Di Sebelah Makam Soekarno (Chapter 3) 2
Selasa, 29 Jun '10 11:36
Selamat sore kuucapkan salam kepada Bapak Revolusi
Salam setengah merdeka!
Untuk kemerdekaan yang tidak gratis di tumpah darahku Indonesia
Saya datang lagi Bung Karno!
Saya datang untuk sedikit berbagi resah dengan Bung
Setidaknya sesama “mantan” pemimpin gerakan mahasiswa
Ya, sekarang saya sudah mantan! Tapi itu diberikan kepada saya kalau saya diundang sebagai pembicara di setiap kegaitan pers mahasiswa belakangan.
“dengan pembicara; Mantan…” begitu tulis mereka dalam setiap proposal atau undangan kegiatan
Saya lengser pada Kongres PPMI X di Kota Jember
Oh iya, Bedanya kita Bung, hanya;
Bung mantan Pemimpin Perkumpulan Indonesia waktu sekolah di Belanda,
Dan saya mantan Pemimpin Perhimpunan Pers Mahasiswa yang masih sekolah di Jember.
Perjuangan Bung dari penjara ke penjara,
Perjuangan saya dari lantai gerbong kereta, lorong-lorong dek kapal, sampai mobil bak terbuka.
Banyak wanita yang mencintai Bung,
Banyak wanita yang ogah dengan saya.
Bung bacakan Proklamasi,
Saya bacakan pernyataan sikap.
Bung berontak kepada penjajah,
Saya berontak kepada Negara (istilahnya juga penjajah, tapi yang satu ini beda Bung).
Bung setelah “dilengserkan” terpenjara dalam tahanan rumah,
Saya setelah “lengser” terpenjara dalam resah.
Bung sudah dikubur,
Saya masih hidup.
Dan persamaan kita Bung;
Kita sama-sama seorang Pria
Kita sama-sama ganteng (aih, yang ini jangan dianggap serius Bung)
Kita sama-sama berupaya menyatukan satu kesamaan dan rasa dalam keindonesiaan
Kita sama-sama suka menulis
Kita sama-sama mendefinisikan Indonesia dari lokalitas-lokalitas
Kita sama-sama punya kekuatan pada basis massa rakyat
Kita sama-sama cinta rakyat Indonesia
Dan, kita sama-sama cinta Indonesia, walaupun Indonesia tidak pernah jadi Indonesia.
Ah, Bung saya Cuma mau menyampaikan beberapa hal;
Pertama, Pers Mahasiswa semakin tidak menarik.
Kedua, mahasiswa saat ini cenderung hedonis, pragmatis , elitis, dan lupa dengan esensinya.
Ketiga, kelakuan kaum terpelajar (intelektual) semakin tidak manusiawi. Mereka tunduk takhluk pada penindasan yang Bung dan Saya sangat benci!
Keempat, berjuta kanak-kanak tak bisa sekolah, massa rakyat tak bisa Calistung (baca, tulis, hitung) sehingga mereka selalu dibodohi karena mamang dibuat bodoh. Pendidikan seperti barang dagangan!
Kelima, bulan Juli tahun ini (2010) semua kebutuhan dasar massa rakyat naik! Yang turun Cuma harga diri!
Keenam, sebenarnya banyak Bung yang mau saya sampaikan disini! Tapi saking banyaknya saya lupa, dan saya takut Bung juga lupa kalau dihafal semua! Segitu dulu ya Bung!
Oh Bung! Jangan bersedih, gak enak dilihat orang!
Saya juga sedih, tapi menurut saya kesedihan itu barang usang yang harus dibuang di belakang gudang!
Perjuangan itu pahit, karena surga itu manis Bung!
Nah, sekarang istirahat yang santai ya Bung! Nyantai wae!
Serahkan saja ke kami generasi saat ini, yang ditakdirkan hidup untuk saat ini.
Dikontrakan kami di Jember terpampang poster Bung diruang tengah dekat televisi. Awalnya ada dua Poster, milik Bung sendiri dan poster cantik Avril Lavigne. Tapi kami lebih memilih menurunkan poster Avril dari pada menurunkan poster Bung. Kenapa? Kami harap Bung bangga melihat kami dan selalu melihat juga mengawasi keresahan-keresahan kami disetiap aktifitas kami. Bung bangga melihat diskusi-diskusi kami tentang cinta (cinta Freudian dan Paltonis, cinta Marxian, cinta hidrolik, sampai cinta yang demokratis) dan hal-hal umum yang meresahkan, buku-buku kami, dan optimisme kami sebagai kaum muda terpelajar (intelektual) Indonesia.
Tapi, maaf Bung! Kalau Bung melihat kami bangun kesiangan, Bung melihat kami jarang kuliah bahkan tidak kuliah, Bung melihat kami suka nonton kartun Naruto atau Spongesbob, Bung melihat poster Sigmun Freud di bingkai rapi dari pada poster milik Bung (bukan saya pelakunya), bahkan Bung melihat kami gemar menuju Bangka 1 (full season) bermain PS, saat ada yamg merangsang “salam olah raga!”. Jangan dimasukkan dihati Bung! Anggaplah itu hanya hobi, hiburan atau selingan diwaktu penat datang! Bukankah disela perjuangan juga butuh hiburan Bung!
Oh iya Bung, saya ndak datang sendiri kesini, saya bawa banyak pemuda-pemudi (gak seberapa sih) yang militan, tangguh, dan aksektis kesini.
Eits! Tapi bukan sekadar membaca Al-Fateha dan berdoa khusyuk untuk Bung!
Bung pernah bilang; “berikan saya sepuluh pemuda, dan saya akan merubah dunia!”
Nah, sekarang saya bawa delapan pemuda-pemudi. Sembilan dengan saya. Oh iya lupa, nanti ada dua orang lagi yang nyusul kesini! Anggaplah sebelas pemuda-pemudi. Kami berkomitmen Bung, untuk terus resah dengan Indonesia. Saya harap Bung senang!
Saya pamit dulu Bung Karno, Bapak Revolusi!
Hormat saya! Sembah Nuwon!
Salam setengah merdeka!
Untuk kemerdekaan yang tidak gratis di tumpah darahku Indonesia
Blitar, 26 Juni 2010
Tag: bung karno, revolusi
Terkait:
-
Di Sebelah Makam Soekarno (Chapter 2)
Selasa, 29 Jun '10 11:34 -
Di Sebelah Makam Soekarno (Chapter 1)
Selasa, 29 Jun '10 11:32 -
Panggung Impian Revolusioner
Minggu, 21 Agu '11 04:12
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Wahyu Eko P: Bagus

Komentar:
tapi sayang kmu g ngajak saya ke rumah bung itu
memng kadang saya berpikir, berasal dari keresahanlah perubahan itu di lakukanhanya segini bung komentar saya, nnti bung bisa lanjut lagi.
mari bung rebut kembali.!!! heeeeeee
Silahkan login untuk memberikan pendapat