G20: Pintu yang tertutup = Jendela yang hancur 8
Rabu, 21 Jul '10 20:16
“Para anarkis pada dasarnya mengakali rencana pengamanan yang luas dengan jalan mengambil keuntungan dari bagian-bagian kota yang rentan sementara polisi terfokus pada demonstrasi besar dan perimeter KTT.”
AP News Report
Pada 26 Juni 2010, ribuan anarkis dan demonstran lainnya berkumpul di luar KTT G20 di Toronto, menghadapi lebih dari 19.000 petugas keamanan dengan anggaran sebesar hampir satu miliar dolar. Kerusuhan yang terjadi kemudian menyebabkan kemarahan di kalangan pejabat publik dan komentator dari korporasi media. Kami menaruh hormat terhadap keberanian orang-orang yang menempatkan diri mereka dalam risiko besar untuk menghancurkan ilusi konsensus sosial dan mengekspresikan kedalaman kemarahan terhadap para pemimpin dari G20 dan sistem kapitalisme yang mereka bela. Jika kamu menaruh kemerdekaanmu dalam barisan di Toronto: terima kasih.
Pintu Yang Tertutup...
Sebagai anarkis, kita tidak hanya menentang kebijakan tertentu dari G20—meskipun program yang disusun berdasarkan pertemuan Toronto tampak mengerikan juga—lebih dari itu adalah struktur dasarnya. Apakah itu G7, G8, G20 atau G1000, setiap struktur yang memungkinkan kepala negara untuk menentukan nasib jutaan orang pada dasarnya adalah eksklusif dan koersif. Kita menentang KTT G20 karena kita percaya bahwa hanya inisiatif horisontal-lah yang dapat memecahkan masalah yang kita hadapi saat ini.
Krisis Keuangan, bencana ekologis, dan penindasan karena perbedaan pendapat merupakan konsekuensi yang memang akan didapat dari sistem ekonomi kapitalis dan sistem politik hierarkis, yang memusatkan kekuasaan ke tangan segelintir mereka yang buas. Ketika semua dipaksa bersaing untuk sumber daya dan kekuasaan dengan harga berapa pun, dan bukannya untuk bebas mengembangkan cara-cara hidup berdasarkan prinsip berbagi dan berdampingan secara damai, tidak ada tumpahan minyak atau perang berdasarkan alasan-alasan palsu yang bisa membuat kita terkejut.
Model dunia yang hendak dibangun oleh para penguasa kita bisa tercermin dari pengamanan yang dirancang oleh aparat untuk melindungi pertemuan KTT dari kerumunan mereka yang harus menghadapi konsekuensi dari pertemuan itu sendiri. Sebagian pusat kota Toronto telah dikerangkeng, dengan "hukum rahasia" yang diberikan pada polisi untuk punya kekuasaan lebih di area tersebut. Penggerebekan preemptive yang ditujukan kepada para organisator protes bukanlah sebuah hal anomali—serangan serupa juga terjadi sebelumnya pada Konvensi Nasional Partai Republik di tahun 2008, misalnya. Dalam penangkapan 900 orang warga yang taat hukum selama akhir pekan, aparat keamanan tidak bereaksi secara berlebihan tetapi menggunakan keuntungan dengan sistem peradilan pidana untuk tujuan yang tersirat: upaya pengendalian potensi ancaman terhadap status quo.
Jika ini adalah pertama kalinya polisi menggunakan gas air mata di Toronto, itu hanya menunjukkan bagaimana mereka memiliki kontrol yang ketat terhadap kaum miskin dan terpinggirkan di Toronto hingga sekarang. Demikian pula, reaksi berang para politisi dan media milik korporasi menunjukkan bahwa, untuk kali ini, demonstrasi telah melampaui apa pun yang bisa mereka kooptasi ke dalam agenda mereka sendiri.
...Jendela Yang Hancur
Meskipun laporan awal mencatat jumlah yang sedikit, kepala polisi Toronto Bill Blair akhirnya mengakui bahwa "sebanyak seribu orang" ikut serta dalam aksi militan pada hari Sabtu—sesuatu yang disebut dalam premier Dalton McGuinty sebagai, "perusakan dan kekerasan tak berotak."
Retorika semacam ini selalu menjadi respon pertama terhadap kelompok yang memaksa melangkah di luar wacana yang diizinkan; kemudian, tentu saja, akan ada sebuah film adaptasi dan bagian pembukaan untuk "menjadi bagian dari proses." Adalah hal penting untuk tidak menjadi panik pada momen-momen seperti ini, saat musuh-musuh kita berusaha menakut-nakuti kita untuk tetap setia pada senjata kita. Dengan berdiri bangga terhadap tindakan militan, kita membantu melegitimasi oposisi struktural kepada kapitalisme, jika kita bertindak dengan malu atau berusaha berdamai, kita membiarkan musuh-musuh kita untuk menentukan apa yang dianggap bisa diterima. Ironisnya, satu-satunya cara untuk menghentikan menampilkan bentuk "ekstrimis" kepada publik, adalah dengan menegaskan perlunya tindakan militan sampai keadaan telah normal sebagai opsi yang valid.
Adalah para politisi dan polisi yang harusnya malu. Adalah sebuah kepengecutan bagi mereka yang tidak pernah menghadapi kekerasan polisi untuk menghina orang-orang muda yang bersedia berdiri menghadapi personel keamanan bernilai milyaran dollar; adalah sebuah kelakuan tak berotak bagi mereka yang keistimewaannya didapat dari menerima begitu saja tatanan nilai-nilai yang berlaku untuk mencemarkan individu-individu yang memiliki integritas untuk mempertanyakan nilai-nilai tersebut. Jika ada sesuatu yang memenuhi syarat sebagai "perusakan dan kekerasan tak berotak" maka itu adalah kepatuhan buta para polisi yang menyerang warga sipil setiap kali diperintahkan.
Kami sangat terkejut oleh kemunafikan dari mereka yang telah diuntungkan oleh ratusan tahun penjajahan, genosida, dan eksploitasi tetapi memilih untuk fokus pada beberapa jendela yang rusak. Kami membenci polisi bermuka dua yang bisa menyebut "keamanan publik" sebagai alasan untuk bertindak biadab, termasuk pelanggaran serius terhadap hukum yang seharusnya mereka tegakkan, sedangkan mereka sendiri bertindak kejam dan membabi buta menyerang orang. Kami menyesalkan tipu daya media yang tidak melewatkan kesempatan untuk memfitnah para anarkis: misalnya, menyiratkan bahwa pembunuhan Polisi Ian Tomlinson pada KTT G20 di London pada tahun 2009 adalah akibat dari demonstrasi di sana dan itu semua seolah tindakan tak berperikemanusiaan dan kekejaman tanpa alasan.
Di sisi lain, kami sangat terinspirasi oleh kawan-kawan kami di Toronto. Sungguh menakjubkan bahwa para anarkis berhasil mencapai begitu banyak hal walau pasukan besar berbaris melawan mereka. Meskipun kita takut bahwa gelombang represi yang serius sedang dalam perjalanan, peristiwa 26 Juni telah berbuat banyak untuk menghilangkan ilusi bahwa para penguasa kita tak terkalahkan.
Ini bukan berarti bahwa kita mesti menghentikan kerusuhan di setiap pertemuan dan KTT. Jikalau memungkinkan bagi para anarkis yang kalah jumlah bahkan hingga dua puluh banding satu untuk tetap menghancurkan pusat perbelanjaan dan membakar mobil-mobil polisi. Namun, pikirkanlah berapa banyak lagi kemungkinan—dan yang lebih penting—perjuangan dalam hidup harian kita. Kerusuhan anti-KTT adalah sikap simbolis dari penolakan yang kuat, menunjukkan kesediaan untuk pergi ke manapun jalannya, tapi itu akan sia-sia kecuali kita benar-benar berhasil bergerak melampaui bahasa tubuh menuju transformasi isi. Para ahli dan politisi harus menghitung diri sendiri sebagai pihak yang beruntung ketika gerakan anarkis hanya berhenti pada gerakan simbolis, ketimbang menyiapkan pekerjaan serius untuk menggulingkan kapitalisme sekali dan untuk selama-lamanya.
Kondisi ekonomi dan ekologi terus memburuk, hal ini akan mengintensifkan konflik sosial juga; suatu hari tantangannya bukanlah memulai kerusuhan, tetapi untuk mencapai sesuatu yang lebih dari itu. Jika para anarkis tidak membuat dirinya sebagai sebagai lawan utama dari tatanan yang berkuasa, para fasis dan fundamentalis akan melakukannya. Dalam pandangan ini, mungkin penting bagi kita untuk membedakan diri dalam demonstrasi-demonstrasi pertemuan puncak dan KTT. Tapi dalam jangka panjang, apakah kita akan menang atau kalah tergantung pada apakah kita dapat menggunakan kesempatan ini untuk menunjukkan keinginan kita kepada orang lain, dan meraih ruang dan sumber daya untuk menunjukkan alternatif-alternatif yang kita miliki.
Semoga sirine berbaur di udara dengan bau asap yang tajam. Semoga proyektil menghujani spectacle budaya konsumeris. Semoga kita meraih setiap kesempatan untuk menyerang balik penindas dan menginspirasi teman-teman, tetangga, dan rekan kerja kita untuk melakukan hal yang sama. Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana kita dapat merengkuh kembali komunitas dan potensi kreatif kita dengan keganasan yang sama seperti yang kita lihat di Toronto.
Tag: basabasi
Terkait:
-
KAMI TIDAK SENDIRI: Catatan Pekan Anti Otoritarian Sibolangit, Sumatera Utara, 3-7 Juni 2010
Rabu, 21 Jul '10 20:14 -
Eksplorasi tanpa titik Basi
Rabu, 21 Jul '10 19:59 -
Buy Nothing Week
Rabu, 21 Jul '10 19:52
Komentar:
Pertanyaannya sekarang mengapa suaranya nampak minor? (Alias tdk paham oleh saya, orang kampung yg biasa, ndak tahu apa2, sedang belajar ini) Dan mengapa para intelek bersuara (anarkis) ketika berbicara (mengajak) malah tidak bisa menjangkau pemahaman orang biasa (sebut saja, saya)? Media apa lagi, banyak yang tdk bisa dipahami semua orang. Lagi-lagi mengapa mereka melakukan itu semua?
Menurut Chomsky, "for domination and personal privilege," Toh, gak harus turun ke jalan kalau mau dibilang keren, apalagi disebut Anarkis. “It’s very natural for intellectuals to try to make simple things look difficult.” lanjut Chomsky. Para intelektual mecoba mmbahas banyak hal, apa arti dibalik sedikit hal itu, yg sebenarnya tidak ada apa-apa di dalamnya, dan sangat biasa saja. Loh, kok bisa? Lihat saja...di Toronto itu
-musti panggil wiro Sableng, dkk- untuk merubah dunia? Atau (yang lainnya) musti punya kekuatan adiluhung seandainya mau merubah dunia!-
Karena pada dasarnya, kata Chomsky, “You don’t have to talk about them in post-modern rhetoric.” Cukup dgn bahasa yg sederhana saja. (Chomsky on Anarchism)
Note: Noam Chomsky: Anarchism is a very broad category; it means a lot of different things to different people. (http://www.chomsky.info/interviews/20040714.h tm)
Karena pemahaman saya terlalu sempit tentang anarkis, yang seperti om Anonymous (sprti komentar pada 'Bego tpi punya hati' itu) yakini. Anarkis saya, cukuplah 'Maiyah' di hati saya [bukan berarti saya fundamental(is)] dan sok-sok an alim. Toh, saat ini, saya belajar dari Om Anonymous juga.
Bagi saya, anarkis itu:
Cukuplah Allah sebagai pemberi jalan keluar, solusi atas apa saja : coba sebut satu masalah yang Allah tidak sanggup menyelesaikannya!
Cukuplah, Allah sebagai penabur rizqi melalui jalan, cara, metoda dan modus yang semau-mau Dia, sehingga para kekasih Nya tidak bisa menduga atau memperhitungkannya. Para kekasih Allah tinggal terima jadi, terima matang – anugrah rejeki yang mereka beli dengan ‘mata uang’ taqwa dan tawakkal. Ah, apa sih taqwa? Rindukan Allah kapan saja. menjadikan Allah sebagai tuan rumah batin kita. Tawakkal adalah taqwa yang diperdalam ditancapkan dihujamkan terus menerus.
Cukuplah Allah sebagai manager dan akuntan. Kalau berasmu menipis, jangan memfitnah dan menganggap Allah bersikap acuh tak acuh atas keadaan dapurmu itu. Ia managermu, ia atur nafkahmu, ia jamin penghidupan keluargamu. Engkau cukup menyetor taqwa dan tawakkal.
Cukuplah Allah adalah menjadi humasmu, public relation-mu. Keperluanmu atas seseorang atau suatu pihak, kebutuhanmu terhadap akses ini atau itu, disampaikan oleh Allah kepada yang bersangkutan. Engkau cukup memberi ‘honor’ taqwa dan tawakkal.
(listenin' hook up, browsin' http://www.israel…upation.org/ & http://www.democracynow.org/ )
-Note-
Saya suka tulisannya, om Anonymous.
(Wish you the best)
kamu keren....
seratus jempol untuk kamu. kamu anarko karena kamu tidak menitik beratkan pemahaman pada kiri atau kanan (emangnya gerak jalan, ciakakaka). langsung saja pada praxisnya ga usah neko-neko. pad sesuatu yang simple, berkala dan menghentak.
nb: ada baiknya kita saling berbabgi pemahaman, justru dari kamulah saya belajar banyak. trims buat komennya..
-
Ada yg menarik Om, yaitu "simple, berkala dan menghentak."
Serta saling berbagi pemahaman.
-
Keep in touch
@ pesisir bj: seandainya persma bisa menjadi sesuatu yang simple, berkala dan menghentak. dan itu masif di seluruh daratan nusantara. agh membayang kan itu seperti terbawa dalam intelegensia SWARM belalang. (kita ingat bgmn masifnya belalang dalam menghancurkan sesuatu tanpa instruksi komando yang berarti)
sebelumnya maaf, aq ga pernah paham dengan satu -isme pun.
anarkisme,di dalam tulisan ini,plus komen diatas tereduksi maknanya menjadi anarkisitas,hanya semacam aktivitas saja.
kalo negara menyepakati kekerasan,aq sepakat,ya kekerasan kasat maupun tidak kasat mata,lha kalo para anarkis melakukannya juga,lha trus dimana publik harus menerima,mungkin beda antara para anarkis dan pemerintah cuma pada kuasa saja.
masalah perlombaan senjata,itu uda lewat pak,lagipula uda habis dikupas di studi hub. internasional.
kalo masih berpegang ke sana,entah berposisi diametral atau linier,konteksnya akan tercerabut dari hari ini.
kita sama2 yakin kalo pemerintah uda tidak layak diyakini sebagai instrumen pembawa kesejahteraan,oleh karenanya aq menghormati sebesarnya pilihan ideologis ini,meskipun tidak yakin.
Sy yakin, ketika mengulas sesuatu, Om sbb slalu branggapn bahwa Ilmu pengetahuan sosial (sebut saja itu Hub.politik internasional, sejarah, dsb) mmbutuhkan alat khusus (teori atau metodologi) utk dpt dpahami Anda. Walhasil, dlm konteks (Anda) ini, susah dipahami oleh sy yg tdk paham teori trsebut, karena yg boleh paham adalah Anda yg paham teori dan metodologi untuk memahaminya. Ha ha ha ha...Anda hebat Om, sbb.
Kenyataannya kita tdk lgi sdng belajar fisika, matematika, kimia, atau ilmu eksakta yg lainnya, bukan? Dan (jelas) tentu saja butuh teori2 dlm hal teknis eksakta. Toh, pdhl kita sdng berhadapan dgn fakta2 yg bisa di'melek', bukan?
“It’s very natural for intellectuals to try to make simple things look difficult.” kata Om Chomsky.
Sebut saja Anda sengaja karena "this social and political affari is maintained by intellectuals to look complicated and not understandable." Walhasil, kecenderungan 'skeptis akut' pasti menghampiri para intelektual (termasuk Anda).
Salam jabat erat, Om Sbb.
(U/ kedua kali, saya suka komen yg tdk remeh temeh Om sbb di atas, amat panjang...dri sebelumnya.)
kalau tidak salah anda juga sering menggunakan chomsky ya, berarti cuma anda yg boleh paham donk? gimanapun pernyataan2 tokoh juga bisa dikatakan 'teori'... hahaha... smart-way. mengutip tanpa menjelaskan konteks... dan, 'theory is always just for some people and some purposes...' itu kata robert cox.
dan juga, anda sepertinya alergi sekali ya dengan intelektual, padahal, aku pikir dalam maknanya yg paling luas dan dalam... kita semua, yg mau repot2 membicarakan, berpikir, dan menulis ini itu, yah paling tidak sekedar berbagi informasi, juga intelektual...
hehe...
salam...
Silahkan login untuk memberikan pendapat