(Pacarku) Hakim 6

Kamis, 22 Jul '10 20:22

 

Aku tak mengerti, sayang, apabila cinta secara eksplisit dikategorikan sebagai petunjuk untuk mengoreksi seberapa sering salah dan benar dilakukan, apakah ia masih dapat disebut dan dirasai sebagai cinta? Atau ia-dalam bentuknya yang paling etis sekalipun-telah berubah menjadi sebuah palu sang hakim? 


***

Syahdan, ada sebuah kisah tentang Yesus, yang saat itu sedang memberikan khotbah kebajikan tentang Kristus kepada para rombongan Yahudi. Seketika ada gerombolan Yahudi lain, yang masih dirundung skeptisisme, antara percaya dan tidak (ketidakpercayaan mereka lebih besar tentunya), apakah Yesus memang Sang Anak Allah, datang dengan membawa seorang perempuan penzina. Saat itu mereka bertekad kuat untuk membuktikan bahwa ketidakpercayaan mereka adalah benar, bahwa Yesus ternyata hanya 'nabi' kesiangan.

Mereka kemudian menghadapkan Yesus dengan dengan si perempuan penzina tadi. Saat Yesus dan perempuan penzina sudah bertatap muka dengan jarak hanya sepelemparan batu, para Yahudi dengan takzim menyaksikan semabri berharap ada sesuatu yang lalim hadir dalam tindakan Sang Anak Allah: Yesus menghukum seberat-beratnya (merajam) si pelacur , agar kemudian mereka percaya bahwa Yesus tak lebih dari manusia biasa yang ternyata jauh dari kebijaksanaan.

Sementara si perempuan penzina tadi tetap tertunduk. Kepalanya seperti diikat batu yang membuatnya tak mampu menengadah. Jantungnya berdebur kencang, berburu dengan hela nafasnya yang aus. Tetes demi tetes keringatnya menderas, membasahi seluruh keningnya. Ia terdiam, pasrah dalam kengerian. Dari ujung lidahnya yang kelu terucap kata-kata, "maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku", dengan sangat pelan. Benar-benar pelan.

Barangkali, pada saat itu, pilihan si perempuan pezina antara hidup dan mati, meminta maaf dan berharap maaf, adalah satu bentuk gigantik ketakutan yang getir, yang membuatnya lebih memilih bagaimana pasrah dengan tenang. Mati dengan lapang. Tinimbang berharap datangnya sebuah mukjizat. Dalam beberapa poin, nasibnya segaris dengan Seneca, guru Nero, yang dihadapi pada piihan yang culas: lebih baik mengikuti kehendak Nero yang memaksanya untuk bunuh diri apa membunuh keluarganya sendiri yang sedang disandera. 

Saya terus mengkhidmati sepotong demi sepotong kisah Yesus tersebut, sampai kemudian pada satu waktu saya terkesiap dalam senyum yang terasa aneh, ketika Yesus sejurus kemudian dengan dingin berkata:

"Siapapun diantara kalian yang tak pernah berdosa silahkan melempar duluan!"

Suasana menjadi senyap. Para Yahudi dan si pelacur takzim dalam tanda tanya yang persis: mengapa Yesus tak memberikan hukuman pada sang pendosa? Suasana tetap senyap. Semakin senyap. Lalu perlahan kaki demi kaki para Yahudi dan jamaat yang lain kemudian merangkak pergi, meninggalkan Yesus dan si perempuan penzina. 

Ketika mereka benar-benar tinggal berdua, Yesus kemudian menghampiri si perempuan penzina kembali dengan berkata:

"Pergilah dan jangan mengulangi perbuatan dosa lagi!"


***

Saya membayangkan, bahwa pada momen-momen seperti itu, barangkali sekolah kehakiman sebenarnya tidak perlu didirikan. Seringkali manusia mampu berlaku bak Sang Adil dan Benar ketika menghadapi manusia yang bersalah. Memojokkan setiap pendusta, setiap pendosa agar kemudian terbentuk batas demarkasi yang tegas dan mahal antara mana manusia yang baik dan mana manusia yang bangsat. 

Dalam posisi manusia yang salah, kebenaran hanyalah sebuah lelucon, bahan tertawaan bagi setiap 'hakim-hakim' tanpa jubah dan ruang pengadilan itu. Bagaimana kemudian sumpah serapah, caci maki, kutukan demi kutukan dilancarkan dengan thulus, adalah sebuah target yang mesti tuntas. Kalau perlu benamkan nyawa si salah. Hinakan pula setiap manusia yang dengannya sedarah.

Setiap memikirkan hal tersebut, seringkali saya mempertanyakan sebuah pertanyaan purba bernada filosofis: apakah agama, yang diklaim sebagai titah suci dari Sang Maha Suci, memang ditakdirkan gagal dalam mengajari manusia untuk berbuat adil? Apakah keadilan memang hanya sebuah mitologi dari sebuah intelligo yang tak pernah tuntas? 

Dan dalam menjawabnya saya menyandingkan, walau saya masih yakin bahwa kelak akan ada jawaban yang lebih tepat, kata-kata Marx dan Nietszche: "agama adalah candu" dan "keadilan hanyalah perpanjangan tangan dari dendam." Bahwa agama tak lebih daripada kewajiban bersyairat secara ekstrinsik, tanpa peduli bahwa iman adalah proses nalar yang memerlukan nihil logika. Bahwa keadilan bukanlah sebuah prinsip yang mutlak 50-50, bukanlah A harus dibalas dengan A.

Pada momen-momen 'peradilan' seperti itu pula, saya seringkali tertawa sinis dan menganggap bahwa kebenaran, dan (mungkin) juga keadilan, adalah hal, yang merujuk pada perkataan Mecken, "sebuah penyelesaian yang jitu, rapi, sederhana-dan selalu keliru." Siapa pun yang terpilih menjadi pengadil, maka, syahadat Protagoras tentang 'kebenaran dengan K besar' adalah miliknya. 

Yang diadili? Hanyalah anjing rabies. Bunuh saja.

Hal-hal seperti itu menjadi bahan renungan saya dalam beberapa hari belakangan ini. Dan ternyata memang benar adanya, bahwa manusia yang secara momentum berada dalam sebuah kebenaran selalu mempunyai hasrat yang besar untuk mengadili setiap kesalahan. Selalu berusaha membuat sebuah tolak ukur dari banyak perspektif, mulai dari teks kitab suci sampai pada kebenaran universal, seakan dari sekian perspektif itu terdapat sebuah bagan statistik yang dapat menimbang dan mengukur persentase tiap kesalahan dan juga probabilitas secara kuantitatif tentang kesalahan yang terbit.

Maling ayam pantas mati karena meresahkan warga kampung. Alasan ini hadir, karena pertama, kampung mereka akan turun derajatnya karena tercemar namanya oleh si maling dan agar nama kampung kembali bersih, matikan si maling, biarkan keluarganya bergidik dan hidup dalam ketercekaman. Biar tak ada lagi keturunan maling dari keluarga (maling) yang bersangkutan. 

Kedua, ayam yang dicuri adalah sumber penghasilan satu-satunya si korban. Kalau ayamnya dicuri, itu artinya dia dan keluarganya menjadi miskin. Miskin berarti lapar, bodoh, penghinaan, tidak bahagia. Karena itu, sebelum ada maling-maling lagi, lebih baik bunuh tiap maling ayam yang ketahuan. Ketiga, agar setiap orang yang berpotensi atau sedang mencari potensi untuk menjadi maling, mengugurkan niatnya setelah melihat kenyataan bahwa menjadi maling ayam adalah sama dengan bunuh diri. 

Pencopet layak dibakar karena merugikan individu dan menistakan siapa saja mereka yang telah membanting tulang mencari nafkah, oleh karena itu, kremasi jalanan rasanya lebih tepat tinimbang memberinya pengampunan, terlebih memikirkan lebih dalam dan jujur, bahwa tidak ada manusia yang dengan thulus dan sadar ingin menjadi seorang pencopet.

Anggodo yang Tioghua (non pribumi) pantas digantung karena selain dia mempunyai wajah yang patut untuk diludahi, ia juga telah menjalankan skenario busuk yang telah mencederai korps kesayangan negeri dengan oplah reality show terbesar sejagat raya ini: KPK. Tanpa kita pernah mau memberikan sedikit saja celah untuk menyadari bahwa sebagai adik, Anggodo sungguhlah sedang menjalankan misi yang mulia. Bahwa ada banyak sekali pengusaha, pejabat atau kaum cendikia dan pemuka agama, entah Cina keparat atau entah pribumi gadungan, yang tiap harinya terus menerus melanggengkan kelaliman. 

Dan dari ketiga contoh diatas, saya percaya betul bahwa kebenaran tak lebih dari momen fin-de-siecle yang menyebabkan manusia berebut dan mendadak berlagak menjadi suci dengan tolol dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Maka jangan persoalkan lagi bila dalam momen seperti itu kebenaran kerapkali hadir dalam wajah yang tiran, banyak majal di setiap sisi.

Para 'hakim-hakim' itu dan kebenaran lebih layak dikatakan sebagai sebuah ketakutan yang terlanjur. Dan benar kiranya apa yang dikatakan Aung San Suu Kyi di Myanmar, bahwa ketika "rasa takut telah menjadi kebiasaan", maka yang paling buruk adalah kemudian bukan lagi hilangnya kebebasan, tetapi juga sebuah daya sanggah terhadap sikap sewenang-wenang yang berlangsung dari pelbagai ukuran. 

Hasilnya: sebuah krisis, ketika setiap orang kemudian menjadi buta dan idiot, penakut dan pengecut secara sadar karena tidak lagi berani membedakan, mungkin juga di dalam hati sendiri, mana yang pantas dan yang tidak pantas.

Impian saya sederhana: bila kebenaran didatangkan dalam setiap kesalahan, saya berharap ia datang seperti saat kita sedang menghela nafas dalam dada yang lapang. Ketika pergantian akan menyingsing, seperti matahari. Saya berharap ia datang seperti kita sedang bermula membaca huruf alif. Dan meniadakan kesalahan bukan hanya sekedar seperti mensobek lembaran kalender yang telah lewat. Ia, dalam setiap sebuah kesungguhan, berarti memperlakukan dengan jujur bahwa dirinya tak lebih dari manusia yang juga berpretensi menjadi sampah.

Saya percaya, setiap hakim punya keyakinan yang kuat bahwa tiap manusia harus dihargai dan menghargai, menyadari dan disadari, bahwa salah dan benar adalah bukan lagi perkara mengadili dan menghukum, tetapi: memaafkan, memberi penyadaran, juga pada diri sendiri, bahwa sang hakim pun mampu berbuat salah. 

Saya percaya, setiap hakim pasti mempunyai impian yang sama: keadilan yang jujur.

Tidak lebih.


***

Aku tak mengerti, sayang, apabila cinta secara eksplisit dikategorikan sebagai petunjuk untuk mengoreksi seberapa sering salah dan benar dilakukan, apakah ia masih dapat disebut dan dirasai sebagai cinta? Atau ia-dalam bentuknya yang paling etis sekalipun-telah berubah menjadi sebuah palu sang hakim?

Sayangku, ya, aku memang salah, maka hakimilah aku, agar kemudian kau dapat berlatih (meng)adil(i) dirimu sejak dari pikiran!

 

 


Tag: Cinta

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

BJ 0 0
@ saya bertambah yakin, kalau anda suka membaca, jok! Nampak dari "ayam yang dicuri adalah sumber penghasilan satu-satunya si korban,"

Saya suka...
Joker 0 0
suka mulu. bayar. : D
BJ 0 0
@ sekalian RSS-nya, sama ATOM jika ada. Pun, kalo ada biar ndak susah2 Copas abis...eman waktunya terbuang :')
Joker 0 0
ngomong apa euy?
arman dhani bustomi 0 0
itu mah kaya esai GM si rajam. cuman versi panjang. katanya benci ama tuhan gm?

hahahahahahahahahahahaha
BJ 0 0
Omong-omong kosong, dab : D Why so serious?
Ho ho ho ho ho ho...

Silahkan login untuk memberikan pendapat