Tukang becak 0
Minggu, 4 Jul '10 19:07
Pada suatu sore aku berjalan-jalan di MAlioboro, salah satu pusat perbelanjaan dan wisata di Yogyakarta. Ketika ingin menyeberang jalan, motorku berpapasan dengan becak yang kelihatan sepi penumpang. Tampang si tukang becak juga tak kalah dramatis. TAmpang yang menyiratkan beban hidup yang tak ringan. Dalam hati aku berpikir, betapa ibanya nasib si tukang becak. Begitu juga nasib para gelandangan yang membuncah di jalanan. Tapi, mengapa dengan demikian beratnya beban hidup tak terbersit sedikitpun dalam iri mereka bahwa mereka ingin merubah nasib ? Mengapa mereka dengan tegasnya menolak program transmigrasi yang dicanangkan pemerintah padahal hal itu bertujuan untuk memperbaiki nasib mereka ?
Mungkin semua pihak tidak ada yang mau disalahkan. Semua selalu merasa memiliki keputusan yang paling bijak dari pada orang lain. Padahal andai saja ada yang mau menerima dan merenungi pendapat orang lain kenyataannya tidak menjadi begini. Si tukang becak mungkin tidak akan sepi tanpa penumpang, para gelandangan tidak akan kelaparan, padatnya penduduk akan berkurang, pengangguran mendapatkan pekerjaannya, hidup pun terasa lebih nyaman.
Tag: Transmigrasi
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
FF Haq: Bagus
Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat