Menuju Jember!* 6

Kamis, 22 Jul '10 20:34

(Sebuah catatan perjalanan ketika saya dan seekor kawan bernama Davi ke Jember beberapa hari lalu. Niatnya buat traveling, eh ternyata disana sedang ada kongres PPMI, bodoh kali kami. Eh ga dink, dia aja yang bodoh. Artikel ini ditulis dengan pola penulisan random. Dalam catatan ini saya memang telah memulai untuk membiasakan menulis dengan cara yang tidak runtut untuk memberikan warna baru dalam etika jurnalistik).

Panasnya bukan main keparatnya siang itu. Lembab, penuh peluh, seakan langit hanyalah hamparan matahari yang buas memayungi gurun. Sancaka pagi yang kami naiki dari Gubeng tadi tidak terlalu penuh, juga tidak terlalu ramai. Saya duduk bersebalahan dengan perempuan, dan Davi dengan pria. Tadinya saya yang duduk di sebelah pria itu, tetapi, Davi memaksa saya untuk pindah tepat sambil mengedpikan mata kearah si pria. Ya sudahlah,apa boleh buat. 

Bosan sekali sepanjang perjalanan. Bingung mau apa. Seketika, saya iseng membuat perbandingan kecil-kecilan antara kereta Sancaka ini dengan Fajar atau Senja Utama yang biasa saya naiki ke Jakarta. Di Sancaka ini saya merasa jauh lebih bersih ketimbang Fajar atau Senja Utama. Bangku-bangkunya terlapisi dengan sarung bergambar salah satu merk rokok. Di beberapa gerbong sarung-sarungnya masih terlihat baru, bersih. Begitu pula dengan lantai dan toiletnya. 

Khusus toilet, saya menghitung (saya sengaja memasukinya satu per satu) ada sekitar delapan toliet yang begitu bersih dan wangi. Air di kran mengalir lancar, begitu juga dengan air untuk penyiraman wc-nya, satu hal yang selama ini jarang saya temui di Fajar atau Senja Utama, dimana biasanya untuk menyiran wc saya perlu mengambil air dari kran wastafel terlebih dahulu, karena kran air pembuangan wc-nya tidak berfungsi.

Perbandingan ini sengaja saya lakukan tidak dengan tujuan apa-apa selain melepas penat semata. Pernah suatu ketika saya menaiki Senja Utama dari Jakarta menuju Jogja dengan kondisi yang nyaris kosong di empat gerbongnya. Jangankan tidur selonjoran, mau gelindingan juga bisa dengan kondisi kereta sekosong itu. Sekitar jam satu saya iseng mengecek jendela tiap bangku. Membuka dan menutupnya satu per satu. Macam mau maling saja rasanya. Dan dari kesekian jendela yang saya buka-tutup-i tersebut, hampir kesemuanya sulit untuk dibuka. Hal yang kontras dengan Sancaka yang saya naiki dari Gubeng ini. 

Saya dan Davi berpisah di Solo. Davi memutuskan turun disana karena hendak mengantarkan sebuah titipan dari (calon) kakak iparnya, selain, tentu saja ingin melepas rindu dengan pasangan. (Pada momen dimana si monyet yang satu ini hendak turun dengan senyum sumringah, saya merasa iri sekali. Betul-betul iri. Saya membayangkan: badan yang telah ringkih karena kurang tidur dan kulit yang lengket karena keringat, seketika berubah menjadi adem, sejuk, saat sang pacar telah menunggu di parkiran dengan wajah yang berseri dan, katakanlah, sekantung es extra joss, lalu mencium punggung tangan seraya berkata: "Tadi udah sempat sarapan belum? Makan dulu ya sekarang." 

Satu hal sederhana yang membuat naluri pejuang syuhada ala Hammas saya mendidih, hendak membom mereka. Monyet Davi, tanpa disadarinya pada momen tersebut, harus saya akui telah membuat sebuah dramaturgi yang mampu membuat perasaan saya mendadak jadi sentimentil dan dada berdetak dengan tidak wajar, karena rindu yang terlalu mangkak, yang selama ini selalu saya eram). 

Saya sampai Tugu sekitar jam setengah satu siang. Tentu saja itu jadwal ngaret jahanam dari jam duabelas yang tertera di karcis. 

Malam keberangkatan kami ke Jember, saya sempat mengobrol sebentar dengan dua orang bapak-bapak. Sebut saja bapak X dan bapak Y. Bapak Y ini seorang pemeriksa karcis yang memang kenal dengan bapak X. Mereka berbicara tentang kondisi per-kereta-api-an Indonesia. Seperti banyak orang Indonesia lainnya yang kalau melihat kekacauan langsung berlagak seperti superhero, mereka berdua begitu fasih mengeluarkan solusi demi solusi untuk membereskan kinerja per-kereta-api-an kita. Saya merasa salut saat mendengarkan keterampilan mereka berbicara, seperti para akitvis-selebritis yang sedang berbicara di LSM-LSM.

Nah, khusus bapak X tadi ada cerita konyol tentangnya. Sebelumnya, coba luangkan waktu anda barang semenit dua untuk membayangkan apa yang akan anda lakukan ketika dalam kondisi letih, bosan dan muak dalam kereta, mendadak ada seorang bapak-bapak yang tanpa basa basi pindah ke bangku anda dan langsung bertanya anda dengan lugunya (atau bangsatnya): "Mas, agamanya apa?" 

Sudah dapat jawabannya? Kalau sudah, ucapkan Hamdalah, karena anda hanya mengalaminya lewat bayangan saja, tidak seperti saya. Ya, saya menjadi korban dari ketidakjelasan bapak X tersebut. Dengan kondisi badan yang sudah remuk (ketika anda menaiki kereta dalam waktu yang sangat lama, anda akan mengalami distorsi fisik yang janggal. Saya menyebut janggal karena keletihan yang anda alami di kereta bukan letih yang, seperti katakanlah, sehabis berolahraga atau onani, melainkan letih karena anda seakan dipaksa untuk tidak melakukan kegiatan apa-apa, semacam itulah) saya, pria kekar yang rajin ibadah ini, menjawab pertanyaan bapak tadi: "Islam, pak." 

(Sebelumnya saya sempat termangu beberapa detik. Bukan karena memikirkan apa agama saya, karena saya yakin betul kalau saya ini merupakan penganut pagan syiah evangelist rastafarian syai baba foundation 666, tetapi karena mencoba memberikan penjelasan pada diri sendiri mengapa ada mahluk seperti bapak ini). Betul-betul konyol rasanya. Sangat konyol. 

Bapak ini mengaku berasal dari Banyuwangi. Ia menaiki Sri Tanjung ini sehabis mengunjungi anaknya di Surabaya yang kuliah di Unair. Perawakannya tinggi. Hidungnya padat dan besar, dengan kulit berwarna coklat gelap. Logatnya campuran antara Madura dan Jawa Timur(an). Pakaiannya sederhana, dengan memakai kaos berkerah putih seperti kaos-kaos pekerja pabrik. Ia pindah ke bangku saya dan Davi dari bangku yang berada dibelakang bangku kami. Betul-betul tak ada basa basinya. 

Saya sendiri sebetulnya tergolong orang yang cenderung menolak kebiasaan berbasa basi, tetapi, hey, ini Jawa, anda berasal dari Banyuwangi, anda pindah ke bangku orang lain yang tidak anda kenal, dan anda langsung meninju saya dengan pertanyaan tentang agama? Ada yang lebih tragi-komikal daripada ini??? Langsung setelah saya jawab saya ini Islam, ia kembali langsung nyerocos tentang zina dan memberikan vonis-vonis kepada para penzina yang di Bali. Tak sampai lima menit ia berfatwa ngak-ngik-ngok macam itu, saya langsung menyalakan rokok dan pamit ke belakang, meninggalkan Davi dan seorang perempuan yang juga sebangku dengan kami. 

Perempuan yang saya tinggalkan bersama Davi itu mahasiswi 06' FKG UNAIR. Saya lupa namanya siapa. Sedari naik dari Gubeng perempuan ini diam saja (lha iyalah, masa mau main hulahoop). Dengan membawa laptop yang dibungkus tas gemblok, dan mengenakan cardigans merah, kulit putihnya terlihat makin menyala. Wajahnya tak terlalu cantik, cenderung dingin. 

Nah, si perempuan inilah yang kena imbas dari absurditas si bapak tadi. Saya dan Davi ingat betul apa yang dibilang bapak tadi itu ke perempuan ini: "Mbaknya cantik, sebenarnya, tetapi sayang ga pake jilbab." Aih... Segera saja saya dan Davi mengokang AK16 dan M47 untuk menembak zakar si bapak. 

Sebelumnya ada yang lebih ironis. Saat itu masih sore. Tempat duduk kami didatangi oleh tiga orang. Dua laki-laki dan satu perempuan. Dua diantaranya adalah keluarga (kakak-adik) sedangkan pria yang satunya ini mengaku sebagai, sebut saja, orang dekat dengan pria yang tadi. Awalnya obrolan berlangsung segar, lucu. Kami berbicara bermacam topik, dari kampus, lumpur Lapindo, stasiun, dan pekerjaan. Ke-absurd-an dimulai ketika si pria ini (saya nanti menyebutnya Melati untuk memperjelas) berbicara, lebih tepatnya curcol (curcol ini saya takik dari kosa kata dalam bahasa Gabon, "zurzol", yang berarti 'curhat colongan') tentang pengalaman-pengalamannya saat bekerja.

Sebelumnya, karena tulisan ini nantinya akan dimuat di Tempik, Kompor, Rolling Stangs, dan National Geogresik, yang notabene berpedoman pada standar-nilai jurnalisme sastrawiwidan ala suku Badui, saya akan menguraikan pada anda ciri fisik si pelaku dan keadaan sekitar. Melati ini berbadan tegap. Dadanya bidang dengan wajah serupa mas-mas pabrik. Tak ada yang aneh, memang. Tetapi ketika ia mulai berbicara, hohoho... Sebentar, mari kita renungkan sejenak bagaimana misalnya seorang Thomas Djorgi atau Krisna Mukti, selebritis cum gay cum keparat cum metromini seksual itu sedang berbicara. 

Kalau sudah, mari renungkan kembali, sejenak saja, bagaimana misalnya seorang kuli pasir opak yang berbicara dengan lagak ke-kota-kota-an seperti itu. Sudah? Nah, bagi yang merasa sudah tak kuat lagi dengan analogi saya, saya sungguh ikhlas kalau ada diantara anda yang ingin menenggak Johny Walker dengan satu sachet Rinso rasa ayam bawang. Yah, macam itulah si Melati ini. Begitu kontemporer. Begitu komikal. Betapa kuatnya corak seni urban yang ada dalam dirinya, saya rasa anda semua sudah dapat mengerti. 

Ia melakukan curcol tepatnya ketika ia mulai membicarakan soal pekerjaannya yang dirasa bertentangan dengan prinsipnya. Kalau ingatan saya tak silap, ia mengaku sekarang bekerja sebagai desainer. Tak jelas desainer apa, dan saya memang sengaja tak bertanya untuk memperjelas. Yang kemudian jadi masalah baginya adalah pekerjaannya sekarang tidak berhubungan dengan apa yang telah dipelajarinya dulu di bangku kuliah, yang dimana dulunya ia adalah lulusan teknik mesin. Sampai sini, betul-betul keadaan menjadi menggelikan bagi saya. 

Entah dengan Davi yang kelihatan begitu mesra dengan masnya ini (kemesraan ini fakta lho! Silahkan tanya Davi sendiri bagaimana masnya menggencet-gencet Davi ke pojok bangku agar tetap ditemani ngobrol. Dan reaksi Davi? Hmm.. Saya kira seperti pepatah: bagai pungguk merindukan bulan).

Masnya ini berkata bahwa walaupun pekerjaannya sekarang dari segi ekonomi dirasa cukup memuaskan, tetapi ia tidak merasakan kebahagiaan batin. Bah! (Tiba-tiba Davi yang disaat saya lagi menulis ini lagi berada di kos saya, mendadak marah-marah dan mendorong saya karena membaca kalimat-kalimat yang dirasa mendiskreditkan si masnya tadi. Saya tersentak dan terpelanting sampai sejauh 2000 milimeter. Dengan wajah berlumuran darah saya coba kembali meraih laptop yang dirampas Davi tadi. Walhasil, setelah kami berdua adu meriam, akhirnya saya sepakat untuk tidak menuliskan fragmen dimana Davi dan masnya tadi cipika-cipiki saat masnya hendak turun di tempat tujuannya, stasiun Probolinggo). 

Lanjut lagi ke perkataan masnya. Seketika saya memotong pembicaraannya dengan bertanya apakah nanti dari kereta lumpur lapindo bisa terlihat atau tidak. Ia mengatakan: "Bisa, tetapi tidak terlalu jelas karena tanggul-tanggul pembatasnya terlalu tinggi." Tak lama saya bertanya tentang itu, kereta sudah memasuki wilayah Sidoarjo dan masnya mengajak kami kedekat pintu untuk melihat lumpur lapindo. 

Sekali lagi, saya tak tahu apa maksud dari ini semua, tetapi, saat mengajak Davi, masnya sedikit berlaku lebih mesra. Saya ingat betul bagaimana tangannya coba meraih tangan Davi saat kereta sedikit memelankan jalannya secara tiba-tiba (saat memasuki wilayah lumpur lapindo, kereta memang berjalan pelan dengan alasan keamanan, karena dikhawatrikan getaran rel akan mengakibatkan goncangan terhadap tanggul-tanggul yang memang dibuat sederhana). Dan tangan Davi, seperti dalam film-film Bollywood-nya Quentin Tarantino, memagut balik tangan masnya. Sampai fragmen ini, saya merasa terharu. 

Selepas dua kejadian absurd tadi, kami pun akhirnya tiba di Jember. Tercatat 12 jam kami berada dalam kereta keparat itu (kereta berangkat jam setengah delapan pagi dan baru tiba di Jember sekitar setengah delapan malam). Bersua dengan pelbagai macam orang dengan atribut sosialitanya. Pedagang-pedagang yang bak pasar berjalan, yang menjual tidak hanya makanan atau minuman, tetapi juga menjual hewan, lebih tepatnya seekor bajing yang masih kecil. Nantinya, catatan ajaib ini akan berlanjut, menceritakan kehidupan kami selama numpang di Jember. Pada seri itu, saudari Davi akan menuliskannya untuk anda semua. 

Cheers!

*Artikel ini sudah mengalami alih bahasa ke lebih 50 bahasa di seluruh kabupaten di Papua Nugini. (Isi tulisan memang dimaksudkan untuk menghina, merendahkan dan mendiskreditkan orang-orang terkait. Hak manusia telah mati kalau masuk dalam tulisan saya).


Tag: Have Fun

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

BJ 0 0
@ joker: mas dab Jok, anda Hebat; "cara yang tidak runtut untuk memberikan warna baru dalam etika jurnalistik"
...cerita anda, naratif bgt! Tapi saya suka baca...

Anda benar2 penulis hebat, jarang yg sprti anda...(tiap hari sy pasti berkunjung ke laman anda u/ bljr menulis sprti di atas...mengesankan,dab. :')

Joker 0 0
hahahaha.. husss.. biasa aja. lo bisa juga kok kaya gue..
BJ 0 0
Amin amin ya Rabb
arman dhani bustomi 0 0
ngepet!
si berang-berang 0 0
tulisan ini layak masuk 17tahun.com
hahaha...
Joker 0 0
hahahahahahahahhahahahaa..........

Silahkan login untuk memberikan pendapat