Di Sebelah Makam Soekarno (Chapter 1) 5

Selasa, 29 Jun '10 11:32

Permisi!

Halo Pak Soekarno!

Selamat Sore!

Saya duduk disini ya!

 

Perkanalkan nama saya Fandy Ahmad.

Saya lahir di Pinrang, sebuah kota kecil di punggung Pulau Sulawesi, pada tanggal 20 Maret 1988.

Pekerjaan Bapak Saya PNS di Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Pinrang, Prov. Sulawesi Selatan.

Kalau Ibu Saya wiraswasta saja.

Hobi saya, “meriset” apa saja.

Sekarang Saya kuliah di Jurusan IESP (Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan) Fakultas Ekonomi Universitas Jember, semester satu, angkatan 2005. Masuk disitu dengan jalur PMJK (Penerimaan Mahasiswa Jalur Khusus). Walaupun Bapak Saya pusing uang POMA (Persatuan Orang Tua Mahasiswa)-nya agak mahal, saya senang kuliah disitu. Karena di Jawa, kata Bapak Saya, ada bayak cakrawala baru disana. Dan Saya akan sungguh-sungguh kuliah.

Saya pernah tinggal di Kota Jayapura, Irian Jaya (sekarang Papua Pak!). Kira-kira umur dua tahun Saya diajak Bapak Hijrah kesana setelah beliau tamat Sarjana Hukum di UMI (Universitas Muslim Indonesia) Ujungpandang (sekarang Makassar Pak!) Sulawesi Selatan. Saya melewati masa kecil dari Taman Kanak-kanak (TK) sampai SMP kelas dua catur wulan kedua. Saya diajar oleh guru-guru yang merupakan orang Papua asli. Jadi karena mereka saya jadi pintar seperti sekarang ini. Jayapura penuh kenangan buat Saya Pak.

Kami pindah ke Pinrang lagi karena isu Papua merdeka, waktu itu terjadi kerusuhan di berbagai wilayah di Indonesia tahun 1998-1999. Di Pinrang saya pindah ke SMP Negeri 1 Pinrang, setelah lulus lanjut di SMA Negeri 1 Pinrang. Dan mendapat undangan PMJK dari tiga kampus, Universitas Jember salah satunya dan yang saat ini saya pilih.

Aduh Pak Soekarno! Saya sangat bangga dan terhormat bisa berziarah ke Makam Bapak. Jarang-jarang Pak ada orang Sulawesi yang sempat berkunjung ke Makam Pendiri Republik Indonesia! “Wah, makamnya besar ya! Memang pantas untuk orang besar seperti Pak Soekarno” kata Saya kepada teman Saya.

Oh iya Pak, pasti bapak bertanya-tanya, kenapa saya bisa sampai ke Blitar? Iya kan Pak?

Ceritanya menyedihkan sekaligus menyenangkan Pak.

Menyedihkannya dulu ya Pak. Karena ada peribahasa yang mengatakan “bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian”; Saya bisa terdampar sampai Blitar, karena tidak bisa pulang kampung merayakan Hari Raya Idul Fitri. Berkumpul dengan keluarga. Saya kehabisan tiket pesawat dan kapal laut Pak. Ya, begitulah nasib saya Pak, orang yang masih adaptasi dengan urusan-urusan administrative seperti itu. Saya juga belum begitu paham dengan Pulau Jawa; bahasanya, makanannya, tempat kosan yang murah, tempat-tempat bersejarah, sampai tempat belanjanya. Apalagi ngurusi tiket pulang Pak!

Cerita menyenangkannya; Saya punya teman sekamar di kosan yang baik, namanya Frani, Lengkapnya Alfrani Cahyo. Satu jurusan dan satu angkatan dengan Saya. Nah, dia ini Pak yang mengajak Saya ke Blitar untuk merayakan Idul Fitri bersama keluarganya disini. Bapaknya baik dan ramah, adek-adeknya juga baik semua. Apalagi Ibunya!

Saya ke Blitar naik sepeda motor dengan Frani. Sebelum saya ke Blitar Saya sempat sakit dan hampir mati! Serius Pak, hampir mati! Nyawa saya sudah setengah, karena tidak pernah makan selama sakit, entah penyakit saya apa. Sampai-sampai orang-orang yang ada dikosan, dari Bapak Kos (sekaligus ketua RT), Ibu Kos, Anak Kos (teman seangkatan saya juga), sampai anak-anak lain yang ngekos disitu dibuat geger dan repot akibat ulahku yang hampir mati karena sakit! Tapi orang Jawa memang baik, saya sangat dibantu (dilayani) hingga sembuh tak jadi mati. Ah, mudah-mudahan aku bisa membalas kebaikan mereka! Amien!

Saya dirumah Frani seperti di rumah sendiri. Masakan ibunya seperti masakan Ibuku dirumah. Saya yang awalnya tidak suka makan, jadi doyan makan karena enak sekali masakan Ibunya Frani. Jadi malu kalau sudah lihat makanan yang dihidangkan Ibu Frani, Saya makan sampai nambah dua porsi! Tapi Saya tetap saja kurus, dan tidak gemuk seperti kemarin. Pamannya itu juga baik, cerdas, dan kritis. Dia pernah menasehati aku agar menjadi mahasiswa yang baik, kritis, cerdas, dan manfaat. Yang saya tidak mengerti waktu dia bilang “mahasiswa saat ini sudah mengalami pergeseran nilai”. Sampai sekarang Saya disini, Saya tidak tahu maksudnya apa.

Saya juga diajak Frani keliling Kota Blitar, ternyata Kota ini indah ya Pak! Saya sudah ke Alun-alun kota, Istana Gebangnya pak Soekarno, Perpusnya Pak Soekarno, Waduk Wonorejo (kalau yang ini dekat malang Pak!), dan sekarang Saya disini.

Bapak Saya dirumah menyuruh Saya untuk masuk di Organisasi Mahasiswa. Saya sih pengennya di UKM Penalaran gitu Pak. Kalau di SMA dulu seperti Kelompok Ilmiah Remaja (KIR), Saya sering menjuarai lomba-lomba karya tulis mulai dari tingkat kabupaten, provinsi, sampai nasional (hanya finalis Pak!). Tapi sayangnya dikampus saya tidak ada UKM semancam ini. Nah, waktu Omaba (Orientasi Mahasiswa Baru) di kampus, ada UKM Kejurnalistikan, sepertinya saya tertarik. Yah, sekedar mengasah kemampuan menulis lah Pak. Bapak saya sih oke-oke saja.

Ambisi besar saya Pak, saya ingin lebih berprestasi lagi disini! Saya ingin menjuarai lomba-lomba karya tulis ilmiah mewakili kampus. Saya ingin menjadi lulusan tercepat, lulusan paling muda dengan IPK tertinggi saat wisuda nanti. Dan Bapak Saya akan tersenyum bangga melihat anaknya ini. Amien!

Sebenarnya masih banyak yang mau saya bilang ke Pak Soekarno! Tapi sepertinya Frani sudah kebelet mau pulang. Yah, sayang sekali ya pak! Saya janji deh, lain kali Saya berkunjung lagi ke sini Pak! Kalau ada waktu. Sudah dulu ya Pak! Saya bacakan Al-Fateha dan doa Khusyuk untuk Pak Soekarno!

 

Selamat Sore Pak Soekarno!

Merdeka!

 

Blitar, 2005

 


Tag: bung karno, revolusi

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

kailila 0 0
Ayah yang bijaksana.
Fandy Lasinrang 0 0
ha? aih...apa kadinya kalau anaknya tidak bijaksana...
siswo 0 0
koq puanjang banget ya...... titip salam buat pak karno ya mas!
Wahyu Eko P 0 0
heeee saya tegaskan sekali lagi sya suka tulisanmu pak.
tapi juga itu pak, saya g sempat ke makam pak karno

anda cerita pak, boleh dong saya juga sedikit bercerita, hee, begini ceritanya pak.

"dulu waktu saya masih di desa (jember selatan tepatnya), saya ingin menjadi seperti ronaldo (taukan pak, itu lho pemain sepak bola asal Brazil), pandai bermain sepak bola, terkenal dan mampu mengharumkan nama bangsanya. Tapi saya sadar pak, selama ini lingkungan mengajari saya bermain bulu tangkis. (gak jalur gtu lho mas). Saya suka pena mereka malah memaksa saya bermain catur. okelah saya gagal menjadi seperti Ronaldo.
yaahh, karena waktu saya komen ini mata sudah sulit bersahabat, bukan sengaja menyngkt crita sih pak.
selain saya ingin seprti Ronaldo, perlu pak ketaui saya orang yg paling g suka lho mlupkan moment, nah singkt saja ya pak, maka dari itu saya waktu kuliah ikut orgnisasi yg msih brbau tulis mnulis(ktkanlah jurnalisme), setelah saya tau bahwa penanda /petanda "tulisan lbih istimewa dri pda tuturan. heeee saya harus akui itu memang pak.!!
Fandy Lasinrang 0 0
saya tunggu karya km ya!

Silahkan login untuk memberikan pendapat