agar terlihat beda 2

Rabu, 7 Jul '10 16:48

huuuuuuuuaaaaaaaaaaaaaaaah.... lama banget rasanya ga ada nulis di persma.com.

mungkin aku emang gak cocok jadi penulis berita, karena memang aku lebih suka sastra. fantasi, imajinasi, dan khayalanlah yg mampu membuatku berfikir lebih luas. tapi setelah melihat kehidupan nyata rasanya ingin sekali membagi cerita dengan orang dan lingkungan sekitar.

ternyata nulis itu emang sulit, apalagi ketika kita harus menyajikan tulisan tersebut buat khalayak ramai. ada berbagai perasaan yg muncul ketika tulisan kita dibaca. kadang malu dan kadang pula bangga. malu karena takut jika menulis dengan miskin kosakata dan bangga karena dengan dibaca saja itu udah menunjukkan bahwa tulisan kita dihargai oleh orang lain. aku masih bingung sama wartawan yg biasanya memberitakan berita gosip, apakah mereka juga bisa disebut wartawan. padahal sejauh yg kutahu pekerjaan seorang wartawan adalah mewartakan berita ataupun kejadian tanpa mengurangi dan melebih-lebihkan berita tersebut. terkadang di Infotaintment berita ada saja yg lebih dicondongkan di dalam beritanya padahal hal tersebut tak terlalu penting untuk disampaikan. ketika aku berfikir, apakah ini yg disebut dengan angel berita. tapi aku rasa hal yg tak terlalu penting itu malah membuat berita semakin kacau karena akan membuat berbagai opini yg saling bertentangan di masayarakat. sebenarnya bagaimana sih cara mengambil angel yg baik di dalam memeberitakan suatu kejadian, apakah setiap media memang harus mengambil angel yg berbeda-beda agar terlihat beda


Tag: fix

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

bung hakim 0 0
salam dangsanak.............
Buku favorit ku Tetralogi nya Pram, cerita sastra indonesia yang membongkar sendi-sendi kehidupan abad 19 dan juga perjalanan "Minke" dari pengagum sastra Multatuli menjadi seorang Jurnalis dan memulai Pergerakan. (Kamu wajib baca tuh) : D
Paling menarik memang menentukan angel berita ketika kita rapat redaksi (RR) 1, RR 2, RR3 dst...sampe naik cetak. Diskusi yang alot, ada yg slengean, asal bunyi (asbun) ada yang keluar konteks bahkan ada yang sedikit keras kepala juga, tetapi bisa diselesaikan kok selama pasukan redaksi kita mempunyai kultur.
Kultur redaksi inilah yg menjadi inti tetap eksisnya perma sekaligus mjd ciri yang khas masing2 kampus.
IAIN beda, UAD lain lagi UNEJ tidak sama.
kaya nonton TV juga beritanya sama tapi sajiannya berbeda2 rasanya, iya klo???? : )

FF Haq 0 0
Karakter itu nperlu dalam sebuah media. Karena akan menetukan dari sasaran sirkulasi. Mudahnya kita melihat antara persma dan media lokal daerah. Persma adalah untuk civitas kampus dan sekitarnya, sedangkan media lokal adalah untuk masyarakat daerah tertentu. Walaupun terkadang beritanya layak untuk dibaca untuk siapa saja, namun yang menjadi sasaran baca sesungguhnya siapa? Kita harus memnentukan itu agar tidak terjadi kesalahan sirkulasi media.

Pernah saya berbincang dengan salah seorang teman dari LPM keadilan fakultas Hukum UII (Universitas Islam Indonesia), Ikhwan Sapta Nugraha biasa dipanggil genjik. Dia mengatakan tidak mengadakan acara untuk pelepasan majalah mereka karena majalah itu akan diperuntukkan masyarakat yang dekat dengan apa yang teman-teman ulas .

: p

Silahkan login untuk memberikan pendapat