PPMI 2 Bulan Berlalu 3

Jumat, 16 Jul '10 16:50

 

PENGANTAR

            Shock Culture mungkin itulah sebuah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi sekjend terpilih pada saat kongres X di Jember kemarin. Sama sekali tidak menyangka bahwa status sekjen kota akan berubah menjadi sekjen nasional. Tidak ada rencana ataupun niatan untuk menjadi sekjen nasional karena memang hasil konsolidasi di tingkatan PPMI Dewan kota Tulungagung tidak ada kesepakatan untuk mengajukan kandidat calon sekjen, akan tetapi sesampainya di Jember ternyata rencana awal berubah akhirnya dari hasil kongres menyepakati bahwa sekjen nasional hasil kongres x jember  adalah aku yang pada saat itu masih menjabat menjadi sekjen PPMI Dewan kota tulungagung, walupun amanat itu sangat berat tapi demi PPMI kedepan akirnya saya memutuskan siap berkomitmen, akan tetapi hal itu juga harus didukung ileh semua anggota PPMI seluruh indonesia

Ketika ngobrol-ngobrol di kantin bulek Unej bersama dengan beberapa kawan pengurus PPMI lama, saya ditanya mengenai Visi Besar dan PPMI kedepan mau dibawa kemana (maaf bukan seperti lagunya ARMADA, tapi merujuk pada arah gerakan PPMI kedepan), akan tetapi pada saat itu saya belum bisa menjawab mungkin karena shock culture yang masih melanda, akirnya saya minta waktu untuk mempelajari kondisi PPMI hari ini termasuk kondisi internal di beberapa kota untuk itu aku putuskan  Langkah awal dalam 2 bulan ini adalah bagaimana mengevaluasi yang obyektif yang menurut saya akan memudahkan pemetaan potensi dan pendiagnosaan kendala, dan juga mempolakan srategi-taktik untuk memperbaikinya, untuk menentukan arah gerakan  PPMI kedepan . Hal itulah yang melandasi saya menyampaikan coretan ini selain amanat kongres yang mempercayakan sekretaris jendral kepada saya tetapi juga untuk membahas agenda musyawarah kerja nasional PPMI yang segera kita laksanakan di pulai garam, Madura.

           

Membaca Kondisi Indonesia

Indonesia merupakan negri yang sarat akan kekayaan alam yang tiada bandingannya dengan Negara lain di dunia dan lokasi yang strategis diantara dua benua dan dua samudra yang menyebabkan Indonesia menjadi Negara paling strategis dilihat dari ekonomi maupun pertahanan dan keamanan.

            Tetapi dengan kekayaan yang dianugerahkan kepadanya tak membuat Indonesia mampu untuk menjadi Negara maju. Tetapi, kekayaan yang diamanatkan kepadanya menjadi sebuah boomerang yang menjadikan bangsa Indonesia terkenal sebagai bangsa yang rakus dan tamak. Budaya korupsi, kolusi dan nepotisme yang telah lama mengidap bangsa Indonesia seolah menjadi penyakit tanpa obat.

Reformasi tahun 1998 yang diharapkan mampu untuk memberikan sebuah harapan baru bagi terciptanya masyarakat adil, makmur dan sejahtera seolah tinggal harapan saja. Pergantian pucuk pimpinan negeri ini tak membuat sebuah harapan baru bagi kesejahteraan masyarakat di tingkatan bawah. Reformasi 1998 seolah menciptakan rezim baru dalam pemerintahan yang tak ubahnya seperti munculnya ombak lautan yang luas.

Gerakan Mahasiswa yang menjadi garda terdepan dalam reformasi seolah kian kehilangan taringnya. Mahasisiwa terjebak pada budaya hedonisme, apatisme, pragmatisme, oportunis dan kata-kata asing lain yang bermakna agak miring yang dapat mewakili kondisi mahasiswa saat ini. Dan parahnya lagi mahasiswa sebagai agent of control terjebak dalam diskusi panjang mengenai arah gerak perjuangan dan pergerakan mereka. Dari hal inilah mereka mulai lupa akan realita-realita yang terjadi di sekitar mereka.

Pers mahasisiwa sebagai salah satu entitas gerakan mahasiswa disadari ataupun tidak juga mengalami fenomena tersebut. Pers mahsiswa seolah terbawa akan kondisi-kondisi umum yang dialami oleh gerakan mahaisiwa lainnya. Parahnya lagi, mereka seolah kehilangan karakter dan hakikat dari pers mahsiswa itu sendiri. Mereka terbawa term pers umum yang lebih mengedepankan sisi hiburan tanpa mencoba untuk meraba dan menjamah permasalahan-permasalahan yang ada di sekitarnya.

Media-media dengan gencarnya memberikan alokasi yang banyak terhadap berbagai jenis hiburan bagi masyarakat. Dengan kondisi inipun masyarakat dengan bodohnya secara sukarela mau disihir oleh berbagai jenis hiburan yang dalam berbagai ilmuwan di dunia sebagai efek kotak sihir.

Fenomena ini sangat menarik jika kita melihat lebih jeli dengan maraknya konglomerasi media oleh kalangan pemodal. Media disalahgunakan untuk memciptakan opini public yamg diarahkan untuk kepentingan pemodal. Kita ambil contoh perseteruan antara aburizal bakrie dengan surya paloh dalam pemilihan ketua umum partai golkar bias dilihat dari perang media antara TVONe yang dimuliki oleh aburizal bakrie dengan METROTV yang dimiliki oleh surya paloh. Konglomerasi ini juga berdampak pada prioritas pemberitaan dan sudut pandang berita yang ditampilkan. Dalam kasus lain seperti luapan Lumpur lapindo tidak menjadi bahasan utama dan penting bagi TVONE karena PT minarak lapindo sendiri dimiliki olek orang yang sama.

            Yang menjadi bahasan menarik adalah ketika berbagai media berlomba-lomba untuk menaikkan ratingnya dengan suguhan-suguhan yang menarik seolah-olah akan menjadi momok tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Asumsi ini berpijak pada realita bahwa fenomena-fenomena social dan ksaus-ksusu di masyarakat yang notabene tak dianggap menguntungkan dan tidak menaikkan rating media tersebut akan di tinggalkan. Padahal belum tentu kasus-kasus tersebut tidak berdampak luas. Isu komersialisasi pendidikan (lewat BHP, BLU, SBI, dll), kenaikan Tarif Dasar listrik (TDL) yang akan disusul dengan kenaikan BBM seolah terpinggirkan dengan kasus video mesum artis.

Dalam kasus ini tidak hanya dapat ditinjau dari itu saja tetapi bagaimana politik media itu berjalan. Silih bergantinya topic berita seolah melupakan topic-topik berita terdahulu yang seolah belum tuntas penanganannya tetapi telah terhapus dan terlupakan oleh topic-topik berita yang hangat dan sengaja di booming-kan oleh media.

 

Strategi gerakan PPMI kedepan,

Menurut saya langkah kongkret yang harus diambil persma hari ini adalah bagaimana mengembalikan peran pers sebagai media control menuju perubahan social kebebasan Pers yang kebablasan bisa dikatakan berakibat pada Memudarnya Fungsi Pers sebagai control social. Media hanya mengejar tingkat uptoodate/news dalam pemberitaan mengesampingkan berita yang sifatnya penting dan fundamental karena dianggap basi dan biasa. Mungkin inilah saatnya PPMI mengambil peran dalam mengkonter isu-isu kerakyatan. dengan demikian PPMI responsif terhadap berbagai fenomena sosial politik yang berkembang. tidak reaktif atau spradis. Jangan sampai proses demokratisasi yang sedang berlangsung lagi-lagi jatuh ke tangan rezim yang fasis. Kekuatan demokratik harus dibangun dari massa yang tersadarkan. Kata kunci dari semua itu adalah pemaksimalan fungsi tersebut sangat signifikan dan mendesak terlebih bila dikaitkan dengan ambruknya ketiga pilar demokrasi lainnya, legislatif, eksekutif, yudikatif. bagaimana PPMI mempunyai term tersendiri yang berbeda dengan pers umum.. Jangan biarkan rakyat memperoleh informasi seadanya dari pers umum yang sudah terkontaminasi dengan kepentingan ideologis media. Bacaan yang bermutu dan membebaskan akan merangsang dialog wacana sehingga berpengaruh positif bagi proses demokrasitis.

Walaupun Perjalanan satu periode ini harus diakui sangat berat sebagai recovery kondisi PPMI saat ini serta melanjutkan tongkat estafet perjuangan selepas kepengurusan PPMI sebelumnya, untuk itu langkah awal yang menurut saya kita tempuh adalah Pemantapan posisi PPMI sebagai salah satu organisasi Pergerakan dengan cara Optimalisasi kinerja PPMI baik Nasional maupun Kota, Memperkuat wacana tentang PPMI dikalangan anggota, Perluasan wacana PPMI kepada LPM yang belum tergabung dalam PPMI, termasuk mengenai bargain atau daya tawar PPMI terhadap anggota (dalam hal ini LPM)  akan tetapi semua itu tidak terlepas dari kekompakan para pengurus PPMI.

Sebenarnya dari kepengurusan kemarin kita sudah punya bekal penting yaitu Buku Putih sebagai penguat wacana mengenai PPMI dan juga media dalam hal ini Persma.com, kekutan PPMI adalah dengan Media sebagi ujung tombak perjuangan, akan tetapi Media tidak akan bejalan tanpa adanya isu yang kuat untuk melakukan perjuangan maka dari itu perlu adanya dukungan dari BP lain yang mana kesemua itu merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan   

 Pembentukan struktur kepengurusan yang belum tuntas tentunya akan menghambat kinerja yang diamanatkan dalam kongres. Dan mengingat akan dilaksanakan agenda mukernas pastilah disini kita perlu adanya suatu kesepahaman bersama bagaimana PPMI kedepan dan kita yang perlu kita ingat bahwa organisasi ini milik kita bersama dan tentunya kitalah yang harus memikirkannya. Tentunya dalam melanjutkan tongkat estafet kepengurusan periode lalu bukanlah tugas sekjend saja tetapi bagaimana struktur kepengurusan sesuai dengan AD/ART organisasi kita ini mampu kita ciptakan untuk membantu kinerja sekjend dalam melaksanakan amanat yang diemban dalam kongres.


Tag: Nikmatnya Jika Sedang Ereksi

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Arya Dwipangga 0 0
PPMI 2 Bulan Berlalu belum pernah pakai jurus mabuk.
Rizki 0 0
Sekjendnya CurcoL : )), yang jelas orientasi gerakan kita adalah gerakan media, jadi yok opo2 media kita dulu yang harus masif, ayo budayakan rajin menulis[termasuk saya tentunya] : D
Boyd Trayutama 0 0
kayakx udah taubat mabuk dia mas...

Silahkan login untuk memberikan pendapat