Media Alternatif? 7
Selasa, 20 Jul '10 19:26
Ini mungkin hanya keluh kesah yang ingin dijadikan kajian bersama.
Berawal ketika mengadakan sebuah kunjungan kesalah satu LPM di Jogja, LPM Keadilan UII. Ikhwan Sapta Nugraha saat itu menjabat sebagai Wakil Pimpinan Umum. Saya menjumpai setumpuk majalah yang masih terikat erat dengan tali. "Mengapa tidak dilaunching mas?" tanyaku. Dia kurang lebih menjawab tentang kesalahan sirkulasi yang dilakukan oleh teman-teman persma saat ini. Persma sebenarnya ingin menjadi sebuah media alternatif, bukan hanya menjadi media diskusi lingkup kecil.
Sebenarnya perbincangan singkat itu membuka sebuah pencerahan yang sebenarnya sangat sederhana. Mengapa kita selalu berbagi media kita terhadap orang-orang yang sudah sadar akan adanya sebuah kekeliruan disekitarnya (teman-teman LPM). Bukan berarti tidak perlu memberikan media kepada teman-teman persma lainnya, namun lebih baiknya ditekankan kepada orang-orang yang tepat.
Media sebagai sebuah aksi kesadaran kita akan sebuah fakta yang perlu disampaikan pada pembaca yang tepat dan dapat menghaslkan sebuah aksi atau tindakan. Tapi sering kali ada beberapa yang menggap media hanya sebagai ajang eksistensi semata tanpa mementikkan esensi persma sebagai media alternatif. Sebuah kasus menarik pernah terjadi disebuah diskusi dimana anggota LPM yang didelegasikan untuk mengikuti rapat konsulidasi membahas Muskot dan Posko Advokasi meminta ijin kepada teman-teman. Alasan dari teman yang ingin ijin adalah mengikuti rapat BEM. Sempat terkaget dan tersentak mungkin beberapa teman mempertanyakan tentang apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh LPM tersebut. Sempat melakukan sebuah bincang dengannya dilain kesempatan dan ternyata LPM tersebut merupakan kesatuan dari BEM. Bagaimana menurut teman-teman?
Oh iya ini agak melenceng, namun masih dalam satu kesatuan. Asumsi saya ada beberapa LPM yang sudah mulai berubah dari media alternatif menjadi media kuliner (teman-teman Jogja menamainya). Bukan karena bentuk dari media, namun pembahasan didalamnya hanya menjadi sebuah media informasi biasa, tidak dapat menjadi alternatif bacaan. Hal semacam ini apakah menjadi sebuah alasan mengapa media yang disirkulasikan hanya kepada teman-teman persma saja. Ini masih menjadi sebuah asumsi karena belum ada penelitian lebih lanjut untuk menanggapi permasalahan ini.
Ideologi yang selalu dijadikan andalan alasan teman-teman ketika ditemukan dalam sebuah masalah. Sempat termenung memikirkan LPM yang masih melakukan kerja sama dengan BEM, dimana tindakan dan kebijakan mereka menjadi sebuah perhatian, karena menyangkut banyak orang dan perlu ditelusuri. Bila isi dari sebuah media hanya mempublikasikan acara-acara yang dilakukan di kampus maka semua mahasiswa mungkin dapat melakukannya, namun memiliki perbedaan dalam menguasai EYD.
Sebenarnya saya sempat menanyakan kepada manta Badan Pekerja Nasional Litbang PPMI, Fathoni tentang media persma yang mampu bertahan dalam tekanan kurikulum dan kepentingan lain. Hanya beberapa LPM yang dapat menjaga dan konsisten dalam penggarapan media mereka. Bahkan bukan hanya dalam media tapi pada diskusi-diskusi yang diadakan selalu menjaga esensi mereka sebagai media alternatif.
Tag: Persma, Jurnalisme, media alternatif
Terkait:
-
Tidak Hanya Verifikasi.
Selasa, 20 Jul '10 18:11 -
Pesan Lewat, Aktivis Persma di Fesbuk
Rabu, 6 Jan '10 01:40 -
Aku, Persma, dan Tulisanku
Rabu, 31 Agu '11 19:17
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
BJ: Biasa
-
Oo Zaki: Biasa
-
nenden pabelanis: Perlu
Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat