Kasus Trivia Berjudul Bahasa Tulis 6
Selasa, 6 Jul '10 21:36
Perkenalkan, saya mahasiswa di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta. Dulu, semasa SMA, saya masuk jurusan IPA. Nilai Bahasa Indonesia saya sewaktu ujian nasional tak jelek-jelek sekali.
Tapi bergulat di persma-lah yang bikin saya punya buku Ejaan yang Disempurnakan (EYD). Ketika sedang nguli sebagai redaktur pelaksana buletin kami, EXPEDISI. Saya insyaf beda tanda titik dua dan titik koma juga ketika dievaluasi para senior saban buletin terbit, dua minggu sekali.
Saya baru tahu kalau sehabis tanda tanya dan tanda seru, kita harus memulai kata dengan huruf besar. Bahkan, ternyata saya jutaan kali membuat kesalahan telah meletakkan tanda titik atau koma setelah tanda petik (pertanda kalimat petikan dari seseorang). Ya, baru-baru ini saja saya insyaf.
Saya, mungkin telah ceroboh, menarik kesimpulan bahwa banyak pegiat persma yang terjebak dalam kesalahan menulis. Tata bahasa, apalagi bahasa Indonesia, sungguhlah mbulet. Tak mudah dipelajari, apalagi dipahami. Bahkan, para mahasiswa bahasa saja jengah dengan topik lingusitik dan turunannya ini. Saya pikir, kita pun tak merasa bahwa letak koma atau titik begitu penting. Toh, yang penting isi tulisan. Makanya, saya sempat "tenggelam" dalam sebuah pembicaraan yang ramai, ketika menggugat orang yang suka pakai tanda kurung. Ini bukan pembicaraan yang menyenangkan dan bisa menonjolkan pengetahuan filsafat. Tak ada yang memedulikan pertanyaan saya.
Ketika para guru bahasa Indonesia dan lembaga pendidikan yang mecetak guru bahasa Indonesia dijadikan kambing hitam atas gagalnya pendidikan bahasa Indonesia sejak jenjang SD, saya takut, kita, para penguasa media (meskipun bukan yang punya pengaruh besar) turut bersalah.
J.S. Badudu bukanlah asal memberi judul bukunya Inilah Bahasa Indonesia yang Benar. Bahasa Indonesia yang baik dan benar seperti jadi utopia saja, sekarang ini.
Anda bosan? Sudah saya bilang, ini pembicaraan membosankan yang tidak begitu bermakna. Bila yang dimaksud makna itu adalah hal-hal besar. Entah, apa yang besar itu. ini kasus trivia yang hanya dilirik sedikit oleh para editor amatir di persma. Saya pun tak menunjukkan bukti-bukti kuat guna meyakinkan Anda atas penda pat saya. Biarlah kita merenung sesaat. Ini tulisan diskursif.
Saya bukannya hendak memaksa Anda membeli buku EYD, mengoleksi Kamus Besar Bahasa Indonesia yang berjilid-jilid itu atau mencoba mengenal apa itu Tesaurus Bahasa Indonesia. Apalagi menyuruh Anda memperbarui piranti lunak untuk program MS Word yang bisa mengoreksi otomatis kesalahan penulisan dalam bahasa Indonesia. Ini bahkan tidak bisa dianggap seruan kerja pro-bono untuk memerbaiki kesalahan dalam berbahasa di masyarakat. Terlalu tinggi.
Saya cuma mau cerita. Sekarang saya sedang belajar menulis dalam bahasa Indonesia yang baik, mengurangi sedapat mungkin serapan asing, apalagi menyebut kata asing, dan memperbanyak kosakata bahasa Indonesia. Biar tidak menyebut unduh dengan download lagi, bosan dengan borring, atau telepon genggam dengan handphone. Biar besok saat skripsi tidak repot revisi karena terlalu banyak kesalahan redaksional. Toh, saya sudah tidak menggarap buletin lagi, tidak jadi redpel lagi.
Oh, saya baru ingat, sekarang saya redpel majalah. Astaga.
Akhirul kalam, saya punya pertanyaan untuk semua pemimpin redaksi di seluruh persma yang bergabung di PPMI. Adakah perbedaan ketika menulis judul buku dan judul artikel? Sila bila sudi menjawab, saya tunggu. Terima kasih.
Tag: Bahasa
Terkait:
-
Selamatkan Bahasa Indonesia!
Jumat, 20 Mei '11 15:07 -
Musik Rock: Musik Keras atau Musik Mengayun?
Selasa, 25 Jan '11 10:00 -
Bahasa Inggris (bukan) Nilai Tambah
Minggu, 20 Jun '10 15:32
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
bung hakim: Responsif
-
FF Haq: Bagus
-
BJ: Responsif
-
dewi alfath: Bagus
-
Kusbono Ardinata: Penting
-
Joker: Responsif

Komentar:
[segitu dlo ilmu ne wes tekan kono wae, ra nyandak bung]
Silahkan login untuk memberikan pendapat