Pacarku dan Sebuah Petuah Nietzsche 6
Kamis, 22 Jul '10 20:19
Aku teringat apa yang dulu pernah Nietzsche katakan, bahwa kebenaran hanyalah sebuah kekeliruan. Denganmu, aku memelesetkannya sedikit: Kebenaran hanyalah sebuah keyakinan yang keliru.
* * *
Barangkali, usai sudah semuanya. Biar kutenggak mabukku sendiri. Biar kuhabiskan ceruk ini tak bertepi. Karena kau, juga aku, memang beriman pada buntu. Dan malam itu, ketika getir dan tawa beradu, angkara dan bahagia mereguk satu, kita sepakat dalam entah, kita setuju pada tak berarah.
Dalam hati, hanya dalam hati, aku coba untuk yakin bahwa memang inilah jawabannya: ketika dimana waktu akhirnya menyadarkan kita bahwa cinta hanyalah sebuah rangkuman ekstase yang terlalu pahit untuk terus ditenggak. Walaupun nanti pada akhirnya kita salah dalam menerjemahkan ini semua, maka itu tak mengapa, karena aku selalu percaya (dalam hal ini lagi-lagi aku mengutip Nietzsche) bahwa manusia haruslah berkata "Ya" pada setiap tantangan yang diberikan dunia.
Bukan untuk menjadi seorang Uberman atau Overman yang Zarathustra itu inginkan, tetapi sekedar mencoba untuk bersikap wajar dalam menelaah seberapa jauh kemungkinan kita dapat menghadapi rintangan. Terutama yang datang dalam diri sendiri. Yang datang dari kesalahan sendiri. Karena sekali lagi, sayang, sekali lagi kau ingatlah ini, bahwa dunia dalam posisinya sebagai Geist, bukanlah berpretensi untuk jadi surga. Atau neraka, barangkali.
Untuk kesekian kalinya, sayang, kita gagal menerbangkan cita-cita kita lebih tinggi. Kita gagal menanam bunga untuk kita petik dipinggir danau itu. Tetapi, tanpa perlu kutulis dan atau mungkin keteriakan dengan lantang: kita tak pernah gagal dalam mencintai. Seberapa besar atau seberapa tinggi tolak ukurnya, aku selalu percaya bahwa romantisme kita dalam tataran yang paling negatif sekalipun, selalu menyisakan cinta yang kekal, terlanjur kekal.
Maka, kini, ketika tak lagi ada kemungkinan kita menyatu, tak ada lagi pelukmu di stasiun itu, tak ada lagi tunggumu dibalik jeruji jendela itu, tak ada lagi rayumu pada pulangku, tak ada lagi lidahmu di gigiku, tak ada lagi punggungmu di balik pintu rumah itu, tak ada lagi setusuk sate untuk mulutku, tak ada lagi senja bagi suratku, tak ada lagi purnama di monumen itu, tak ada lagi genggam tanganmu di dalam tanganku, tak ada lagi rindumu sebagai puncak kuliahku, aku pamit. Segera pamit.
Untuk dada yang kian kosong ini, untuk mabuk yang tiada sembuh ini, lanjutkanlah mimpi yang terlanjur melekat di matamu. Kita, sayang, ya, hanya kita, akhirnya sadar, bahwa amor fati ini telah kita langkahi terlalu jauh. Amat jauh. Hingga akhirnya kita terantup cuaca yang kian tebal di ombak yang tenang itu.
Dan pada akhirnya, mari kita sematkan lagi: Selalu ada harapan dalam setiap sakit yang menahun, dalam mati yang hampir memeri. Bagiku, cukup bagiku, kau sendirilah sakit yang menahun sekaligus harapan yang tak pernah padam itu.
* * *
Aku teringat apa yang dulu pernah Nietzsche katakan, bahwa kebenaran hanyalah sebuah kekeliruan. Denganmu, aku memelesetkannya sedikit: Kebenaran hanyalah sebuah keyakinan yang keliru. Tetapi ada satu yang tak kupelesetkan dari kata-katanya:
Keadilan hanyalah perpanjangan tangan dari dendam.
Tag: Cinta
Terkait:
-
Sejenak Ingin Mengasihimu
Minggu, 22 Mei '11 15:32 -
REMAJA, PERASAAN DAN CINTA.
Kamis, 10 Feb '11 14:06 -
(Pacarku) Hakim
Kamis, 22 Jul '10 20:22
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
BJ: Biasa
-
Die Key belajar nulis: Bagus
-
nenden pabelanis: Perlu
Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat