Lucu Tapi Prihatin 1
Kamis, 22 Jul '10 02:44
Tersandungnya beberapa calon kepala daerah di Sulawesi Utara, entah itu karena masalah korupsi ataupun masalah adminsitratif yang ditetapkan KPU, membuat saya tergelitik namun juga prihatin. Terasa lucu, karena mereka tersandung permasalahan justru didetik-detik akhir jelang pemilihan kepala daerah, mereka terjatuh ketika begitu banyak duit yang sudah dikucurkan, entah itu disetorkan bagi Partai Politik yang ditumpanginya maupun untuk ‘merayu' masyarakat.
Sakit hati jelas mereka rasakan, event yang akan diselenggarakan dalam hitungan hari, tepatnya bulan Agustus mendatang (03/8), justru memunculkan banyak pertanyaan dalam otak dan hati mereka, "Kenapa putusan tersangka menyinggahi saya jelang hari pemilihan?" atau "Kenapa saya dinilai tidak memenuhi syarat?" atau lagi "kenapa kasus saya digantung begini?" tentu masih banyak ‘kenapa?' yang ingin mereka curahkan, tentunya dibumbui dengan kata-kata yang sedikit defensif "Biarkan hukum berjalan sesuai dengan prosesnya," atau tindakan yang lebih offensif "Kami akan memperjuangkan masalah ini demi rakyat."
Namun, ada hal yang tentu membuat saya begitu prihatin dalam melihat kasus yang sedang hangat ini. Amarah yang begitu meledak-ledak dari massa pendukung calon kepala daerah yang tersandung kasus, dengan melakukan pengerusakan fasilitas umum sampai adu fisik dengan aparat keamanan, yang terjadi baru-baru ini (20/7). Entah itu muncul sebagai reaksi murni dari hati atau malah sebuah konspirasi yang telah disusun sedemikian rapinya, yang jelas ini menunjukkan ketidakdewsaan masyarakat dalam berpolitik, apalagi bentrok ini terjadi setelah Deklarasi Pemilu Damai diselenggarakan pada hari kamis (15/7).
Kalau saya boleh menghubungkan ini dengan Doktor Sam Ratulangi ketika beliau berada dalam kurungan penjara karena tuduhan telah melakukan tindak korupsi (memanipulasi biaya perjalanan) dari pemerintah Belanda. Kekecewaan jelas terasa dalam hatinya, namun ide untuk mencerdaskan kehidupan Bangsa seakan tidak pernah ada habisnya. Dibalik jeruji besi, beliau mampu mendirikan majalah mingguan berbahasa Belanda Nationale Commentaren, atau Komentar Nasional, kabarnya majalah tersebut laku keras di Bandung bahkan karena tulisannya yang cerdas dan visioner membuat orang Belanda sangat tertarik untuk membacanya. Saat diasingkan ke Serui, Papua, beliau mampu melakukan usaha mencerdaskan masyarakat lokal dengan cara mengajari mereka bercocok tanam, bahkan sempat mendirikan sekolah bagi pemuda-pemudi Papua.
Nah, apakah hal yang dilakukan Sam Ratulangi, Doktor matematika pertama di Asia, mampu diperbuat juga oleh tokoh-tokoh politik daerah Sulawesi Utara? bukannya menjadikan masyarakat sebagai ‘pion' yang patut dijadikan tumbal. Paling tidak, sejauh mana upaya dari tokoh-tokoh Sulawesi Utara dalam mencerdaskan masyarakatnya, sekalipun mereka dalam keadaan tertekan?
Saya jadi teringat perkataan teman saya untuk menutup tulisan ini, "Alangkah mulianya hati mereka, tokoh-tokoh Sulut, yang punya banyak duit, seandainya mereka menggelontorkan uang untuk membangun klub atau stadion supaya Sepak Bola kita bisa lebih maju. Pastilah nama mereka akan dikenang masyarakat sepanjang hayat."
Tag: daerah
Terkait:
-
TENTANG PENDIDIKAN KITA
Sabtu, 1 Mei '10 09:51 -
Menilik Peran Pemuda/Mahasiswa Harapan Banua Banjar?
Senin, 22 Feb '10 16:38 -
Transisi Demokrasi dan Pilkada Kalsel 2010.
Sabtu, 20 Feb '10 21:38
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Oo Zaki: Bagus
-
Wahyu Eko P: Penting
-
bung hakim: Responsif
Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat