Anti Subyektivitas-Emosional 6

Rabu, 21 Jul '10 15:04

Anti Subyektivitas-Emosional

Subyektivitas dapat didefiniskan sebagai suatu perspektif yang miskin akan pertimbangan-pertimbangan atas faktor eksternal. Subyektivitas ini tentu saja mampu memicu berbagai tindakan baik berupa tindakan kongkrit maupun sebatas aktivitas berpikir. Cara berpikir subyektif yang tidak dilandasi suatu basis teoritis akan membawa pada paradigma sempit sedangkan landasan teoritis dengan cara berpikir subyektif akan membawa pada hal yang sama buruknya. Cara berpikir dogmatis. Menganggap suatu basis teoritis yang diterimanya, dijadikan pola pikirnya, sebagai sesuatu yang mutlak benar, tidak perlu diuji, dipraktekkan, dan dibenturkan ke kenyataan.

Sedangkan emosional adalah suatu keadaan atau perspektif yang cenderung menilai segala sesuatu berdasarkan pertimbangan emosi. Sehingga menjadikan perasaan sebagai suatu tolak ukur dalam menangkap, menerjemahkan, bahkan menyikapi. Akibatnya penilaian benar atau salah hanya berdasarkan suka atau tidak suka, menyenangkan atau tidak menyenangkan, menghibur atau tidak menghibur, dan lain sebagainya.

Kedua hal di atas tentu sangat berbahaya apabila digabungkan menjadi subyektivitas-emosional. Suatu pikiran atau tindakan yang berdasarkan subyektivitas-emosional akan membawa kita pada kegagalan dalam memahami kenyataan dan permasalahan yang terjadi di dalamnya. Selanjutnya ini akan memunculkan efek domino, karena kegagalan dalam memahami ini kenyataan beserta permasalahannya tidak saja akan membawa kegagalan untuk menyelesaikan permasalahan, namun juga akan memunculkan permasalahan-permasalahan baru.


Kasus ketersinggungan Alfurofikaaa terhadap rombongan delegasi PPMI Yogya merupakan salah satu contohnya. Alfurofikaaa tersinggung ketika beberapa orang dari PPMI Yogya membuat guyonan tentang FPI. Rasa tersinggung, tidak suka, dan marah ini kemudian dituangkannya dalam bentuk tulisan di Persma.com dengan judul Punya Otak tapi Bego. Tulisan ini adalah salah satu contoh sempurna dari apa yang disebut subyektivitas-emosional. Berikut faktor-faktor yang membuat tulisan itu dikategorikan sebagai suatu karya dari subyektivitas-emosional.


01. Pertama, saat mendengar FPI dijadikan bahan untuk bercanda, Alfurofikaaa tidak bertindak untuk mengkonfirmasi mengapa FPI dijadikan tertawaan, apa faktor-faktor negatif dari FPI, atau menyatakan ketidaksetujuannya terhadap tindakan dari kawan-kawan PPMI Yogya namun malah membuat tulisan di Persma.com


02. Kedua, bertentangan dengan latar belakang ilmu jurnallistik yang lekat dengan Pers Mahasiswa, tulisan di persma.com berjudul Punya Otak tapi Bego, sangat miskin oleh landasan ilmiah dan analisis yang obyektif serta kongkrit terhadap permasalahan yang terjadi.


03. Ketiga, daripada mencantumkan pernyataan-pernyataan, contoh kalimat yang dilontarkan, candaan yang dianggap menghujat, termasuk siapa yang melontarkannya, dimana semuanya dianggap menyinggung Alfurofikaaa, Alfurofikaaa lebih memilih untuk melontarkan kata umpatan SHIT dan caci maka punya otak tapi bego.

04. Keempat, Alfurofikaaa menyatakan jangan sekali-sekali menyinggung RAS (atau SARA? Suku Agama Ras dan Antar golongan?). Ini jelas pengekangan terhadap kebebasan berpikir. Kita sebenarnya bebas membicarakan RAS atau SARA asal dilandasi dengan pertimbangan yang ilmiah, obyektif, dan tanpa disertai subyektivitas emosional.

05. Kelima, tanpa melakukan pencatuman dari pernyataan-pernyataan yang dianggap menghujat FPI, Alfurofikaaa kemudian melakukan penghakiman bahwa tindakan yang menghina Ormas Islam itu dilakukan secara institusional serta memberikan cap institusional dengan berucap semoga hanya PPMI Jogja saja yang bego.

Sebagai sebuah aktivis Persma yang seharusnya terdidik, terpimpin, dan terorganisir, kita seharusnya memiliki dasar pegangan cara berpikir yang tepat. Bukan bertindak dengan pertimbangan subyektivitas-emosional yang gegabah seperti ini. Karena tindakan-tindakan macam ini hanya akan memecah belah dan membawa kemunduran terhadap pergerakan kita.

 


Tag: Diskursus

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

sisca civitas 0 0
ahh.. akhirnya saya membaca tulisan yang isinya logis dan pantas ,selayaknya seorang pers mahasiswa...
ikhwan 0 0
hmm...

setuju mas..
FF Haq 0 0
Istimewa.
bung hakim 0 0
Maka dari itu muncul pertanyaan pribadi saya ke semua warga perma.com apa arti persma.com bagi anda?
Jawaban anda adalah tolak ukur kelangsungan hidup perma.com ini.
iya nggak bang : p
Die Key belajar nulis 0 0
aneh sih, kenama gak diselesaikan waktu kawan jogja bermain kesana.. malah curhat ke publik, mirip banget sama (S)i (B)ua(Y)a yang suka ngaduin ke pers (demokrasi visual)..
Luki 0 0
Sederhana. Karena organisasi kita belum matang dalam pendidikan. Sehingga kalau ada yang tidak bisa berpikir dan bertindak obyektif-ilmiah, tidak bisa membedakan formal dan non formal, tidak bisa membedakan mana tindakan atas nama kelembagaan dan mana tindakan pribadi, itu semua karena tidak adanya basis teoritik untuk dijadikan pendidikan dan pedoman aktivis Persma pada umumnya dan PPMI pada khususnya. Idealisme? Tidak bisa diandalkan. Idealisme adalah konsep abstrak dan subyektif. Tidak ada basis teoritik, tidak ada landasan ilmiah, hanya berpegang pada semangat dan moral semata yang mana bisa berbeda-beda dari satu individu ke individu lainnya.

Silahkan login untuk memberikan pendapat