Tatkala Idealisme Menempuh Jalannya yang Berbeda 1
Sabtu, 10 Jul '10 11:30
Terkadang timbul pertanyaan pada diri tentang apa yang selama ini kita perjuangkan. Apakah perjuangan ini memang baik dan benar atau hanya sekedar kebenaran sesaat yang mampir karena ada yang berkata ini benar. Kebenaran yang mungkin hanya mampir itu masuk satu paket dari pandangan abstrak hingga teknis perlakuannya. Kita sebagai materi yang berdiri sendiri terkadang tak punya ruang untuk mendeviniskan kebenaran tersebut. Pada saat kemampuan diri untuk memaknai apa yang yang selama ini dianggap kebenaran itu maka akan timbul gejolak besar. Gejolak antara bertahan dengan menutup kesadaran diri atau berani sadar namun dengan segala kutuk yang kelak akan datang begitu kuat. Begituah setidaknya jalan pemikiran bagi mereka anggota Persma yang menurun keaktivannya.
Jika bicara tentang idealisme mahasiswa, semua sama, semua memimpikannya, dan semua berusaha mencapainnya. Ketika bergabung dalam sebuah Persma, semua punya impi sama untuk menciptakan keadilan yang seadil-adilnya bagi semua manusia. Pandangan itu lantas mengalami penurunan-penurunan makna kepada rumus hinga samadengannya. Bicara ihwal keadilan maka akan ada satu, dua, lebih rumusnya. Ada yang meyakini keadilan itu ketika χ=γ; adil itu sama rata. Kemudian banyak lagi banyak rumus-rumus lainnya.
Terkadang terjadi penyanderaan berfikir dengan memaksakan semua untuk memakai dan meyakini rumus yang sama. Ketika berbeda bisa dikatakan ia tak senada dan 'kafir'. Karena tak senada maka dibuat sebuah formula agar keyakinan itu sama. Di situlah proses kaderisasi. Dengan berbagai bumbu dan teknik memasak keyakinan, maka keluguan akhirnya bisa beralih ke satu serenada.
Saat semua satu nada dalam satu rumus lantas ada semacam translasi makan abstrak keadilan menuju cara-cara menempuhnya. Di sinilah lantas diumbar klenik dan mistis atau mungkin romantisme tentang jalan-jalan heroik yang katanya pernah merubah dunia. Semangatpun membumbung. Para kaderpun menjadi begitu militan untuk memahami keadlian dan lantas berusaha mencapainya. Cara yang ditempuh 'guyub', kompak, dan bisa mengalahkan semua keyakinan yang hadir sebelumnya.
Dalam kenyataan, para kader akhirnya percaya bahwa perjuangan aktivisme lebih penting ketimbang duduk mendengarkan dosen tak 'mutu' dikelas. Lebih penting pula dari pada bersabar untuk mengikuti alur belajar yang telah tertempa secara sistem sejak adanya sejarah manusia. Alasannya katanya, pendidikan formal itu 'gagal'. Pendidikan formal hanya memenjarakan kemerdekaan berfikir manusia. Namun jika menengok sejarah filsafat manusia, dari tak bisa makan hingga mampu menciptakan makanan dan baru setelah itu bisa nyaman berfikir tentang politik dan kedailan , dan seterusnya, ada perekembangan berfikir yang harus disistemkan dalam sebuah kurikulum dan diwariskan kepada semua manusia pada semua peradaban. Itulah pendidikan formal pada prinsipnya. Dan menjadi manusia tak bersejarah dan tak berperadabanlah ketika proses berfikir dipaksakan dimulai dari '0' agar katnya mencapai kemerdekaan berfikir.
Pada saat proses kaderisasi itu berlangsung, sebenarnya telah terjadi mistifikasi pemikiran yang pada saatnya nanti hanya akan menjadi bom waktu yang pasti meledaknya. Pasti semua mengenal pemikiran Freire, namun nampaknya hanya pada istilah-istilah menterngnya saja. Istilah 'khas mahasiswa' agar seperti mahasiswa ketika berdiskusi atau menulis. Pemikiran Freire tak mampu diterjemahkan dengan konteks saat ini dengan berbagai variable yang pula kekinian. Jika selalu cara yang dipakai adalah menenggelamkan pemikiran manusia pada kesadaran yang tak tumbuh dari kesadarannya sendiri, saat si manusia menemukan makna lain dari kebenaran tersebut maka ia akan mental. Itulah paling tidak kondisi yang terjadi saat satu-persatu Presma dan anggotnya koleps.
Seharusnya, sebagai badan, dalam kaderisasinya, Persma hanya menerangakan soal makna keadilan pada 'atomnya'. Setelah itu semangatilah para kader agar mencari makna turunan hingga formulasinya sendiri. Ketika formulasi itu berbeda, biarkannlah. Tentu mereka akan tumbuh menjadi bagaimana seharusnya mereka. Semua sepakat jika Persma bukan kursus jurnalistik. Biarkanlah para aktivis Persma memilih jalannya sendiri untuk menuju 'keadilan' yang pada dasarnya sama. Karena hal yang seringkali dilupakan adalah bahwa kita ini mahasiswa yang masih harus belajar dengan apa yang telah diwariskan manusia terdahulu agar kita mampu menciptakan sesuatu yang baru. Janganlah berlebihan.
Tag: Refleksi Kaderisasi
Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat