Berita Dalam Arti Warga Persma.com? 28
Minggu, 18 Jul '10 18:46
Bukankah sangat memalukan, seandainya para "buruh" pencari informasi melayangkan gugatan terhadap Komisi Penyiaran Indoneisia (KPI) baru-baru ini. Bukankah kita pantas untuk jadi was-was: Kalau para "buruh" pencari berita sendiri, yang konon sehari-harinya bergelut dengan tulisan, suara, citra, daring dan video sebagai sebuah produk, yang katanya ‘jurnalistik’, tiba-tiba menggugat KPI karena menurut mereka konten yang mereka sajikan adalah sebuah karya jurnalistik. Bagaimana lagi kualitas para "calon buruh", misalnya kita, Persma.com, yang kelak di kemudian hari mungkin saja menjadi pewarta di salah satu MSM (baca: media mainstream), baik itu radio, online, cetak, hingga televisi, atau malah menjadi penggiat, pemerhati atau pengamat pers yang adiluhung nanti. Sad to say, beginikah sosok dunia pers kita?
Yang lebih ironis lagi, kita malah sangat sering mendengar atau membaca silang pendapat tentang "krisis" dalam mengartikan sebuah berita. Maksudnya tentu saja "krisis" dalam dunia pers, apa itu pers, berita, informasi, infotainment, reality show, mana yang faktual dan non-faktual dan lain sebagainya. Penggiat media, pemerhati media, pencinta media, menurut saya pun "jalan di tempat", karena mereka belum mempunyai "kekuatan" yang besar untuk membenahi ataupun meluruskan sesuatu yang "bengkok", yang konon sudah berlangsung cukup lama ini. Sebagai satu-satunya cara menyembuhkan “krisis” ini para buruh media dianjurkan untuk berobat ke luar negeri laiknya orang Indonesia yang suka berobat ke luar itu, kalau tidak ke Amerika Serikat atau Eropa, ya ke Amerika Latin. Atau yang paling dekat, negara tetangga sebelah itu. Apa yang seharusnya diketahui "calon buruh" atau yang "sudah menjadi buruh" dan diharapkan khalayak ramai. Bacalah “Sembilan Elemen Jurnalisme”!(3)
Pun, saat ini banyak calon atau yang "sudah menjadi buruh" tersebut menulis di MSM, baik sebagai pekerja kontrak maupun yang sudah tetap, atau yang tidak terikat atau freelance journalist, mereka merupakan paling banyak jumlah anggotanya. Lihat saja misalnya fenomena jurnalistik warga bak jamur yang tumbuh baik di musim hujan ataupun kemarau – sesuatu yang dianggap tidak mungkin, pun menjadi nampak mungkin. Besarnya jumlah buruh tinta, citra, video, daring yang ada di Indonesia saat ini membuat isu persilangan pendapat tadi masih bisa dipertanyakan kembali kebenarannya. Soal "tendensius" bahwa semua orang mempunyai kebebasan untuk menyampaikan informasi perlu dipertanyakan kembali. Bagi saya, tidaklah bisa dijadikan alasan untuk tidak mengatakan tidak bisa menyelesaikan silang pendapat tersebut. Bukankah permasalahan ini juga yang coba dipaparkan oleh Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam buku mereka, Sembilan Elemen Jurnalistik, yang dipuji-puji setinggi langit! Secara pribadi, saya mengiakan apa yang dituliskan oleh Goenawan Mohammad dalam kata pengantar buku itu, dan yang ditutup oleh Andreas Harsono itu. You are a great man! Walau sejarah media modern pascareformasi kita masih berumur jagung, kita sudah memiliki sederet nama-nama yang penuh dedikasi terhadap perkembangan pers di Indonesia.
Well, kembali ke permasalahan tadi. Di satu pihak menyatakan bahwa jenis siaran-siaran seperti infotainment, reality show, harus dimasukkan dalam kategori non-faktual. Walhasil, bisa kita tebak, pihak yang tidak terima langsung melayangkan protes karena menganggap tayangan-tayangan tersebut telah memenuhi Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999, tentang Pers, sehingga menurut mereka, itu layak dikategorikan sebagai karya jurnalistik. Is there something wrong here?
Para pakar "adiluhung" jurnalistik, pemerhati komunikasi massa, penggiat budaya, menggangap tidak mudah memberikan definisi berita yang dalam bahasa Inggris disebut news itu. Lebih-lebih apabila ditanyakan kepada buruh-buruh yang setiap hari bergumul dengan berita itu, maka jawaban mereka tidak seragam kecuali menyatakan: “Saya tahu dan bisa merasakannya tetapi sulit merumuskannya dengan kata-kata.” Persis ketika masing-masing diminta untuk mendefinisikan kata “cinta”, “sayang”, “sahabat”, bisa dirasa tapi sulit dirumuskan. Bagaimana dengan kita, para warga calon buruh di sini, Persma.com? Dan kita tahu, Charles A. Dana(1) pada 1882 pernah menjelaskan pengertian berita dengan menyatakan: “When a dog bites a man that is not news, but when a man bites a dog that is news” (bila seekor anjing menggigit orang, itu bukan berita, tetapi bila seseorang menggigit anjing, itu berita).(2) Pun, analogi ini bisa kita sanggah dengan pertanyaan "how": Bagaimana kalau yang digigit itu presiden atau selebritas?
Kamus Oxford, yang katanya terkenal hebat itu pun hanya mengartikan “news” sebagai a report of, or information about recent events (suatu laporan tentang, atau informasi mengenai peristiwa baru). Lihatlah ada unsur laporan, informasi (pemberitahuan) dan baru di sana!
Untuk lebih memahami isi kamus tersebut, agaknya definisi yang dikemukakan oleh dua orang di bawah ini bisa membawa kita pada pengertian yang lebih utuh. Pertama adalah William S. Maulsby(4) yang menyatakan: “Berita bisa didefinisikan sebagai suatu pentuturan secara benar dan tidak memihak dari fakta-fakta yang mempunyai arti yang penting dan baru terjadi, yand dapat menarik perhatinan para pembaca berita di surat kabar tersebut.”(5) Kedua, Eric C. Hepwood yang memberikan batasan: “berita adalah laporan pertama dari kejadian yang penting sehingga dapat menarik perhatian umum.” Paparan sejumlah definisi tersebut di atas memberikan sejumlah indikator pada apa yang disebut news atau “berita” itu. Indikator-indikator tersebut sedikitnya diantaranya ialah:
- Laporan
- Informasi
- Baru
- Benar
- Tidak memihak
- Fakta
- Arti penting
- Menarik perhatian umum
Nah, di sini, di Persma.com, rekan-rekan (penggiat) media kampus, saya mengajak diskusi untuk membahas permasalahan di atas, ya mungkin, perlu kita kaji kembali guna membuka cakrawala ilmu selebar-lebarnya untuk melampaui keterbatasan kita yang sempit tentang indikator-indikator di atas.
Perlu menjadi cacatan. Karena interpretasi yang akan dikemukakan itu bersifat personal, dan karena apresiasi itu bersifat demokrasi, tidak ada satu pun interpretasi yang benar secara absolut dan tidak satu pun apresiasi yang harus dianggap paling baik. Ayo kita membangun demokrasi dengan cara kita, Persma.com, sendiri, tanpa dibayang-bayang kewajiban menemukan sesuatu kebenaran absolut itu. Saya takut, nanti ada yang bilang semoga hanya PPMI jogja saja yang BEGOO!!! hanya karena saya keliru mengajak rekan-rekan Persma.com berdiskusi tentang hal ini.
Last but not least, saya wajib berterima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh warga Persma.com, seandainya yang mempunyai waktu luang, untuk memberi masukan perihal indikator di atas. Wish you all the best, Persma.com.
Tag: Arti Berita, Indikator Berita, Ajakan Diskusi
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Rizki: Bagus
-
bung hakim: Perlu
-
FF Haq: Responsif
-
Joker:
-
nenden pabelanis: Perlu

Komentar:
tulisan ini ttg apa? he..( maaf agk g nymbung)
apa ini mrupakan tanggapan untuk tulisannya mba fika itu?
@Rizki: Terima kasih, mas Rizki. Saya sudah mencantumkan catatan kaki di laman ketika artikel ini dibuat. Tapi, kenapa kok ndak muncul y, mas...
Maklum saja, saya belum begitu paham dgn Teknologi Web. Salam jabat erat, mas...
http://thinkexist…/201022.html
Kalau diruntut waktunya, memang Charles Dickens lahirnya duluan ketimbang C.A. Dana. He he he...
Maklum saja, mas. Saya baru belajar. Masih perlu banyak melek bacaan buku negeri seberang sana.
Btw, mas...komentari ta...ke-8 indikator di atas!
sama dengan syrat menulis berita , kah itu?
berita, sdh bnyk mmkai kta2 anarkis y..
mngkn itu untuk "menarik perhatian" , memanipulasi fikiran, memprovokasi, itu yg sy tahu tg berita. agak jauh dr indikator2 tsb.
rules will be just a rules.. ha-ha-ha..
Mengenai 9 elemen jurnalistik, buku yang bagus tetapi problem klasiknya berhenti pada pengkaderan/diklat yang blm maksimal. klo saya syarat minim harus khatam tetralogi pulau buru (pram) baru ketemu orientasi menulis berita yg seperti apa????
baru? yang barusan misalnya? kalo lama gimana?
benar? loh, emang ada yang benar-benar benar? kok ada ralat ya?
tidak memihak? kalau tidak memihak kan suatu pemihakan? atau memihak diri sendiri, gak boleh ya? kan harus tidak memihak?
fakta? what the fuck is that?
baru? yang barusan misalnya? kalo lama gimana?
benar? loh, emang ada yang benar-benar benar? kok ada ralat ya?
tidak memihak? kalau tidak memihak kan suatu pemihakan? atau memihak diri sendiri, gak boleh ya? kan harus tidak memihak?
fakta? what the fuck is that?
buku yang pakai amandemen pertama UUD AS sebagai dasar?
hahahaha.....
Indonesia ga punya bung.
sayang sekali.
(komentar dikit ta, ttg indikator2 di atas) Sy pengen berguru dari anda....
@pesisir BJ (what the hell is ur name of): berguru? sayang sekali saya sudah lama kehilangan otak sayang. dan moral. huehehehe
lagipula menurut saya nih, kita gak perlu moral untuk jadi moralis kok.
hahaha
:' ( Mengajari, preettt....so sad, darling. You're just a cheaper.
Silahkan login untuk memberikan pendapat