Buy Nothing Week 0
Rabu, 21 Jul '10 19:52
Belanja tak akan pernah membuatmu puas
-anonimus
Sudah lazim memang setiap menjelang hari perayaan Idul Fitri selalu disambut dengan sukacita bagi pemeluk agama Islam. Namun, di Indonesia yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam, ajang sukacita ini kerap kali dimanfaatkan oleh korporasi untuk memancing mereka menuju konsumerisme. Bukan hanya memancing, saat ini konsumerisme justru telah merebak dengan dahsyatnya ditengah-tengah budaya masyarakat Islam (atau bahkan umat-umat beragama lainnya pada hari-hari perayaan besar keagamaannya masing-masing).
Hal inilah yang mengundang kami untuk mencoba berbuat sesuatu agar budaya yang kian merusak ini setidaknya dapat berkurang atau bahkan dihentikan. Buy Nothing Week (Minggu Tanpa Belanja) adalah budaya baru yang senantiasa kami rayakan untuk mencoba menghentikan budaya konsumerisme yang sengaja diciptakan oleh kapitalis untuk mereduksi pemikiran seseorang bahwa ia butuh segalanya. konsumerisme juga berarti masyarakat ditipu untuk mendapatkan image yang terbaik dalam lingkungan sosial bermasyarakat dengan cara berbelanja. Konsumerisme juga berarti masyarakat dibuat terhalusinasi bahwa tanpa belanja mereka tidak dapat bertahan hidup lebih lama lagi.
Buy Nothing Week lazimnya selalu dikampanyekan pada akhir bulan November (sehari setelah perayaan Thanksgiving). Namun di Indonesia kami merasa perlu meninjau ulang hari kampanye ini ke hari yang kami rasa lebih tepat, untuk itulah kami menetapkan Buy Nothing Week dikampanyekan seminggu menjelang hari raya Idul Fitri, dimana pada hari-hari itu biasaya merupakan klimaks masyarakat Indonesia mendatangi pusat-pusat perbelanjaan didaerahnya masing-masing. Kami menentang budaya konsumerisme karena kami percaya bahwa kehidupan manusia seharusnya diisi dengan saling mengisi dan bekerja sama antara satu dengan yang lainnya, dan bukan malah bersaing untuk mendapatkan image yang terbaik. Kami menentang karena budaya konsumerisme sengaja diciptakan oleh kapitalisme, dan oleh karena itu konsumerisme ada sebagai wujud besar-besaran terhadap kemanusiaan. Oleh karena itulah kami merasa memiliki keharusan untuk terlibat aktif dalam mematikan budaya konsumerisme yang berarti juga akan memperlemah posisi kapitalisme dari kerakusannya.
Atas konsekuensi ini, kami akan hadir di pusat-pusat perbelanjaan untuk mengkampanyekan hal ini. Dukung kami dalam aksi ini dengan menyebarkan aksi serupa di tempat anda. Kampanyekan bahwa seharusnya masyarakat dapat benar-benar menyadari segala hal yang ingin mereka lakukan, kampanyekan bahwa masyarakat dapat hidup lebih baik TANPA KAPITALISME.
FAQ -Buy Nothing Week (Minggu Tanpa Belanja)
Bagaimana awal mula lahirnya Buy Nothing Week?
Awalnya hanya satu hari saja, Buy Nothing Day. Ide ini digagas oleh orang-orang yang tergabung ke dalam kolektif aktivis media, AdBUsters, pada tahun 1993. Dan pada saat ini, Buy Nothing Day diselenggarakan setiap tahunnya sebagai perayaan annual di lebih dari 55 negara.
Intinya apa sih?
Sebagai konsumen, kita seharusnya mempertanyakan produk-produk yang kita beli dan perusahaan-perusahaan yang membuatnya. Idenya adalah untuk membuat orang berhenti dan berpikir tentang apa dan seberapa banyak yang mereka belitelah berpengaruh pada lingkungan dan negara-negara berkembang. Hakekatnya adalah untuk menggugahkan orang-orang supaya tidak belanja secara membabi buta, padahal nilai guna barang itu minim sekali, bahkan tidak ada sama sekali. Kalau tidak beli hanya untuk pamer, biasanya hanya untuk penumpukan barang-barang agar merasa 'tenang' secara emosional, atau harganya sangat murah jadi timbul pemikiran "mendingan beli banyak mumpung lagi murah..."
Siapa saja yang ngejalaninnya?
Kamu, karena ini adalah minggu milikmu. Kontrol ada di tanganmu! Ayo gabung! Beritahu teman-temanmu yang lain, bikin poster dan pasang di setiap sudut lingkungan kamu tinggal, dorong mereka untuk tidak berbelanja.
Mengapa event ini diselenggarakan di tanggal yang berbeda di berbagai negara?
Situasi dan konteks budaya di setiap negara mempengaruhi waktu diselenggarakannya Buy Nothing Day. Untuk disini, kita memilih satu minggu ketimbang satu hari karena ini bertepatan dengan perayaan hari-hari besar keagamaan. Dan yang terdekat adalah Hari Raya Idul Fitri. Seminggu sebelum lebaran biasanya moment dimana orang-orang berlomba-lomba beli-ini-beli-itu dengan pertimbangan: lebaran bukan lebaran kalo enggak punya baju baru, sepatu baru, HP baru, dsb. Jadi pemilihan tanggal ini tidak koinsidental.
Apa yang bisa saya capai dari Buy Nothing Week?
Satu hal yang sangat menantang tapi akan berbuah kepuasan untuk bisa mencoba hidup tanpa belanja selama 168 jam atau 7 hari. Ini akan menjadi sebuah prestasi atau reward-nya yaitu diambilnya kembali waktu-waktu yang biasanya kamu gunakan 'shopping' dengan hal-hal yang bisa kamu gunakan untuk mengembangkan potensi kamu. Menulis, menggambar, main musik, korespondensi, memasak, olahraga, dll. Dan juga, yang terpenting adalah uang yang bisa kamu distribusikan ke hal-hal yang memang dirasa perlu, bukan dibuat-buat terlihat tampak diperlukan. Untuk satu minggu itu diharapkan kamu mendapatkan hidupmu kembali! Konsumerisme modern memang menawarkan segala bentuk kemudahan dan kenyamanan, tapi tidak ada efeknya terhadap lingkungan dan buruh di negara dunia ketiga, seperti Indonesia, sangat menyedihkan!
Apa yang salah dari belanja?
Bukan hanya kebiasaan belanjanya yang membahayakan, tetapi apa yang kita beli. Kita jarang sekali diberikan informasi transparan mengenai realita yang ada dibalik barang-barang yang diproduksi. bagaimana kondisi buruh yang merakit barang itu misalnya, apa mereka mendapatkan upah yang layak atau kondisi kerja yang manusiawi ataupun efek dari adanya pabrik-pabrik pembuat barang itu terhadap lingkungan sekitarnya, jarang sekali diinformasikan. Tentu saja ini bagian dari taktik dagang mereka.
Apa dampaknya terhadap lingkungan?
Bahan dasar dan metode produksi yang digunakan untuk membuat barang-barang yang ktia pakai mempunyai efek samping yang membahayakan terhadap lingkungan. Dari limbah buangan, pengerusakan kehidupan liar dan Sumber Daya Alam yang terbuang percuma.
Apa satu minggu bisa membuat perubahan?
Buy Nothing Week bukanlah sebuah event yang menjadikan kamu berpikir dan bertindak cerdas dengan tidak ikut serta dalam perayaan konsumerisme hanya untuk satu minggu saja, tapi untuk satu minggu kemudian, satu bulan kemudian, satu tahun kemudian, dan seterusnya! Sebuah hubungan romantis yang tidak akan pernah berakhir! Diharapkan orang-orang akan mempunyai mindset yang berbeda ketimbang sebelum kenal Buy Nothing Week bagaimana puasnya mengendalikan desire (bukan desire yang mengendalikan kita) dan bisa menengok ke belakang bagaimana masyarakat ini telah tersedot ilusi konsumerisme melalui belanja, belanja, dan ...belanja!
Pikir lagi sebelum membeli! Jawablah pertanyaan-pertanyaan ini sebelum berbelanja!
Apakah saya benar-benar memerlukannya?
Berapa banyak yang sudah saya punya?
Seberapa sering saya akan memakainya?
Akan habis berapa lama?
Bisakah saya meminjam saja dari teman atau keluarga?
Akankah saya membersihkan dan/atau merakitnya sendiri?
Akankah saya memperbaikinya?
Apakah barang ini berkualitas baik?
Bagaimana dengan harga?
Apakah ini barang sekali pakai?
Apakah barang ini ramah lingkungan?
Dapatkah didaur ulang?
Apakah barang ini bisa dganti dengan barang lain yang sudah saya memiliki?
cp: tdksepakat@gmail.com - kasihxibu@gmail.com
kontrol hidupmu tidak sedang ditanganmu.
Rebut kembali
-anonimus
bacalah:
http://www.adbusters.org/
http://id.wikipedia.org/wiki/Hari_Tanpa_Belanja
Tag: basabasi
Terkait:
-
G20: Pintu yang tertutup = Jendela yang hancur
Rabu, 21 Jul '10 20:16 -
KAMI TIDAK SENDIRI: Catatan Pekan Anti Otoritarian Sibolangit, Sumatera Utara, 3-7 Juni 2010
Rabu, 21 Jul '10 20:14 -
Eksplorasi tanpa titik Basi
Rabu, 21 Jul '10 19:59
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
BJ: Biasa
Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat