Nikmatnya Jika Sedang Ereksi 11

Kamis, 8 Jul '10 04:17

Jika aku menatap wajahnya, memelototi tubuhnya, mencium semerbak harum bau lehernya, mengusap coklat mentah kulitnya, akh…serasa aku menikmati setetes madu surga.

Namun jika aku cium bibir semerah jambu itu, memeluk lekuk tubuh gitar Cina itu—mendekapnya erat, membaringkannya di atas ranjang cinta, melepas baju tipisnya, membelai rambutnya, turun dan…wao, payudara itu sebesar mangkok mie ayam, sekenyal bak pao, dan perut itu seperti buncit perut aktres film India, pinggulnya seramping gadis belia kembang desa di Jawa. Turun lagi, dan wah—benar kata orang—‘rawa-rawa’ itu ternyata gelap, tapi jika dibuka sedikit demi sedikit daging merah itu seakan menarikku, menyeretku agar memasukkan…lagi dan lagi. Lagi dan lagi. Lagi dan lagi.

Barisan kata-kata di atas terinpirasi dari coretan cerita buku-buku porno yang pernah aku baca semasa SMA dulu. Dan aku menambahkan sedikit ramuan dalam adegan film porno saat masih menjadi mahasiswa sekarang ini.

Itulah titik-titik kenikmatan; in the name of pleasure kata orang, yang artinya: mending dinikmati saja. Tapi kenikmatan, yang diolesi kepuasan-kepuasan, merangsang orang untuk menemukan cara-cara baru mengekspresikan diri menuju hasrat seluas jagad itu; tanpa batas.

Namun apa yang terjadi jika kenikmatan itu dibatasi dengan sejarah bentuk-bentuk yang diharamkan untuk dijamah? Pasti tubuh akan mati rasa. Dan sekaligus bukti ketakutan-ketakutan suatu masa untuk meraba perkembangan kenikmatan yang panjang.

Maka butuh mengolah yang namanya rasa. Anda juga tentunya merasakan ‘rasa-rasa’ semasa menjadi mahasiswa, khususnya saat di ‘pers mahasiswa’. Aku kira Anda pasti sedang memburu kenikmatan saat-saat itu, mungkin sampai sekarang; mengais kenikmatan menuju kepuasan. Dan sifat dasariyah insani, ini pasti, jika tidak menemukan akan menjajaki hal-hal lain sebagai pengganti titik klimaks kepuasan.

Seperti kebebasan pers mahasiswa yang selalu digaungkan; Kebebasan yang seakan-akan pemberian Tuhan, anggap saja begitu, kasarannya.

Dan juga menciptakan isu dalam gugus besar, membuat kita dulu dan sekarang berpikir perlu ‘menggemukkan’ diri, agar tampil montok, mungkin.

Serta cita rasa menjadi ‘pers alternatif’ tak akan pernah habis diperbincangkan.

Tiga paragraf di atas itu seperti mimpi di kala pagi dan petang. Tapi itu perlu, ya, untuk menuju kenikmatan dan kepuasan apapun harus dilakukan.

Okelah, jika kenikmatan dan kepuasan itu sudah tercapai, andai kata, lalu? Pucuk itu memang perlu dicapai, dan pada saat yang sama sesekali perlu dipangkas, memunculkan hal baru, lagi, lagi, dan lagi.

Grafik orgasme pers mahasiswa terkadang naik-turun. Karena tubuh butuh sehat, ia perlu mengkonsumsi banyak hal yang mengandung gizi, ‘olahraga’ tiap hari, mengkonsumsi ‘makanan dan minuman’ yang mengandung nutrisi dan zat besi, serta perbanyak makan buah-buahan yang penuh vitamin tiap hari.

Turuti saja kata Dokter Boyke: akh…ikh…ukh…okh….

Benar, betapa nikmatnya jika sedang ereksi.


Catatan: boleh ngeres, tapi tangan tetap di atas, ya.

 


Tag: Pendidikan, Pers, Mahasiswa, hukum, jurnalistik, seks

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Fandy Lasinrang 0 0
ndak ikut ke ponorogo aku..ndak dapat pinjaman...

eh, tangan tetap diatas, waduh! sangat tersiksa donk!!!

iya....tidak...iya...tidak....iya,,,, tidak...iya...tidak...
Wahyu Eko P 0 0
haaaaaaaaaaaaaaaaa
Rizki 0 0
naik...turun...naik...turun....lalu Muncrat wow : D
FF Haq 0 0
Jangan lupa diruangan tertutup dab : p
andi_tulungagung 0 0
kebebasan mungkinkah???bahkan sejak lahir, manusia mempunyai aturan terikat oleh aturan alam dan aturan yang seharusnya dibuat untuk mengharmoniskan, dalam proses kelahirannya pun manusia harus melalui vagina dulu itulah aturan
Arya Dwipangga 0 0
Seratus Kurowo dilahirkan dari telinga. Sekarang juga banyak bayi lahir dari perut. Vagina hanya salah satu jalan saja. Masih banyak yang lain. Seingatmu kamu lahir keluar lewat apa?
si berang-berang 0 0
tapi paling enak masuk lewat va--na..
hehe
arman dhani bustomi 0 0
alah raaja coli!
riwut purdianto 0 0
kurang hooot...........................
diaz..bram 0 0
siiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiip bisa di jadikan tema kongres XI
Arya Dwipangga 0 0
dhani saja cukup: bila tak lihat-lihat, JemBoth-Ku kok kayak rambuT-mu, ya.

Silahkan login untuk memberikan pendapat