Tanggapan Saya untuk Tulisan "Semua Salahku (Maaf)" 5
Kamis, 1 Jul '10 13:30
Awalan;
Ehem..ehem..agak berat awalnya saya menulis tulisan ini. Kenapa? Saya punya sedikit cerita. Waktu itu Lembaga Pers Mahasiswa se Jatim kumpul di Malang untuk berkonsolidasi, yang kita kenal dengan Rembug Jatim. Sekjend Nasional PPMI yang saya lupa namanya, berkata; "Rembug Jatim ini sengaja kita gagas untuk mengfollowup, program kerja nasional dari BP Nasinal Litbang, Advokasi, Media, dan Usaha. Harapannya, Rembug Jatim bisa menjadi peng"awal" jalannya program-program BPN agar semua juga ikut bergerak. Tidak ada yang saling menunggu!" sambil menyeruput kopi dalam air mineral kecil di depannya.
Lalu masuklah dalam tahapan followup proker Litbang Nasional, si Sekjend berkata "Nah, mumpung kita lagi kumpul, saya ingin mendengar permasalahan apa saja yang terdapat di masing-masing LPM ini?" katanya lagi sambil mengernyitkan alisnya.
Saat ditanya mengenai permasalahan LPM, hampir semua LPM terdiam. Tidak berani bicara secuilpun, kalaupun ada, mereka hanya menyinggung masalah pengaderan dan masalah pengembangan SDM serta jaringan juga gerakan. Malah utusan dari LPM Ecpose FE Unej dengan tegas berkata "Pada dasarnya LPM saya tidak ada masalah internal, semua aman! Yang bermasalah hanya jaringan keluar, kami butuh teman untuk bergerak dan berkonsolidasi, hanya itu masalah kami". Ternyata, si Wakil LPM Ecpose ini sebelum bicara, dia di SMS oleh kawan-kawan Ecpose yang menjaga benteng. Isi SMSnya; "Cuy, ndak usah obrolin masalah internal di situ yak! Malu kita, ntar dikirain kita kolaps dan ndak bisa selesaikan urusan internal. Ndak bisa urusi diri sendiri. Kita ditertawai nanti! Masalah internal biar kita yang tanggung! Oyi!" begitu isi sms yang cukup panjang.
Nah, itu kenapa saya agak ragu nulis tulisan ini, ntar dikirain ikut campur rumah tangga orang. Tapi saya ndak bermaksud begitu! Saya hanya ingin berbagi pengalaman saja. Bukankah kita wajib saling mengingatkan satu dengan lain? Manusia itu tidak sempurna. Berikut tanggapan saya!
Dari segi tulisan;
Pertama, tulisan ini penuh pelampiasan rasa. Tentunya pelampiasan rasa itu wajar, bukan manusia namanya kalau tidak ada "emosi". Kedua, tulisan ini adalah tulisan yang sepi dan sunyi. menggambarkan kesendirian si penulis dalam merasionalkan gejolak mudanya. Keempat, tulisan ini sarat tuntutan dari penulis, untuk dianggap eksis (ada). Kelima, penulis pada dasarnya ingin curhat.
Dari segi orang yang menulis;
Penulis pernah "berproses" dalam Pers Mahasiswa. Penulis punya harapan besar di sana. Harapan itu antara lain; ingin menemukan "sesuatu" di Persma, tapi tidak ketemu. Lalu punya angan-angan besar diikuti oleh "komitmen" yang besar pula. Nah, komitmen yang besar ini kemudian menjadi sebuah tanggung jawab besar untuk menjadikan LPMnya benar. Kegagalan menunjukkan komitmen ini karena memang si penulis tak pernah dianggap ada. Disatu sisi komunikasi yang setara ala Habermas, atau intelektual progresif dalam LPM tersebut bukan lagi menjadi "nilai". Akhirnya kecewalah si penulis dengan Lembaga Pers Mahasiswa yang "sungguh-sungguh" dia cintai! Lalu si penulis mencari pelarian, namun pelarian yang "plin-plan" tidak punya sikap. Perdebatan batin yang sangat keras adalah penyebabnya. Hati-hati lho, bisa Gila! hehehehe ;)
Tanggapan saya;
- Si Penulis:
Menulis disini adalah sikap yang benar. Jangan takut bersikap kawan! Saya teringat satu kutipan artikel menarik "Cerita dari Lombok" yang ditulis oleh Mas Lukman (mantan Pimrem BPPM Balairung-UGM); "...orang yang bersikap (punya pilihan) kadang dibilang berlebihanlah, egoislah, sombonglah, terlalu berkoar-koarlah. Tapi anehnya, orang yang diam tidak bersikap dianggap bijaksana! Aneh. Kadang kita juga tidak rela orang lain tidak punya pilihan..." begitu kira-kira tulisnya. Teruslah jujur, jangan takut. Teruslah salah dan gagal, karena dia membuat kita dewasa. Beruntung kamu pernah salah, dan tau kesalahanmu. Serius! Kalau ndak mau, saya beli saja deh "kesalahanmu" itu. Berapa sih harganya? Ah, Soe Hok Gie juga pernah bilang ke saya; "lebih baik dikucilkan, dari pada menyerah pada kemunafikan". Tapi jangan Cuy, mari kita bangun relasi-relasi sosial yang sehat dan cerdas!
-LPM;
Inilah salah satu dinamika Pers Mahasiswa. Itu wajar, karena LPM sarat dengan kerja-kerja kultur. Tapi harus diingat, kerja-kerja kultur yang bisa mengakumulasi semuanya, dan menelorkan sesuatu. Yang terlupakan kadang masalah Pengaderan dan Pengembangan Pers Mahasiswa. Dulu waktu masa penerimaan mahasiswa baru, dengan gagahnya kita masuk ruang kelas. Sembari berkata; "Hey lihatlah ini aku sang aktifis kampus. Smart, Intelek dan Keren". Dan kita memamerkan keunggulan dan karya-karya LPM kita kepada mahasiswa baru.
Sesekali kita menyihir mereka dengan diskusi yang disetting agak berat agar terlihat sangar! "Kalau kalian masuk LPM, kaliah akan pandai berfilsafat seperti saya. Kalian akan pinter menulis seperti saya, lihat ini tulisan saya masuk koran nasional. Kalian akan jadi manusia cerdas, dan peka realitas sosial. Kalian dapat membekukan momen dengan belajar Fotografi" dan seabrek iming-iming lainnya.
Namun saat mereka bergabung di LPM, jadinya mereka merasa semacam "ditipu" oleh kakak-kakanya yang smart itu! Kenapa? Karena apa yang dijanjikan tidak diberikan. Tidak "difasiliasi" akibat mandeknya kultur yang seharusnya dibangun di Persma; membaca, menulis, dan diskusi. Akhirnya jadilah LPM yang "jijay". Mereka datang ke sekret hanya diam, tidur-tiduran, maen game, gosip, dan tidak bermanfaat apa-apa. Padahal realitas di luar sana, berteriak-teriak untuk ditulis. Budaya komunal yang harusnya dibangun untuk mendukung kerja-kerja persma yang sarat kultur tidak ada. Muncullah sikap dingin, rasa-rasanan (ini bahasa jawa), membicarakan teman satu atapnya di belakang, tidak mengenal secara emosional satu dengan yang lainnya. Tembok ruang redaksi kadang dicoret-coret; "malam ini aku sendiri, managis di pojok meratapi LPMku yang begini!" hahahaha! jijay to?
Aih, sudahlah! Mari menulis, membaca, dan diskusi! Mari kembangkan potensi kita di LPM; Jurnalistik, Fotografi, Layout, Advertising, Re-Seach, dan Wacana-Gerakan. Mana yang kamu suka, tekunilah! Dan "orang bukanlah apa yang dia inginkan, tapi apa yang dia kerjakan", lakukan sesukamu!
Oia, di WEB ini tidak dilarang menulis dan ber jijay ria! Yang bisa melarang itu hanya Negara (coba kalau berani!). Silahkan angkat tangan dan kami comment! Terus menulis ya!
Tag: LPPM Unlam
Terkait:
-
semua salahku (maaf)
Rabu, 30 Jun '10 01:31
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
sisca civitas: Bagus
-
Wahyu Eko P: Bagus
-
Rizki: Bagus
-
FF Haq: Bagus
Komentar:
ya sudahlah..
terlanjur keluar..
moga menjadi pembelajaran bagi semua...
knpa ya?
bnyk prtnyaan yg mau sya tnyakan ke mas fan...
setidaknya aku berusaha menghidupkan LPM ku tercinta....
NAIF..HAHAHA..
Silahkan login untuk memberikan pendapat