Seni Mencari Tuhan 6
Kamis, 8 Jul '10 00:17
( Tulisan untuk dia, yang sedang dalam pencarian )
Ia hidup dan tumbuh dalam keluarga yang cukup religius, sejak kecil ia sudah terbiasa dengan berbagai adat – adat agamis, dengan segala atribut-atributnya. Oh iya, keluarganya hidup dalam dua agama yang berbeda, ayah dan ibu berbeda keyakinan. Namun ia mengikuti keyakinan ayah saja, sejak dari dulu. masih kecil ia pada saat itu, pikiran belum dapat mempertanyakan banyak hal diluar kemampuan. Jika difikir-fikir, ia senang menjadi anak kecil, tidak selalu dihantui pertanyan-pertanyaan pengusik diri sendiri, dapat hidup dalam dunianya sendiri.
Selama ini saya ia pernah memikirkan berbagai perbedaan keyakinan yang ada dan terjadi dalam hidupnya. Itu mungkin karena ia mempunyai fondasi kuat untuk tidak mempertanyakan hal-hal tersebut. Namun seiring waktu berjalan, ia banyak bertemu orang-orang, membaca banyak buku-buku, melihat berbagai realita, hal itu yang sempat meruntuhkan apa yang selama ini ia yakini.
Ia teringat , saat pertama kali dirinya dihadapkan dengan senior yang yakin bahwa Tuhan itu tidak ada. Betapa sang senior banyak berbicara tentang ideologinya, ia bilang bahwa manusia ada karena memang sudah tercipta seperti itu, kemudian mati ya sudah itulah akhir hidupnya. ”Tuhan ada karena manusia mengadakannya” itu yang si senior tegaskan. Kemudian sang senior mulai dengan fakta-fakta yang menguatkan pendapatnya itu. Tentu saja banyak yang menanggapi apa yang si senior jelaskan. Untuk pertama kalinya ia berpikir tentang ”hal itu”.. iya itu pertama kalinya ia goyah. Akhirnya, pembicaraan seperti ini , sudah bosan didengarnya.
ia jadi teringat kembali suatu kejadian, ketika ia mengikuti suatu acara bincang-bincang lintas agama. Hahaha,, itu adalah seminar terburuk yang pernah saya ikuti, pikirnya Untung hanya bayar lima ribu rupiah, jika lebih mahal akan saya bakar langsung tempatnya,, ( mungkin ) pikirnya lagi. Begini kawan, tema acara tersebut adalah bagaimana dua agama yang menjadi tokohnya dapat menemukan titik temu. Selintas membaca brosurnya, ia sangat tertarik, maka dari itu ia menghadirinya. Dengan maksud, agar ia mendapat pencerahan atau imanku lebih diteguhkan. Bukan kebenaran yang ia dapat, tetapi pembenaran dari masing-masing kelompok atau golongan tersebut. ia jadi tidak simpatik. Ia mengikutinya hanya sekitar sejam, lalu pergi. Kalau sampai selesai bisa-bisa dia jadi gila.. hahaha.
Saat ini ia seperti seorang anak yang berada pada persimpangan jalan, didepanku ada dua rambu arah jalan. Yang satu kekanan, yang satu kekiri,, eh bukan ada lagi arah ketas, ada juga kebawah, ada yang tenggara, barat daya, timur laut..?? ah, semuanya ini membuatnya tak tentu, kawan..
Ia berteman dengan si agamis, ada juga dengan si agnotis, atheis pun ada. Seringkali ia melihat si agamis berlaku tidak seperti punya agama, bahkan seorang aktivis suatu golongan agama tertentu. Begitupula dengan si agnotis, betapa si agnotis mencari apa itu Tuhan, atau Budha, Yesus, Allah SWT, Hyang Widhi, dengan berbagai buku-buku yang dibaca, akhirnya cenderung kesalah satunya. Lalu si atheis, ia lucu . pernah suatu waktu mendapat suatu rejeki yang membuatnya sangat senang, lalu dari mulutnya mengucap syukur dengan berkata “ alhamdulilah..” pernah juga dengan “ puji tuhan” . banyak hal yang saya belum bisa mengerti, kawan.
Namun, ia tidak lagi menjadi anak kecil yang tersesat di persimpangan jalan itu. Entah agamis, agnotis, atau atheis kah dirinya. Tidak usah mengajarkannya tentang ajaranmu, tidak usah susah meyakinknnya untuk percaya bahwa Ia ada atau tiada. Kepercayaannya, tidak pada filosofi mu atau filosofi kalian.. melawan hati nurani adalh kesalahan terbesar. ia pernah melakukannya, dan itu tidak enak rasanya.
Hari ini dirinya bisa percaya, dulu ia sangat yakin. Besok , ia meragukannya besoknya lagi saya meminta maaf. Munafik! Iya, dirinya sadar akan itu...
Tapi itu seni bukan? , ia menganggap itu sebagai seni kehidupannya.. dimana saat ini ia bisa berfikiran layaknya seorang musafir atau seorang biarawati.. lalu semenit kemudian kosong, dan hampa.. melihat realita hidup yang tidak seperti yang ia yakini. Membuatnya tidak dapat mempercayai satu orang pun di dunia ini. Lalu yang paling indah, saat dirinya merasa indah, karna mempunyai teman, keluarga, sanak saudara. Karena jika, mencari apa itu Tuhan adalah seni kehidupannya maka ia merasa ada dan hidup.
Pencarianmu adalah sebuah seni.. kawan,,
sungguh Indah... Buku-buku dan perdebatan jadikn sebagai bahan renungan ,jika kau berteguh hanya pada itu, hanya akan menambah rambu-rambu arah pada persimpangan jalanmu. Temukan jalanmu sendiri, maka kamu akan menemukan apa yang kamu cari. Dalam bentuk apa, sepeti apa, atau bagaimana ..? hanya kamu yang tau.
( catatan untuk seorang teman )
Tag: religi
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
bung hakim: Responsif
-
FF Haq: Bagus
-
BJ: Responsif
-
Wahyu Eko P: Penting

Komentar:
jadi ingat seorang kawan ketika ikut seminarnya emha ainun najib dlo, dia maju bertanya dengan pede dan mengenalkan diri dengan nama "Muhammad budha kristus".
sontak peserta seminar langsung GEEEEEER
Negara dan birokrasi menganggap agama sebagai syarat wajib akan semua hal. Menyedihkan.
Mungkin karena Pancasila mengatakan bahwa "Ketuhanan yang Maha Esa" pada sila pertama.
itu sja sbnarnya ,, =p
Silahkan login untuk memberikan pendapat