Muktamar Muhammadiyah dan Akses Pendidikan Berkualitas 3

Kamis, 1 Jul '10 18:49

 

Muktamar Muhammadiyah diadakan kembali di Jogja. Muktamar kali ini menjadi begitu spesial bukan hanya karena diadakan ditempat kelahiran Muhammadiyah tetapi juga karena usia organisasi masyarakat (Ormas) Islam pertama ini telah 100 tahun. Terlepas dari keistimewaan dan besarnya persiapan Muktamar kali ini, isi atau subtansi yang kelak akan dibahas adalah hal utama. Sesuai dengan temanya "Gerak Melintas Zaman" lantas seperti apakah gerakan Muhammadiyah kedepannya?

              Wilayah gerak Muhammadiyah yang paling kuat adalah pada bidang pendidikan. Sejak awal pendiri Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan menjadikan pendidikan sebagai media perjuangan utama. Pendidikan yang diusung Muhammadiyah mampu menyelaraskan nilai-nilai ajaran Islam dan Ilmu pengetahuan modern. Walaupun fokus pada pendidikan Agama Islam, pendidikan di Muhammadiyah mampu menyajikan ajaran Islam yang bisa berdamai dengan nasionalisme. Atas semua keunggulan itu, pendidikan yang disusung Muhammadiyah harus terus dipertahankan dan dikembangkan.

              Pada awalnya, Kyai Dahlan merintis pendidikan didasari oleh keperihatinan atas masih sangat sulitnya akses pendidikan terhadap masyarakat bawah pada saat itu. Namun perhatian terhadap nasib pendidikan orang kecil itu agaknya perlu dipertanyakan saat ini. Masyarakat umum telah meniali bahwa Sekolah dan Perguruan tinggi Muhammadiayah relatif mahal.

              Memang untuk menuju sebuah institusi pendidikan yang berkualitas, dana menjadi hal penting. Bagi instansi pendidikan swasta seperti pada Muhammadiyah, sumber dana utamanya adalah dari para peserta didik. Maka wajar jika ada alasan mahalnya biaya pendidikan di Sekolah atau Perguruan Tinggi Muhammadiayah adalah demi kualitas. Di sisi lain, semua itu menjadi terasa kurang sesuai jika mengingat cita-cita awal Kyai Dahlan agar seluruh lapisan masyarakat mendapatkan kases pendidikan yang berkualitas.

              Selama ini akses pendidikan masih diartikan sebagai penyebaran sekolah di tiap wilayah secara merata. Sampai saat ini jumlah Sekolah Muhammadiyah, sejak tingkat dasar sampai menengah  atas, sebanyak 7.307 buah. Jumlah Perguruan Tinggi Muhammadiyah sebanyak 168 buah. Sekolah dan perguruan tinggi tersebut tersebar pada 33 provinsi seluruh Indonesia. Dari sisi cakupan wilayah, instansi pendidikan Muhammadiyah telah terakses secara baik. Akantetapi, masalah pendidikan secara umum pada bangsa ini bukan lagi pada masalah cakupan wilayah. Masalah keterjangkauan biaya pendidikan berkualitaslah yang saat ini semakin membuat masyarakat bawah gundah.

Kebijakan pendidikan seperti penggalakan Rintisan Sekolah Berbasis Internasional (RSBI) membuat sekolah berkualitas semakin tak terjangkau. Sekolah yang telah berlabel RSBI membebankan biaya yang seolah mustahil bisa dijangkau oleh masyarakat kecil. Akhirnya anak-anak dari keluarga kurang mampu hanya bisa mengenyam pendidikan yang alakadarnya. Sebaliknya, yang dapat menikmati pendidikan berkualitas hanyalah orang mampu. Pada saatnya kelak, sumber ekonomi yang baik hanya dimiliki oleh orang dari keluarga kaya. Sedang mereka yang kurang mampu hanya akan mendapatkan sumber ekonomi yang buruk. Jurang antara si kaya dan si miskin seolah diperdalam oleh kebijakan pendidikan yang semacam itu.

Melihat kondisi pendidikan yang semacam itu, Muhammadiyah tidak boleh terbawa tren yang terjadi pada sekolah lain dengan RSBI tersebut. Pengertian pemerataan akses sebaiknya dimaknai sebagai perbaikan akses pendidikan yang berkualitas terhadap seluruh lapisan masyarakat. Jumlah Sekolah dan Perguruan Tinggi Muhammadiyah di berbagai wilayah bisa dianggap sudah sangat cukup. Tantangan yang harus dipecahkan Muhammadiyah adalah bagaimana untuk membuat sistem atau kebijakan yang memperluas akses pendidikan berkualitas bagi yang kurang mampu. Dengan pemerataan tersebut maka Muhammadiyah sebenarnya telah mampu menciptakan keadilan yang lebih luas. Pendidkan berkualitas adalah jalur mobilitas sosial yang paling mungkin bagi masyarakat kecil. Akses pendidikan berkualitas bagi masyarakat kecil harus dibahas secara mendalam pada Mukatamar nanti.

 

 


Tag: Muktamar Muhammadiyah

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

ikhwan 0 0
yah smoga saja..
Prayudha Magriby 0 0
Makna bukan pada tingkatan bahasa. Mencoba membahasakan sebuah pesan lewat kesederhanaan bahasa itu hal yang tak mudah. Pesan buat temen-temen, menulis adalah untuk berbagai pada sesama; bukan hanya simbol komptensi. Bahsa hanya kesepakatan akan makna, makna lebih sempurna ketika mampu diinternalisasi semua... Begitulah,
FF Haq 0 0
Muhammadiyah saja sudah mahal dan tidak terjangkau kok. : )

Silahkan login untuk memberikan pendapat