanese) Rock , origami telah berubah menjadi narsisme di layar tiap Nokia dan Samsung, dan kamikaze adalah memakan burger sampai mati. Jepang kini sebuah lahan dimana Sony dan Toshiba adalah "senyawa dari nyawa kreator dan sendawa para insureksionis berkosmos."
Tragik: Mishima mati dalam sebuah protes, namun lucu, karena ia hendak menjawab semua ketidakpastian, mengakhiri masa depan yang entah kapan dan seperti apa, lewat sebuah nubuat yang berapi-api dan masuk akal. Dari sana saya melihat Mishima Yukio adalah seorang yang tengah gelisah, mungkin marah. Dan dalam kegelisahannya yang marah itu ia menghendaki sebuah eksit yang dramatis, dan cenderung menganggap dirinya adalah sosok yang mengaggumkan dan menggetarkan. Seperti salah satu kalimat dalam yang ditulis Chairil Anwar dalam sebuah sajaknya, Diponogoro: "Sekali berarti, sudah itu mati."
Bagi Mishima, Jepang adalah sebuah ideologi, sebuah cara pandang terhadap dunia dan warganya. Ideologi: sebuah kesadaran yang sedikit dipaksakan, dimana pertanyaan tentang ketidakmampuan seseorang menghadapi zaman tidak lagi perlu dipersoalkan, dimana harus selalu ada alasan untuk membunuh setiap satu nizam dan mengenyahkan nizam yang lain kerena tidak punya mutu, dimana selalu terdapat korban dalam setiap garis perjuangannya.
Ideologi dan Identitas: Endisme yang Masygul.
Pada mulanya ideologi adalah sebuah identifikasi, tetapi kerap kali ia berujung pada fundamentalisme, sesuatu yang buat seseorang jadi paranoid terhadap perbedaan dan merasa perlu untuk menjadi pembunuh.
* * *
Membaca kisah tentang apa yang dilakukan Mishima Yukio, saya teringat V for Vendetta . Dalam film yang kental dengan nuansa anti otoritarian arahan James McTiegue tersebut, ada sebuah fragmen dimana V berhasil menguasai sebuah stasiun televisi di London untuk kemudian menyangkan sebuah pesan berdurasi panjang, namun padat, pada seluruh warga London: "There's something wrong in this country."
V, sebagaimana Mishima adalah batu pijar yang melaluinya revolusi hendak dihadirkan. Mereka adalah semangat yang melata-lata dalam tubuh masyarakat yang, merujuk pada perkataan Regis Debray : "Pada umumnya telah mati gairah, telah menggantikan "nasion", untuk kemudian hilang dalam sebuah kelimun individu yang semuanya serupa dalam hasrat mereka untuk tak mirip satu sama lain. Kembali-ke-individu adalah tujuan luhur. Narsisme." Dan dalam semangat yang meletup tersebut, kerapkali hadir ada kehendak untuk menyudahi semua kenyataan, sebuah endisme dengan overstimasi yang masygul.
Ada yang "salah",berarti perlu ada yang "benar". Dan dalam setiap "benar", diperlukan seorang "korban" dan seorang "hero". Sang "hero" adalah seseorang yang padanya disematkan lencana kebenaran, yang kemudian datang membawa sederet aksi tentang keberanian, yang rela berkorban bahkan sampai mati. Dan pengorbanan, sebagaimana yang sering kita saksikan sedari era komik hitam-putih Tatang. S sampai film-film milyaran James Cameron, seringkali adalah muasal dimana tumbuhnya batas pemisah yang jelas antara mana yang "benar" dan mana yang perlu "salah". Dan tak ada kebenaran yang lebih ampuh selain yang membawa bara moralitas didalamnya.
Maka, silahkan heran kalau tahu mengapa dalam film seperti Watchmen , yang notabene bercerita seputar kisah para superhero terdapat tokoh The Comedian. Seorang superhero yang digambarkan memilih secara sadar untuk tidak bermoral, yang merasa lebih baik menembak mati seorang perempuan Vietnam yang telah hamil karena telah bersetubuh dengannya ketimbang bertanggung jawab dengan menikahinya. Bagi The Comedian dalam film tersebut, moralitas adalah Karl Marx yang sedang berjalan-jalan di Rockefeller Plaza dengan sneakers Nike, hanyalah sebuah lelucon.
Yang lucu dari kasus "hero", "benar" dan "salah" ini adalah pertanyaan tentang mengapa kesemuanya selalu dibalut oleh entitas yang bernama "ideologi"? Seakan ideologi adalah satu-satunya alasan mengapa "saya", yang notabene seorang Soehartois, berkenan membelah kepala saudara anda dengan parang hanya karena "saya" mendapati dia adalah seorang simpatisan PKI. Atau juga mengapa "anda", sebagai seorang Israel, dengan senang hati akan menembak mati seorang ibu dan anaknya hanya karena mereka adalah warga Palsetina.
Pertanyaan-pertanyaan seperti tadi kerapkali dijawab klise oleh seorang bebal yang telah terjerembab kedalam lubang hitam identitas, dimana ideologi adalah bola kristal dan dirinya adalah Nostradamus wanna be yang mampu menebak bagaimana dunia berakhir kelak, yang oleh karenanya menganggap nilai nyawa seorang manusia tak lebih murah dari harga kacang rebus di pinggir jalan. Bunuh yang tidak patuh, budaki yang menurut.
Ideologi sebagai sebuah identitas sejatinya adalah sesuatu yang tidak berangkat dari kondisi creatio ex nihilo. Bukan sekedar cara memandang dunia yang bersih tanpa ada satu pun pengaruh dari luar dirinya, Dalam ideologi, terselubung sebuah identitas, yang senantiasa selalu ada sebuah riwayat dimana pola adat, peta jasmani, dan proses biologis dilebur menjadi satu, dan biasa kita sebut dengan "sejarah". Mencoba menampik atau melupakannya secara total sama saja dengan melahirkan gergasi yang tak kalah menakutkan: ketika kita bersikap seakan-akan warisan "sejarah" adalah sesuatu yang menentukan diri kita.
Akan tetapi, identitas, dalam hal ini mengacu pada, misalnya, nilai-nilai kebangsaan, seperti yang dikatakan Renan, ternyata lahir dari kondisi dimana kita memang perlu untuk "lupa". Menjadi "bangsa Indonesia", misalkan, terjadi ketika saya "(me)lupa(kan)" bahwa saya seorang "Minang", anda "lupa" bahwa anda seorang "Madura", dan begitu seterusnya sampai periuk anasir rasial telah lenyap untuk kemudian menjadi sebuah "Indonesia". Kengerian terbit ketika identitas ke-Indonesia-an tadi ternyata adalah hal yang terkultuskan dan menjadi demikian sentral tanpa bisa ditawar-tawar.
Ideologi dan identitas adalah sebuah silang sengkarut identifikasi, cara pandang, yang bila disuntikkan dalam dosis berlebih, akan menjadikan manusia tak lebih dari sekedar rumusan. Marx menyebut bahwa manusia yang seperti itu adalah manusia yang penuh dengan "ide palsu dan topeng bagi kepentingan tertentu." Bisa saja, sebenarnya, apabila kita menerka bahwa ideologi adalah sesuatu yang disebut Nietzsche, sebuah Wahrheitstrzeb , "dorongan misterius kearah kebenaran".
Dorongan "kebenaran" macam itulah yang kemudian menjadikan dunia terlihat seakan penuh dengan majal disana-sini. Selalu dan harus mutlak ada pandangan etis tentang persoalan ketidakadilan manusia. Dan bagi para "ideolog" ini seakan ada sebuah deus ex machine, yang membuat mereka mampu melintasi zaman dan waktu, dengan kehendak, katakanlah, "etika tanggung jawab" , seperti kata Weber, yang menyertai kemanapun mereka pergi untuk membereskan majal-majal tadi.
Seperti tuan Francis Fukuyama yang dengan tesisnya seakan menertawakan para komunis, sekaligus mengklaim bahwa "sejarah telah berakhir", ketika Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Sovyet berakhir: Amerika Serikat menang dan dunia adalah sekumpulan budak kapitalisme. Atau seperti narsisisme Amerika Serikat pasca 11 September, bahwa dunia kini tengah dirundung gelap karena dimana-mana ada imaji tentang "terorisme", "Usamah Bin Laden", "Taliban", "Islam", seraya kemudian, karena paranoia yang membabi buta, mereka merasa perlu untuk mendeklarasikan diri sebagai "polisi dunia", dengan deretan skenario kebenaran berlabel "demokrasi".
Dalam masa "paska-sejarah" seperti itu tadi, Fukyama mengatakan, "tak akan ada seni dan filsafat, cuma perawatan terus menerus atas museum tambo manusia." Apa yang nekat, imajinatif, dan idealistis lambat laun akan digantikan oleh "perhitungan ekonomi." Dunia kemudian pada akhirnya adalah desa global yang dikepalai oleh satu bangsa bernama Amerika Serikat.
Melihat realitas yang digambarkan oleh Fukuyama dan Amerika Serikat tadi, saya kemudian teringat Milan Kundera dengan "imagologi"-nya. "Imagologi" : sebuah realitas yang dipaksakan, yang timbul dari pelbagai imaji-imaji. Dalam imaji "paska-sejarah"-nya Fukuyama dan Amerika Serikat dengan "demokrasi"-nya, kita seakan diberhentikan pada sebuah frontier, segaris batas dan masuk kedalam sebuah ruangan yang tak terdapat lagi kemungkinan yang mampu menampik ketidakmungkinan, Semua telah tuntas dalam satu dimensi realitas, dimana homogenisasi kelayakan adalah hal yang tak perlu lagi ditanyakan alasannya.
Barangkali, Fukuyama dan Amerika Serikat memang benar. Setelah Sovyet kolaps, Tembok Berlin runtuh, dan dunia kini tengah dalam mabuk kapitalisme, perlukah kini rakyat Amerika Serikat membaca ulang tulisan Water Lippmann pada November 1945 di kolom regulernya, Today & Tomorrow: "Tak ada kiat yang lebih sulit ketimbang menjalankan sebuah kekuasaan besar dengan tepat. Semua tergantung bagaimana kita secara kena mengukur kekuatan kita, dan bagaimana kita secara benar melihat kemungkinan-kemungkinan dalam keterbatasannya"? Adakah Fukuyama memahami humility dalam memandang hidup?
Praksiologi: Sebuah Pembenaran.
"Aku ingin begini, aku ingin begitu. Ingin ini ingin itu banyak sekali...." Petikan lagu dalam serial kartun Doraemon.
* * *
Adalah hal yang ironis-jika tidak lebih tepat dikatakan lucu-mengingat kisah masa kecil sang Führer, Adolf Hitler dan mengkorelasikannya setelah ia besar. Adolf kecil, sebagaimana banyak yang diceritakan dalam biografinya, adalah seorang murid yang rajin, tiap ulangan tak pernah mencontek, hampir tak pernah membolos dari sekolah, dan di rapornya selalu berderet nilai A. Satu-satunya yang paling sering dikeluhkan oleh para gurunya adalah si Adolf ini kurang total dalam menyimak pelajaran. Menurut mereka, dia terlalu berbakat menjadi pemimpi dan pelamun.
Hampir semua orang khawatir kalau kelak Adolf menjadi seorang penyair. Lambat laun, orang-orang yang khawatir tadi bisa bernafas lega karena bakat "kepenyairan" Adolf tak juga tampak. Terlebih, Adolf sering berkata pada banyak orang bahwa dia ingin menjadi seorang tentara. Untuk sementara, kekhawatiran orang-orang tadi dapat dikatakan telah sirna.
Akan tetapi, adalah salah bila mengira bahwa Adolf akan sembuh dari mimpi hanya karena tidur "seranjang"dengan bedil. Dan benar saja, di kemudian hari dunia terngaga melihat kenyataan antik yang selalu gagal mengajar dia: lebih baik dirundung penyair berpuisi jelek ketimbang pemimpi bersenapan. Lebih-lebih pemimpi yang mengira dirinya adalah titisan para dewa dan "menulis buku" untuk membuktikan teorinya.
Adolf Hitler lantas menggelar impian kolosal, melibatkan jutaan figuran sebagai korban, dan mengupah jutaan aktor lain yang, seperti dikatakan Bertrand Russel: "Barangkali beberapa diantaranya memang benar-benar manusia keji berdarah dingin, namun sebagian besar mungkin kurang-lebih hanya gila."
Lewat cerita Adolf Hitler, sejarah membuktikan bahwa impian Adolf bukan hanya kesesatan mental pribadi, melainkan impian banyak orang. Impian yang, ditengah kejumawaan bangsa-bangsa beradab, bangsa-bangsa "sekolahan", diselundupkan lewat pintu belakang untuk berpseta-pora di kegelapan, menunggu dengan sabar hingga iklim kemarahan tidak lagi mengenal negosiasi, yang kemudian memaklumkan hujan batu dan desing peluru, peledakan, pembumihangusan. Kematian...
Sampai titik ini, pada empat contoh kasus Mishima Yukio, Francis Fukyama, Amerika Serikat dan terakhir Adolf Hitler, kita masih membuntu pada pertanyaan tentang apa yang menyebabkan mereka merasa perlu untuk "bertanggung jawab" mengarahkan dunia kearah yang lebih "baik"?
Saya kemudian teringat Ludwig von Mises dengan teorinya yang bernama "praksiologi" . Mises bertolak dari buku Hans-Hermann Hoppe dalam memformulasikan kembali tilikan filsafat ihwal empirisme . Dalam bukunya tadi, Hoppe menjelaskan bagaimana empirisme menolak pengetahuan yang bersifat apriori. Kebenaran apriori hanya dianggap sebagai proposisi analitis, dan tidak dapat dianggap sebagai pengetahuan yang riil.
Hoppe menjelaskan, ketika pengalaman mungkin mengkonfirmasi hipotesis, hal tersebut tetap tidak membuktikan kebenaran; oleh karena hipotesis tidak terbukti sebagai benar, maka hipotesis tersebut berlaku untuk kasus atau keadaan yang jumlahnya tak terhingga, sehingga selalu meninggalkan ruang kemungkinan bagi pengalaman yang memfalsifikasikannya di masa depan.
Sebuah konfirmasi hanya akan membuktikan bahwa hipotesis yang dipakai sejauh ini belum terbukti salah. Masih terbuka peluang bagi pengalaman untuk menampiknya pada suatu saat. Sesungguhnya, ketika pengalaman membatalkan hipotesis empiris, hal tersebut hanya akan membuktikan kesalahan hipotesis tersebut. Ini tetap tidak membuktikan hubungan sejati antarperistiwa yang sedang dihipotetiskan.
Singkatnya, kita tidak dapat mengetahui secara pasti apakah satu hal merupakan penyebab terjadinya hal lain. Jika kita ingin menjelaskan suatu fenomena, hipotesis kita tentang penyebab-penyebab yang memungkinkan tidak terkendala dalam cara apapun oleh pertimbangan-pertimbangan apriori. Segala hal dapat memiliki pengaruh terhadap hal apa pun. Kita harus menemukan melalui pengalaman apakah hal tersebut memang benar demikian adanya ataukah sebaliknya. Akan tetapi, sekali lagi, pengalaman tidak akan pernah memberi kita jawaban yang pasti.
Lain Hoppe, lain pula Misses. Misses beranggapan bahwa praksiologi menyimpulkan bahwa paradoks tersebut tidak lain sebuah ketersesatan pikiran. Sebagaimana diformulasikannya, praksiologi memberi afirmasi terhadap kemampuan rasional manusia untuk memeroleh kepastian pengetahuan tentang aspek-aspek realitas. Menurut disiplin ini, pengetahuan dapat dipastikan.
Mises melandaskan disiplin tersebut pada sesuatu yang tak terceraikan dari kodrat manusia-pada sebuah konsep yang tidak terbantahkan logika, dan yang fenomenanya senantiasa hadir dan dapat diobservasi sehari-hari.
Landasan tersebut adalah aksioma tindakan. Dan praksiologi bermulai dari sini:
Tindakan, sebagaimana yang diperlihatkan oleh semua manusia, menurut Mises, adalah suatu perbuatan yang bertujuan (purposeful behavior) (Human Action). Setiap manusia yang bertindak mempersepsikan seperangkat tujuan tertentu sebagai sesuatu yang secara subyektif memiliki nilai, dan kemudian memilih cara (means) yang dianggapnya akan membawanya kepada pencapaian tujuan tersebut. Pada akhirnya tindakan diarahkan atau ditujukan pada pemenuhan kepuasan atau kebahagiaan, bagi sang individu pelakunya.
Tiga kondisi berikut harus terpenuhi sebelum tindakan terjadi:
Pertama, seorang individu yang berhasrat bertindak perlu terpapar pada semacam ketidakpuasan. Orang yang sepenuhnya merasa puas tidak akan termotivasi untuk bertindak. Orang bertindak untuk mengubah keadaan (state of affair) yang kurang memuaskan dengan keadaan yang lebih memuaskan.
Kedua, di benak pelaku tindakan tergagas bayangan akan kondisi atau situasi yang lebih baik tersebut-apapun itu, dan bahwa ia meyakini bahwa keadaan baru dalam gagasannya dapat diwujudkan dan ia memiliki kemampuan untuk mewujudkannya (elemen ini menunjukkan peran pengetahuan).
Ketiga, calon pelaku tindakan hanya akan melakukan tindakan tersebut jika ia menganggap upaya perwujudannya akan memberinya nilai yang lebih besar, melampaui disutilitas sumber daya yang dimilikinya untuk mewujudkan hal tersebut.
Patut dicatat, aksioma tindakan tidak mengasumsikan bahwa individu bebas dari kesalahan dalam penilaian. Dia tidak mengasumsikan ketersediaan segala pengetahuan yang diperlukan bagi tujuan yang ditentukan, apalagi bahwa sumber ketersediaannya sepenuhnya berada dalam penguasaannya. Dari perspektif pelaku tindakan, semua tindakan yang dilakukannya selalu "rasional" dalam arti bahwa tindakan tersebut selalu memiliki alasan-alasan pemilihannya.
Sang pelaku tindakan dapat keliru dalam menginterpretasikan fakta-fakta dasar atau dalam menilai kausalitas yang mungkin tidak ada. Kelak, di saat retrospeksi, ia mungkin menyadari kesalahan tersebut dan akan menyesuaikannya untuk tindakan di masa depan. Yang pasti, ia senantiasa memiliki alasan di balik tindakan yang dilakukannya, sekalipun hal tersebut terbukti kemudian sebagai kekeliruan.
Aksioma tindakan meliputi semua sifat means dan ends apapun yang dapat digagas manusia. Tujuan tindakan dapat berupa sesuatu yang mental, fisikal ataupun keduanya. Tujuan seseorang dapat bersifat yang moral ataupun imoral-dan ini bukan soal bagi praksiologi.
Dalam praksiologi, semua tujuan dan semua cara pencapaian, baik terhadap isu-isu material maupun yang ideal, yang sublim maupun yang banal, yang agung maupun yang tidak, terletak pada sebaris tatanan nilai, yang tidak menganggap tinggi satu hal dari yang lain, melainkan tergantung pada keputusan yang ia pilih pada suatu kurun waktu dan dengan demikian menyisihkan pilihan-pilihan yang lain.
Implikasi aksioma tindakan adalah bahwa seorang pelaku tindakan mengatur keseluruhan ends yang tersedia baginya pada "hirarki" ordinal yang subyektif. Di satu sisi, sang pelaku tindakan mengejar tujuan yang ia anggap paling bernilai tinggi, paling berharga pada suatu titik waktu.
Secara subyektif, ia mengetahui hirarki nilainya sendiri dan mengapa ia memilih satu tujuan ketimbang yang lain. Di sisi lain, bagi seorang pengamat misalnya, satu-satunya cara untuk mengetahui bahwa seorang pelaku menilai A lebih tinggi dari B pada suatu waktu jika sang pelaku tersebut benar-benar memilih A ketimbang B. Dengan kata lain, hanya melalui demonstrated atau revealed preference.
Apa yang dijelaskan oleh Lewis tadi dapat kita ringkaskan begini: bahkan setiap upaya percobaan untuk menyangkal keberadaan tindakan sudah merupakan tindakan itu sendiri. Selain itu, tindakan manusia adalah jembatan penghubung terhadap apa yang terjadi secara mental di dalam benak manusia, dengan realitas eksternal.
Hitler beserta tiga contoh kasusnya sebelumnya, barangkali, adalah titisan dari praksiologi yang telah tuntas, dimana means dan ends adalah sebuah pemaknaan tunggal tanpa perlu jawaban lagi dari orang lain, dimana retrospeksi adalah omong kosong murahan yang tidak penting.
Ironi, Ideologi: Chaos!
"Sungguh malang sebuah negeri yang membutuhkan pahlawan."
* * *
Saat menyusun akhir tulisan ini, saya membaca ulang jurnal New Left Review nomor Mei-Juni 2001 yang memuat hasil wawancara antara Subcomandante Marcos dengan Gabriel Marcia Marquez. Dalam jurnal tersebut, ketika Marquez memberondong Marcos dengan pelbagai pertanyaan tentang EZLN dan filosofi perjuangannya, Marcos sempat berujar: "Apa yang seharusnya kita ceritakan adalah paradoks yang sesungguhnya adalah kita." Jawaban yang terasa cukup absurd, mengingat EZLN adalah kelompok separatis anti-otoritarian yang dikenal dunia melalui pemberontakannya terhadap pemerintah Mexico.
Kita bisa saja menyebut Marcos dan EZLN-nya, seperti dalam bahasa Derrida, sebuah gerakan yang Dieu déjà se contredit, "belum-belum telah mengkontradiksi diri" dari segala kemungkinan yang belum terwujud. Tetapi, bagi Marcos, dalam hal ini EZLN, kemungkinan terburuk nantinya dalam perjuangan mereka adalah apabila mereka telah berhasil menang dan duduk ditampuk kekuasaan. Pada jauh-jauh hari, problem politik memang telah diberikan sebuah batas pemisah yang jelas dengan problem pengambilalihan kekuasaan.
Sukses bagi mereka adalah sebuah fiasco, sebuah jalan bagi hegemoni lain yang kemungkinan akan timbul.
Ada dua jenis hegemoni bagi Marcos, yang menyebabkan mengapa ia menganggap klaim keberhasilan para gerilayawan sayap kiri sebelumnya, katakanlah seperti Fidel Castro di Kuba, tak lebih dari kekalahan "yang tersembunyi dibalik topeng keberhasilan".
Jenis hegemoni pertama adalah kekuasaan yang menindas, yang mengatur segala hal atas nama masyarakat. Kedua, kekuasaan yang melawan si penindas dan kemudian ketika menang juga mengatur segala hal atas nama masyarakat. Maka peran masyarakat tetap terabaikan, involusi tetap menjadi derap langkah kaki mereka.
Tampaknya ide besar EZLN tidak hanya lahir dari empati mereka yang kadung mangkak karena melihat kondisi masyarakat Chiapas yang dirasa sangat paradoks: mereka adalah negara bagian terkaya sekaligus termiskin di Meksiko.
Tetapi lebih pada kesadaran mereka tentang sifat perjuangan yang penuh akan ironi. Akan hal ini, Marcos menjelaskan, masih dalam wawancaranya dengan Marquez di New Left Review tadi, ia berkata: "Percaya bahwa kita dapat berbicara atas nama mereka yang diluar jangkauan kita adalah masturbasi politik." Dan inilah yang dikatakannya pada tahun 1995: "Kami berharap rakyat akan memahami bahwa cita-cita yang menggerakkan kami adil, dan bahwa jalan yang kami pilih juga adil, (tapi ia) bukan satu-satunya jalan. Bukan pula jalan yang terbaik dari semuanya."
Apa yang dilakukan Marcos dan EZLN memang tampak seperti igauan bagi gerakan-gerakan "kiri" revolusioner lainnya dalam tradisi Marxis-Leninis. Ketika semua gerakan revolusioner lainnya dengan penuh semangat progresif mengangkat senjata untuk merebut tampuk kekuasaan, EZLN malah memilih untuk menampiknya, memilih untuk tetap berada dalam posisi sebagai "pengganggu kekuasaan", memilih untuk mengontak pusat-pusat HAM, LSM-LSM, dan Palang Merah Internasional agar turut mengontrol perang mereka dan mengantisipasi pelanggaran HAM yang mungkin terjadi akibat tindakan mereka sendiri. Memilih untuk melawan otoritas negara dan pemerintah, tetapi tidak dengan popor senapan, tetapi malah sebaliknya, seraya kemudian beralih pada "senapan" lain yang dirasa lebih "mematikan": kata-kata...
Yang menarik kemudian adalah pertanyaan mengapa EZLN dapat berbeda dengan Hitler dan NAZI-nya, Amerika Serikat dan demokrasinya, Mishima dengan semangat patriotisme Jepangnya, dan Fukyama dengan "paska-sejarahnya"-nya, padahal kesemuanya berangkat dari sebuah asumsi bahwa "ada yang salah dengan dunia yang ada sekarang" dan "kita" wajib "membenarkannya", berangkat dari sebuah, kalau Marcos dan EZLN setuju terhadap pelabelan tindakan, ideologi yang diamini sebagai antiserum satu-satunya?
Mungkin jawabannya ada pada setiap celah-celah yang menyela di tengah kedapnya keyakinan dan angkuhnya agenda yang besar dalam perjuangan. Apakah itu ironi seperti yang dimaksudkan Marcos? Apakah sebuah itikad pemahaman terhadap sifat perjuangan yang memang paradoks?
Ditengah kebingungan dalam menjawab pertanyaan diatas seraya memungkasi tulisan ini, seketika saya jadi teringat percakapan Joker dengan Two Face dalam sebuah fragmen dalam sekuel film Batman terbaru: The Dark Night. Joker berkata begini pada Two Face:
"Y ou know what the meaning of chaos? It means fair..."
Tag: Ideologila
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
BJ: Biasa
-
dewi alfath: Responsif
-
sisca civitas: Bagus
-
nenden pabelanis: Responsif
-
Die Key belajar nulis: Responsif
-
Wahyu Eko P: Perlu
Komentar:
(mau berguru saya)
(Kopas abis....) bak Sinto Gendeng lgi transfer ilmu Katuragan ke Wiro Sableng wae...
(Mantap)
Silahkan login untuk memberikan pendapat